Menlu Paparkan Urgensi Forum Pendidikan Bagi Perempuan Afghanistan
NUSA DUA, investor.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi memaparkan sejumlah poin yang menjadi alasan di balik pentingnya gelaran International Conference on Afghan Women’s Education (ICAWE) yang digelar di Nusa Dua, Bali. Salah satunya adalah menggalang upaya internasional terkait hal ini.
“Terdapat lima alasan mengapa konferensi ini menjadi begitu penting. Yang pertama adalah untuk mendapatkan informasi terkini terkait situasi saat ini di Afghanistan,” kata Menlu, Kamis (9/12).
Poin yang kedua adalah untuk menegaskan kembali dukungan bagi semua masyarakat Afghanistan, tanpa terkecuali. Sementara poin ketiga adalah untuk menekankan dukungan terhadap hak perempuan, terutama pendidikan untuk perempuan.
“Yang keempat adalah untuk mengidentifikasi kesenjangan dan mengumpulkan sumber daya untuk mendukung pendidikan perempuan di Afghanistan,” tambah Retno.
Adapun poin terakhir adalah untuk merancang langkah ke depan.
Pertemuan tersebut menghadirkan menlu RI dan Wakil Menlu Qatar Lolwah Al-Khater sebagai co chair, untuk pertama kalinya.
Retno pun menjelaskan bahwa menurut laporan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perempuan atau UN Women, lebih dari 11 juta perempuan dan anak perempuan Afghanistan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Sementara itu, data dari UNDP mengatakan bahwa pembatasan-pembatasan terhadap perempuan dapat mengakibatkan kerugian sebesar US$ 1 miliar atau sebesar 5% dari produk domestik bruto (PDB) ekonomi Afghanistan.
“Dengan situasi seperti ini, kita tidak dapat memilih untuk tidak melakukan apa-apa,” ujarnya.
Selama sesi diskusi di pertemuan tersebut, ada tiga poin yang diajukan menlu untuk menjadi fokus pembicaraan.
Ketiga poin itu yakni untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk partisipasi perempuan di kehidupan masyarakat, memastikan adanya akses atas edukasi bagi semua, yang terakhir adalah mobilisasi dukungan internasional.
Pertemuan ICAWE sendiri telah menghasilkan dokumen Bali Message yang berisi 10 poin dan menjadi deklarasi bersama para peserta.
Berbagai pihak telah turut berpartisipasi, termasuk perwakilan-perwakilan negara, organisasi internasional, organisasi non pemerintah, filantropis, dan komunitas bisnis.
“Secara keseluruhan ada 38 negara, empat organisasi internasional, sembilan (lembaga non profit) NGO dan bisnis, serta sembilan figur perempuan yang penting serta akademisi. Ini menunjukkan upaya internasional bersama yang kuat,” simpulnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

