IEA: Zaman Baru Energi Bersih, Nilainya Bisa 3 Kali Lipat di 2030
PARIS, investor.id – Dunia berada pada fajar era industri baru manufaktur teknologi energi bersih. Nilainya akan naik tiga kali lipat pada 2030 dan menciptakan jutaan lapangan kerja, kata Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Kamis (12/1).
Pasar global untuk teknologi utama yang diproduksi secara massal termasuk panel surya, turbin angin, baterai kendaraan listrik, pompa panas, dan elektroliser untuk hidrogen akan bernilai sekitar US$ 650 miliar per tahun pada akhir dekade ini, prediksi IEA dalam sebuah laporan.
Angka tersebut lebih dari tiga kali lebih besar dari level saat ini tetapi tergantung pada negara-negara yang sepenuhnya menerapkan janji energi dan iklim mereka, tambahnya.
Pekerjaan terkait dalam manufaktur energi bersih akan meningkat lebih dari dua kali lipat dari enam juta menjadi hampir 14 juta pada 2030, kata agensi tersebut.
“Dunia energi berada di awal era industri baru, era manufaktur teknologi energi bersih,” kata IEA, Kamis.
Tetapi organisasi yang berbasis di Paris, Prancis itu memperingatkan konsentrasi ekstraksi sumber daya dan manufaktur menimbulkan risiko pada rantai pasokan.
Tiga negara menyumbang 70% dari kapasitas manufaktur untuk teknologi surya, angin, baterai, eletrolyser, dan pompa panas. “Tiongkok dominan di semuanya,” katanya.
Republik Demokratik Kongo menghasilkan lebih dari 70% kobalt dunia. Tiga negara yakni Australia, Cile, dan Tiongkok menyumbang lebih dari 90% produksi lithium global, sumber utama baterai kendaraan listrik.
Ketegangan rantai pasokan berisiko membuat transisi energi menjadi lebih sulit dan mahal, tambah laporan itu.
Pertama, kenaikan harga kobalt, litium, dan nikel pada 2022 menyebabkan kenaikan harga global baterai kendaraan listrik hampir 10%.
Biaya membangun turbin angin di luar Tiongkok juga merangkak naik setelah bertahun-tahun mengalami penurunan harga, sementara tren serupa memengaruhi panel surya.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mendesak negara-negara untuk mendiversifikasi rantai pasokan. Ia membahas ketergantungan Eropa pada gas Rusia, sebagai contoh utama potensi gangguan yang disebabkan oleh ketergantungan yang berlebihan pada satu sumber perdagangan.
“Seperti yang telah kita lihat dengan ketergantungan Eropa pada gas Rusia, ketika Anda terlalu bergantung pada satu perusahaan, satu negara, atau satu rute perdagangan, Anda berisiko membayar mahal jika ada gangguan,” katanya.
Birol juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional. “Karena tidak ada negara yang merupakan pulau energi dan transisi energi akan lebih mahal dan lambat jika negara tidak bekerja sama,” lanjutnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






