Shell Akuisisi Perusahaan Daur Ulang Minyak di Malaysia dan Indonesia
SINGAPURA, investor.id – Shell Eastern Petroleum, sebuah unit dari raksasa minyak Shell, mengatakan pihaknya telah mengakuisisi perusahaan daur ulang limbah minyak di Malaysia dan Indonesia. EcoOils yang berbasis di Asia itu akan membantu Shell memperluas produksi biofuel.
Sebagai informasi, biofuel adalah bahan bakar padat, cair, maupun gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik.
Perusahaan itu akan sepenuhnya mengambil alih anak perusahaan EcoOils di Malaysia dan 90% saham di anak perusahaannya di Indonesia melalui kesepakatan itu. Ini disampaikan Shell Eastern dalam pernyataan resmi, tetapi tidak mengungkapkan nilai investasinya.
“Akuisisi ini memberikan akses aman ke bahan baku canggih yang diakui, yang dapat digunakan di fasilitas biofuel Shell untuk memenuhi tujuan itu,” kata Sinead Lynch, wakil presiden senior untuk bahan bakar rendah karbon di Shell, Selasa (1/11).
EcoOils memiliki kapasitas produksi 65.000 ton per tahun minyak bumi bekas pemutihan, sejenis minyak daur ulang yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi bahan bakar nabati.
Bleaching earth adalah bahan tanah liat yang digunakan untuk menyerap kotoran selama proses pemurnian minyak sawit.
Divestasi Operator Ladang Gas di Filipina Rampung
Sementara itu, Shell telah menyelesaikan divestasi sahamnya di operator lapangan gas Malampaya Filipina, efektif 1 November 2022, katanya.
Penjualan tersebut akan memindahkan kendali penuh Shell Philippines Exploration BV, yang memiliki 45% saham operasional dan mengoperasikan ladang gas Malampaya, ke Malampaya Energy XP yang adalah anak perusahaan Prime Infrastructure Capital.
Anggota lain dari konsorsium kontrak layanan lapangan adalah anak perusahaan dari Udenna dan PNOC Exploration, yang masing-masing memiliki 45% dan 10%.
Shell Petroleum NV telah menandatangani perjanjian untuk menjual sahamnya di lapangan gas tersebut pada Mei 2021.
Ladang gas itu, yang ditemukan pada 1991, menyediakan bahan bakar untuk pembangkit listrik yang memasok sekitar seperlima dari kebutuhan listrik Filipina, menurut data Kementerian Energi. Tetapi output ladang gas itu menurun dan diperkirakan akan mengering pada 2027.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

