Jumat, 15 Mei 2026

IEA Harapkan Rusia Kalah dalam Pertempuran Energi karena Sulit Ekspor

Penulis : Grace El Dora
18 Jan 2023 | 22:14 WIB
BAGIKAN
Pemandangan pom bensin produsen minyak Rusia Gazprom Neft dan bangunan tempat tinggal bertingkat tinggi yang sedang dibangun di Moskow, Rusia pada 12 Januari 2023. (Foto: Natalia KOLESNIKOVA / AFP)
Pemandangan pom bensin produsen minyak Rusia Gazprom Neft dan bangunan tempat tinggal bertingkat tinggi yang sedang dibangun di Moskow, Rusia pada 12 Januari 2023. (Foto: Natalia KOLESNIKOVA / AFP)

DAVOS, investor.id – Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol yakin Rusia akan kalah dalam perang energinya dengan Barat. Ia mengatakan pembelian minyak mentah oleh Tiongkok dan India kemungkinan akan gagal mengimbangi penurunan pengiriman ke Eropa.

“Eropa mengalami masalah ekonomi yang besar. Tetapi bagi Rusia, Eropa adalah klien yang sangat, sangat penting,” kata Birol kepada Joumanna Bercetche dari CNBC di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss pada Rabu (18/1).

Pekan lalu, analisis independen dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih menunjukkan pendapatan dari ekspor bahan bakar fosil Rusia anjlok pada Desember 2022. Hal ini secara signifikan menghambat kemampuan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membiayai perang di Ukraina.

ADVERTISEMENT

Laporan lembaga pemikir Finlandia menemukan bulan pertama larangan Uni Eropa (UE) atas impor minyak mentah Rusia melalui laut dan batas harga yang diterapkan negara G7 telah merugikan Rusia sekitar 160 juta euro (US$ 173,4 juta) per hari.

Dikatakan bahwa langkah-langkah negara Barat sebagian besar bertanggung jawab atas penurunan 17% pendapatan Rusia dari ekspor bahan bakar fosil pada bulan terakhir tahun lalu. Seorang juru bicara Kementerian Keuangan Rusia tidak menanggapi ketika diminta untuk mengomentari temuan laporan tersebut.

Birol menggambarkan Rusia sebagai “pengekspor energi nomor satu ke dunia” sebelum serangan besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Sekitar 75% dari ekspor gas Rusia dan 55% dari ekspor minyaknya pergi ke Eropa, kata Birol, sebelum UE berusaha untuk segera melepaskan diri dari bahan bakar fosil Rusia.

“Jadi, mencari klien gas dan minyak dengan begitu mudahnya menggantikan Eropa akan sangat sulit,” ujarnya.

“Saya tahu ada beberapa negara di Asia, (seperti) Tiongkok dan India, yang diuntungkan dari situasi ini, dan mereka membeli banyak minyak Rusia. Tetapi saya akan sangat berhati-hati untuk percaya impor negara-negara tersebut akan, baik dalam hal volume maupun pendapatan, digabungkan dengan apa yang dilakukan Eropa,” tambah Birol.

“Rusia akan menghadapi kesulitan besar baik untuk ekspor minyak dan gas dan, dalam pandangan saya, ketika kita melihat beberapa kuartal dan tahun ke depan, Rusia akan kalah dalam pertarungan energi,” kata Birol.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia