Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi Inggris Melambat Jadi 10,7% pada November

Penulis : Grace El Dora
14 Des 2022 | 15:24 WIB
BAGIKAN
Salju menutupi pepohonan dan perahu sempit di sepanjang Regent
Salju menutupi pepohonan dan perahu sempit di sepanjang Regent

LONDON, investor.id – Inflasi Inggris melambat pada November dari level tertinggi dalam 41 tahun pada Oktober, menurut data Rabu (14/12). Tetapi harga-harga masih tetap tinggi karena krisis biaya hidup memicu pemogokan di perekonomian seluruh dunia.

Indeks harga konsumen (CPI) turun menjadi 10,7% bulan lalu, kata Kantor Statistik Nasional (ONS) dalam sebuah pernyataan.

Itu turun dibandingkan dengan 11,1% di Oktober, yang merupakan level tertinggi sejak 1981. Ekspektasi pasar untuk pembacaan November sebesar 10,9%.

ADVERTISEMENT

Perlambatan moderat mengikuti penurunan harga bahan bakar motor, namun inflasi tetap tinggi karena melonjaknya tagihan energi dan makanan dalam negeri.

Data tersebut diterbitkan menjelang keputusan suku bunga dari bank sentral Inggris (BoE), yang secara luas diperkirakan akan memberikan kenaikan kesembilan berturut-turut karena regulator mencoba mengatasi kenaikan harga yang merajalela.

Itu juga terjadi ketika pemogokan menyebar ke seluruh ekonomi, dengan para pekerja memprotes gaji yang gagal mengimbangi inflasi yang tak terkendali.

“Meskipun secara historis masih pada tingkat tinggi, inflasi tahunan sedikit menurun pada November. Harga masih naik, tapi kurang dari kali ini tahun lalu, dengan contoh yang paling menonjol adalah bahan bakar motor,” kata kepala ekonom ONS Grant Fitzner, Rabu.

Menteri Keuangan Jeremy Hunt menyalahkan perang Presiden Rusia Vladimir Putin di Ukraina karena memicu harga energi yang sangat tinggi, ditambah pembukaan kembali dari pembatasan Covid-19.

“Gempa susulan dari Covid-19 dan senjata gas Putin berarti inflasi tinggi mengganggu ekonomi di seluruh Eropa, dan saya tahu keluarga dan bisnis sedang berjuang di sini di Inggris. Menurunkan inflasi sehingga upah orang lebih tinggi adalah prioritas utama saya,” kata Hunt.

“Saya tahu ini sulit bagi banyak orang saat ini, tetapi penting bagi kita untuk mengambil keputusan sulit yang diperlukan untuk mengatasi inflasi yakni musuh nomor satu yang membuat semua orang lebih miskin,” lanjutnya.

Sementara itu para ekonom memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga pinjaman utamanya dari 3,0% menjadi 3,5% pada Kamis (15/12), semakin menekan konsumen dengan meningkatnya biaya pinjaman.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia