Bank Dunia: Pertumbuhan Global 2023 Bisa Melambat, Hampir Mendekati Resesi
WASHINGTON, investor.id – Pertumbuhan global melambat “hampir mendekati” resesi, kata Bank Dunia. Lembaga internasional tersebut memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi 2023 karena inflasi tinggi, kenaikan suku bunga, dan serangan Rusia ke Ukraina.
Ekonom telah memperingatkan kemerosotan ekonomi dunia, karena negara-negara berjuang melawan biaya yang melonjak dan bank sentral secara bersamaan menaikkan suku bunga untuk mendinginkan permintaan. Sementara itu, kondisi keuangan yang memburuk di tengah gangguan yang sedang berlangsung dari perang di Ukraina.
Perkiraan terbaru Bank Dunia menunjukkan “perlambatan yang tajam dan bertahan lama” dengan pertumbuhan dipatok pada 1,7% tahun ini. Angka ini kira-kira hanya setengah dari kecepatan yang diprediksi pada Juni 2022, kata laporan Prospek Ekonomi Global terbaru bank tersebut.
Ini adalah salah satu tingkat terlemah yang terlihat dalam hampir tiga dekade, hanya dibayangi oleh penurunan akibat pandemi pada 2020 dan krisis keuangan global pada 2009.
“Mengingat kondisi ekonomi yang rapuh, setiap perkembangan baru yang merugikan ... dapat mendorong ekonomi global ke dalam resesi,” kata pemberi pinjaman pembangunan yang berbasis di Washington itu, Selasa (11/1).
Ini termasuk inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, lonjakan suku bunga yang tiba-tiba untuk menahan kenaikan harga, atau kebangkitan pandemi.
“Saya prihatin, sangat prihatin bahwa pelambatan dapat berlanjut,” kata Presiden Bank Dunia David Malpass.
Bisa Menghancurkan
Di Amerika Serikat (AS), pertumbuhan kemungkinan akan melambat menjadi 0,5% pada 2023, jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Sementara kawasan euro menuju garis datar karena memerangi gangguan pasokan energi dan kenaikan harga terkait serangan Rusia.
Tiongkok diperkirakan tumbuh 4,3% tahun ini, 0,9 poin di bawah ekspektasi sebelumnya, sebagian karena gangguan pandemi dan kelemahan sektor properti.
“Prospeknya sangat menghancurkan bagi banyak ekonomi termiskin, di mana pengentasan kemiskinan telah terhenti,” kata Malpass.
“Negara-negara berkembang dan sedang berkembang menghadapi periode beberapa tahun pertumbuhan yang lambat, didorong oleh beban utang yang berat dan investasi yang lemah,” tambahnya.
Sementara Bank Dunia telah mendorong proses restrukturisasi utang yang lebih cepat, kemajuan tetap terhenti, tambah presiden Bank Dunia tersebut.
Perlambatan berbasis luas dan pertumbuhan yang lemah belum menandai resesi, kata Ayhan Kose, kepala unit perkiraan Bank Dunia.
Namun dalam waktu dekat Bank Dunia mengawasi kemungkinan tekanan keuangan jika suku bunga naik lebih tinggi di tingkat global, katanya, dilansir dari AFP.
Ia yakin jika ini terjadi dan inflasi tetap bertahan, bisa memicu resesi global. Dan jika kondisi pembiayaan semakin ketat, kemungkinan akan ada lebih banyak krisis utang tahun ini, katanya memperingatkan.
Hambatan Semakin Dalam
Bank-bank sentral termasuk Federal Reserve (Fed) AS telah menaikkan suku bunga selama setahun terakhir untuk melawan inflasi, tetapi hambatan pada ekonomi akan semakin dalam karena kebijakan mulai berlaku, kata Bank Dunia.
“Tiga mesin pertumbuhan utama dunia (yakni) Amerika Serikat, kawasan euro, dan Tiongkok sedang mengalami periode pelemahan yang nyata, dengan pengaruh yang merugikan bagi pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang,” tambah bank tersebut.
Untuk saat ini, inflasi telah meningkat yang didorong oleh dukungan era pandemi, guncangan pasokan, dan dalam beberapa kasus disebebkan depresiasi mata uang relatif terhadap dolar AS.
Di antara daerah yang paling terpukul adalah Afrika Sub Sahara, yang menyumbang sekitar 60% dari negara yang sangat miskin di dunia.
Pertumbuhan pendapatan per kapita tahun ini dan tahun depan diperkirakan rata-rata hanya 1,2%. “Tingkat yang dapat menyebabkan tingkat kemiskinan naik, bukan turun,” kata Bank Dunia.
Laporan tersebut juga menandai tantangan yang dihadapi oleh negara-negara kecil dengan populasi 1,5 juta atau kurang dari itu, yang sangat terpukul oleh pandemi.
Mereka sering juga mengalami kerugian terkait bencana iklim rata-rata sekitar 5% dari produk domestik bruto (PDB) per tahun, kata bank tersebut.
“Mengingat kemungkinan yang lebih tinggi dari jenis bencana alam ini, kita perlu memperhitungkan risiko yang lebih sering terjadi,” tegas Kose.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler






