Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi Harga Grosir AS Rebound di Atas Perkiraan

Penulis : Grace El Dora
17 Feb 2023 | 09:49 WIB
BAGIKAN
Pelanggan berbelanja alpukat di toko Costco pada 10 Februari 2023 di Novato, California, Amerika Serikat (AS). (Foto: Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Pelanggan berbelanja alpukat di toko Costco pada 10 Februari 2023 di Novato, California, Amerika Serikat (AS). (Foto: Justin Sullivan/Getty Images/AFP)

WASHINGTON, investor.id – Inflasi grosir di Amerika Serikat (AS) meningkat lebih dari yang diharapkan pada Januari 2023, menurut data Departemen Tenaga Kerja yang dirilis Kamis (Jumat pagi WIB). Indeks ini terbentur oleh biaya barang dan didorong oleh harga bensin yang lebih tinggi.

Ini terjadi karena regulator mencari tanda-tanda inflasi akan turun dalam jangka panjang, meskipun ketahanan di beberapa sektor ekonomi.

Untuk mengendalikan lonjakan harga, bank sentral AS menaikkan suku bunga beberapa kali tahun lalu dengan harapan mendinginkan permintaan. Sementara itu, industri perumahan yang sensitif merosot terhadap suku bunga.

ADVERTISEMENT

Aktivitas manufaktur di kawasan industri Philadelphia yang padat mengalami kontraksi selama enam bulan berturut-turut pada Februari 2023, dalam laporan terpisah yang dirilis Kamis (16/2), mencatat angka terendah sejak Mei 2020 selama pandemi.

Tetapi indeks harga produsen (PPI), ukuran inflasi grosir, melambung 0,7% pada Januari 2023 dari Desember 2022 dengan kecepatan yang lebih cepat dari perkiraan analis.

Secara tahunan, PPI naik 6,0% bulan lalu, turun dari pembacaan Desember 2022.

Kenaikan harga barang memimpin kenaikan Januari 2022, kata Departemen Tenaga Kerja. Lembaga tersebut menambahkan, faktor signifikan adalah harga bahan bakar minyak (BBM). Harga energi juga berkontribusi terhadap peningkatan inflasi konsumen Januari 2023.

“Sementara harga produsen turun dari puncaknya, inflasi meningkat dan perubahan harga bulanan menunjukkan pergerakan ke arah yang salah bulan lalu,” kata kepala ekonom AS di High Frequency Economics Rubeela Farooqi, Jumat (17/2).

“Data ini akan membuat (Federal Reserve) tetap pada jalurnya untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut ... agar inflasi kembali ke target 2%,” imbuhnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia