Jumat, 15 Mei 2026

ILO: Pasar Tenaga Kerja Merosot Tajam

Penulis : Iwan Subarkah
1 Nov 2022 | 07:57 WIB
BAGIKAN
Para wanita Afghanistan membawa keranjang berisikan bunga safron di sebuah ladang di pinggiran provinsi Herat pada 31 Oktober 2022. ( Foto: MOHSEN KARIMI / AFP )
Para wanita Afghanistan membawa keranjang berisikan bunga safron di sebuah ladang di pinggiran provinsi Herat pada 31 Oktober 2022. ( Foto: MOHSEN KARIMI / AFP )

JENEWA, investor.id - Perang di Ukraina dan berbagai krisis global berdampak pada pasar tenaga kerja di seluruh dunia. Dampaknya, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat ini sedang terjadi perlambatan tajam penciptaan lapangan kerja baru.

Dalam laporan baru di markasnya di Jenewa, Swiss, Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO mengingatkan bahwa prospek pasar tenaga kerja global telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

"ILO memproyeksikan bahwa jika tren saat ini berlanjut, pertumbuhan lapangan kerja global akan memburuk secara signifikan dalam tiga bulan terakhir tahun ini 2022, dan pengangguran mungkin mulai meningkat," kata Kepala ILO Gilbert Houngbo, yang dilansir AFP pada Senin (31/10/2022).

ADVERTISEMENT

Badan PBB tersebut juga mengingatkan bahwa berbagai krisis yang tumpang tindih, diperparah oleh perang di Ukraina, membebani dunia yang belum lepas dari cengkeraman pandemi Covid-19. Di tengah memburuknya krisis energi dan ketahanan panga, inflasi melonjak, pengetatan kebijakan moneter, dan kekhawatiran akan resesi global, penciptaan lapangan kerja dan kualitas lapangan kerjanya menurun.

"Meskipun biasanya dibutuhkan waktu sampai timbul perlambatan ekonomi atau resesi yang mengakibatkan hilangnya lapangan kerja dan pengangguran, data yang tersedia menunjukkan bahwa perlambatan tajam pasar tenaga kerja sudah berlangsung," kata ILO.

Pada awal tahun ini, saat dunia mulai pulih dari puncak pandemi, rasio lapangan kerja terhadap populasi di sebagian besar negara ekonomi maju, telah kembali ke atau bahkan melampaui level sebelum krisis Covid. ILO menyatakan peningkatan ini terutama terlihat pada pekerjaan berketerampilan tinggi. Tetapi hal itu juga didorong oleh lonjakan lapangan kerja informal, yang biasanya minim perlindungan sosial.

“Situasi telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Jam kerja secara keseluruhan adalah 1,5 persen di bawah tingkat pra-pandemi pada kuartal ketiga. Itu berarti defisit 40 juta lapangan kerja purna waktu,” tambah ILO.

Karena jumlah lapangan kerja yang tersedia menyusut, lonjakan inflasi menyebabkan upah riil turun di banyak negara. Karena banyak rumah tangga masih bergulat dengan penurunan pendapatan yang disebabkan oleh pandemi.

Laporan itu juga menyerukan dialog sosial yang mendalam untuk menciptakan kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk melawan penurunan pasar tenaga kerja. ILO juga mengingatkan bahwa pengetatan kebijakan yang berlebihan dapat menyebabkan dampak buruk tidak semestinya pada pasar tenaga kerja dan pendapatan di negara maju dan berkembang.

“Ada kebutuhan untuk memastikan bahwa pengetatan moneter untuk memerangi inflasi benar-benar sesuai dengan langkah-langkah sosial, sesuai dengan perlindungan sosial minimum," kata Houngbo.

Ia menggambarkan situasi ketenagakerjaan global saat ini sangat mengkhawatirkan. "Mencegah penurunan pasar tenaga kerja global yang signifikan, akan membutuhkan kebijakan yang komprehensif, terintegrasi dan seimbang baik secara nasional maupun global," ujar dia. 

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia