Jumat, 15 Mei 2026

Hedge Fund Catat Kinerja Terburuk sejak 2018

Penulis : Jauhari Mahardhika
10 Jan 2023 | 21:54 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi perusahaan. (Pixabay)
Ilustrasi perusahaan. (Pixabay)

JAKARTA, investor.idHedge fund pada 2022 membukukan kinerja terburuk sejak 2018, terutama terseret oleh ekuitas karena manajer portofolio berjuang dalam menempatkan dananya di tengah gejolak pasar, sebut penyedia data industri HFR, yang dikutip pada Selasa (10/1/2023).

Secara keseluruhan, dana pengelola investasi global tersebut turun 4,25% tahun lalu, menurut HFRI 500 Fund Weighted Composite Index (Indeks Komposit Tertimbang Dana HFRI 500), yang melacak banyak kinerja hedge fund global terbesar.

Penempatan dana pada ekuitas mencatat kinerja terburuk pada 2022 di antara empat kategori yang dilacak oleh HFR. Meski demikian, kerugian sebesar 10,37% mereka masih lebih rendah dibandingkan indeks S&P 500, yang anjlok 19,4% atau terburuk sejak 2008.

ADVERTISEMENT

Adapun hedge fund yang digerakkan oleh peristiwa, termasuk pada merger atau restrukturisasi perusahaan, serta dana nilai relatif yang diperdagangkan pada dislokasi harga aset, juga mengakhiri tahun dengan kerugian masing-masing 5,04% dan 0,9%.

Sementara itu, dana lindung nilai kripto merosot 55,08%. Terlepas dari kerugian besar mereka, hedge fund kripto menyumbang sebagian kecil dari aset industri senilai US$ 3,8 triliun.

Ketika manajer portofolio ekuitas dan kripto menghadapi tantangan tahun lalu, investor hedge fund menemukan titik terang untuk mendapatkan pengembalian. Sebab dana lindung nilai makro berkinerja lebih baik, menurut HFR. Indeks Makro HFRI naik 9,31%, terutama didorong oleh komoditas.

"Investor perlu melihat lebih dalam lagi untuk memahami kinerja tahun lalu. Hedge fund jangka pendek adalah bagian aset tertimbang terbesar dari industri ini," kata Patrick Ghali, mitra pengelola perusahaan penasihat dana lindung nilai Sussex Partners. "Secara keseluruhan, saya percaya ini adalah tahun yang baik untuk hedge fund," sambungnya.

Dana lindung nilai makro memperdagangkan berbagai aset secara global, seperti obligasi, mata uang, suku bunga, saham, dan komoditas. Hal ini memungkinkan mereka untuk menempatkan dananya dengan cerdas di tengah dispersi harga aset yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga dan lonjakan inflasi.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 22 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia