Jumat, 15 Mei 2026

Korsel Naikkan Suku Bunga Lagi di Tengah Kekhawatiran Ekonomi

Penulis : Grace El Dora
13 Jan 2023 | 11:45 WIB
BAGIKAN
Pembeli sedang menelusuri toko-toko makanan ringan di distrik perbelanjaan Myeongdong di Seoul, Korea Selatan ( Korsel), pada 22 Januari 2020. (Foto: Jung Yeon-je / AFP)
Pembeli sedang menelusuri toko-toko makanan ringan di distrik perbelanjaan Myeongdong di Seoul, Korea Selatan ( Korsel), pada 22 Januari 2020. (Foto: Jung Yeon-je / AFP)

SEOUL, investor.id – Bank sentral Korea Selatan (BoK) menaikkan suku bunga untuk kesepuluh kalinya dalam 18 bulan terakhir sebagai bagian dari upayanya untuk menjinakkan inflasi. Pihaknya memilih opsi ini meskipun ada kekhawatiran atas perlambatan ekonomi.

Langkah ini sejalan dengan bank sentral lain yang masih berjuang untuk mengendalikan harga, melonjak tahun lalu setelah serangan Rusia ke Ukraina. Hal ini telah membuat biaya energi dan makanan melonjak, sementara rantai pasokan terganggu saat kebijakan nol kasus Covid-19 menghantam Tiongkok.

BoK menaikkan biaya pinjaman 25 basis poin (bps) menjadi 3,50%, tertinggi sejak 2008, menjadi kenaikan kedelapan sejak Januari 2021.

ADVERTISEMENT

“(Kenaikan itu) diperlukan untuk memastikan stabilitas harga, karena inflasi masih tetap tinggi dan diproyeksikan berada di atas level target untuk waktu yang cukup lama,” kata BoK dalam pernyataan resminya.

“Dewan menganggap perlu mempertahankan sikap kebijakan restriktif dengan penekanan pada memastikan stabilitas harga, karena inflasi diperkirakan akan tetap tinggi di atas tingkat target, meskipun tingkat pertumbuhan ekonomi domestik telah melambat,” jelasnya.

Kenaikan suku bunga bank sebagian didorong oleh kebutuhan untuk mengimbangi Federal Reserve (Fed), mencegah arus keluar modal asing, dan menstabilkan mata uang won lokal yang jatuh ke level terendah 13 tahun tahun lalu sebelum bangkit kembali.

“Ke depan, dewan melihat pertumbuhan ekonomi global dan pasar keuangan global kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh laju perlambatan inflasi global, perubahan kebijakan moneter di negara-negara besar dan tren dolar Amerika Serikat (AS),” kata pernyataan tersebut.

Inflasi konsumen, yang mencapai 5% pada Desember, terus menjadi perhatian utama BoK. Bank sentral tersebut memproyeksikan kenaikan harga akan berada di sekitar level tersebut hingga akhir Februari 2023, namun akan melemah menjadi 3,6% akhir tahun ini.

Namun proyeksi tersebut dapat berubah mengingat ketidakpastian ekonomi, termasuk laju perlambatan di dalam dan luar negeri.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia