Kamis, 14 Mei 2026

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T

Penulis : Iwan Subarkah Nurdiawan / Abdul Aziz / Totok Subagyo / Hari Gunarto
24 Feb 2023 | 13:34 WIB
BAGIKAN
Warga berjalan melewati gedung-gedung yang hancur setelah aksi penembakan di pusat Kharkiv, beberapa waktu lalu, dalam invasi Rusia ke Ukraina. ( Foto: Sergei Chuzavkov/AFP)
Warga berjalan melewati gedung-gedung yang hancur setelah aksi penembakan di pusat Kharkiv, beberapa waktu lalu, dalam invasi Rusia ke Ukraina. ( Foto: Sergei Chuzavkov/AFP)

JAKARTA, investor.id – Perang Rusia vs Ukraina yang Jumat ini (24/2/2023) genap setahun telah merugikan ekonomi dunia lebih dari US$ 1,6 triliun atau setara Rp 24.330 triliun pada tahun lalu.

Kerugian produksi global dapat mencapai US$ 1 triliun lagi atau lebih pada 2023, jika perang berkepanjangan. Hal itu terungkap dari hasil penelitian German Institute of Economics, seperti dilansir Anadolu Agency.

Sementara itu, kalangan ekonom Indonesia menyebut bahwa perang berkepanjangan Rusia-Ukraina akan menyulut hiperinflasi yang membuat bank-bank sentral global memperlama periode bunga tinggi. Hal ini akibat berlanjutnya kenaikan harga energi dan pangan.

ADVERTISEMENT

Sedangkan Indonesia di satu sisi diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas karena ekspor utama didominasi batu bara, CPO, dan mineral. Meskipun, Indonesia juga terimbas negatif karena impor minyak.

German Institute mengkalkulasi kerugian ekonomi US$ 1,6 triliun tersebut menggunakan model penghitungan yang didasarkan pada produk domestik bruto (PDB). Prakiraan dari Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi dasar perhitungan dan estimasi.

Pada penelitian itu, perkembangan aktual PDB 2022 dan perkiraan 2023 dibandingkan dengan hasil pada akhir 2021, jika tidak terjadi perang di Ukraina awal tahun berikutnya.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Asap hitam mengepul setelah penembakan di Bakhmut, Ukraina pada 3 Februari 2023 di tengah serangan Rusia ke Ukraina. (FOTO: YASUYOSHI CHIBA / AFP)

German Institute of Economics menyatakan, perang Rusia vs Ukraina telah menyebabkan gangguan pasokan dan produksi di seluruh dunia. Selain itu, harga energi telah meroket. Inflasi meningkat tajam di mana-mana sehingga mengurangi daya beli konsumen.

"Akibat kenaikan biaya-biaya akibat kenaikan suku bunga di seluruh dunia dan kenaikan biaya barang modal, perusahaan di seluruh dunia menangguhkan investasi," demikian diungkap lembaga tersebut.

Dampak ekonomi dari perang itu telah dirasakan dari Eropa hingga Afrika. Sebelum perang, negara-negara Uni Eropa (UE) mengimpor hampir separuh gas alam dan sepertiga minyak dari Rusia. Akibat invasi Rusia dan sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia, membuat harga energi melonjak ke level tertinggi sejak 1970-an.

Perang tersebut juga mengganggu perdagangan global yang masih belum pulih dari pandemi Covid-19. Harga makanan melonjak, karena Rusia dan Ukraina adalah pemasok utama gandum dan minyak bunga matahari, dan Rusia adalah produsen pupuk terbesar dunia.

Namun, tren kenaikan harga energi dan pangan telah mereda dan laju inflasi sekarang dalam tren perlambatan. Sehingga The Federal Reserve (The Fed) telah mengurangi laju penaikan suku bunganya, kembali ke besaran normal 25 basis poin.

Ada beberapa faktor yang membuat dampak perang itu tidak sampai menimbulkan kiamat ekonomi. Musim dingin yang ‘hangat’ telah membantu menurunkan harga gas alam dan membatasi dampak akibat krisis energi, setelah Rusia memangkas sebagian besar aliran gas ke Eropa.

Tapi di Eropa, harga gas alam masih tiga kali lebih tinggi dibandingkan sebelum Rusia memulai invasi. Harga makanan yang tinggi sangat sulit bagi orang miskin. Perang telah memengaruhi ekspor gandum, jelai, dan minyak goreng dari Ukraina dan Rusia.

Kedua negara yang berperang tersebut adalah pemasok utama untuk Afrika, Timur Tengah, dan sebagian Asia. Rusia juga merupakan pemasok utama pupuk.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Tank Ukraina menembaki posisi Rusia di dekat Kreminna, wilayah Lugansk pada 12 Januari 2023 di tengah serangan Rusia ke Ukraina. (Foto: Anatolii Stepanov / AFP)

Di Nigeria, selaku pengimpor utama gandum Rusia, harga pangan rata-rata naik 37% tahun lalu. Di Spanyol, pemerintah membelanjakan 300 juta euro untuk membantu petani membeli pupuk. Harga pupuk di Negeri Matador telah naik dua kali lipat sejak invasi Rusia di Ukraina.

Dalam analisis ekonomi terakhirnya untuk Eropa dan Asia Tengah pada Oktober tahun lalu, Bank Dunia menyatakan perang di Ukraina telah meredupkan prospek pemulihan ekonomi pasca-pandemi untuk negara-negara berkembang dan pasar berkembang di kawasan tersebut.

Perekonomian Ukraina diproyeksikan kontraksi 35% tahun lalu karena kegiatan ekonomi terganggu oleh penghancuran kapasitas produksi, kerusakan lahan pertanian, dan berkurangnya pasokan tenaga kerja karena lebih dari 14 juta orang diperkirakan telah mengungsi.

Menurut perkiraan Bank Dunia, kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi di seluruh sektor sosial, produktif, dan infrastruktur di Ukraina sedikitnya US$ 349 miliar.

Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann mengatakan, ekonomi global sedang menghadapi tantangan serius. Selain masih menghadapi krisis energi, risiko pertumbuhan global yang lebih rendah, inflasi tinggi, dan melemahnya kepercayaan, tingkat ketidakpastian yang tinggi membuat navigasi ekonomi untuk keluar dari krisis menjadi sulit.

Namun, tetap ada perkembangan yang menggembirakan. Ekonomi global telah menunjukkan tanda-tanda resiliensi sepanjang musim dingin yang lalu. Aktivitas bisnis di AS, zona euro, dan Inggris meningkat pada Februari 2023.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Warga negara Rusia yang direkrut sebagai bagian dari mobilisasi parsial menghadiri pelatihan tempur di tempat pelatihan Republik Rakyat Donetsk (DPR) yang diproklamirkan sendiri saat perang Rusia-Ukraina berlanjut di Donetsk, Ukraina pada 5 Oktober 2022. (Foto: Anadolu Agency / Getty Images)

Hasil survei S&P Global itu semakin memperkuat sinyal bahwa ekonomi global solid sehingga kemungkinan mengurangi risiko terjadinya resesi global tahun ini. S&P Global mengatakan indeks aktivitas bisnis barang dan jasa di AS naik menjadi 50,2 pada Februari 2023 atau tertinggi dalam delapan bulan.

Data terbaru menunjukkan AS memulai 2023 dengan ledakan aktivitas ekonomi. Lapangan kerja baru non-pertanian bertambah sebanyak 517.000 pada Januari 2023 atau yang terbesar sejak Juli tahun lalu. Mendinginnya inflasi dan upah yang terus naik mendorong pendapatan riil dan mendukung belanja konsumen.

IMF bulan lalu menaikkan proyeksi pertumbuhan global tahun ini menjadi 2,9%, dari 2,7% dalam proyeksi Oktober 2022. IMF juga menyatakan peluang terjadinya resesi lebih kecil.

Indeks PMI komposit untuk zona euro naik menjadi 52,3 pada Februari, naik dibandingkan ekspansi 50,3 pada Januari. Di Inggris Raya, PMI komposit melonjak menjadi 53,0 dari 48,5 untuk mencapai level tertinggi dalam delapan bulan.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Tentara Ukraina berjalan di jalan menuju markas mereka di dekat garis depan wilayah Donetsk, Ukraina pada 4 Februari 2023, di tengah serangan Rusia ke Ukraina. (FOTO: YASUYOSHI CHIBA / AFP)

Deglobalisasi

Chief Economist & Direktur Investor Relations Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat menyatakan, dampak perang Rusia-Ukraina tahun lalu menyebabnya rally stagflasi karena kenaikan harga energi. Kenaikan itu menjadi berkah sekaligus bencana bagi Indonesia.

Berkah karena karena harga batu bara naik luar biasa. Hal itu membuat laba emiten batu bara laba berkibar.

“Bagi pemerintah, lonjakan harga batu bara membuat setoran pajak dan royalti naik tajam. Dana itu bisa untuk memperkuat subsidi BBM sehingga harga tidak melonjak dan bisa melindungi masyarakat,” kata dia.

Namun kenaikan harga energi, terutama minyak, membuat Indonesia juga menderita. Sebab, impor minyak dan BBM Indonesia sangat tinggi.”Banyak yang tidak tahu bahwa tahun lalu, defisit minyak kita terparah sepanjang sejarah,” ujarnya.

Budi Hikmat berpendapat, kombinasi meningkatnya tensi geopolitik dan pandemi Covid telah memicu terjadinya deglobalisasi. Selama ini, globalisasi memberikan dividen berupa inflasi rendah. Deglobalisasi yang mendisrupsi rantai pasok global membuat hiperinflasi di sejumlah negara.

Selain itu, deglobalisasi dan pandemi menyebabkan labor market immobilitiy, yakni terkendalanya mobilitas pekerja antarnegara. Tak heran jika Amerika Serikat kekurangan tenaga kerja dari Meksiko dan negara-negara Amerika Latin.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Gambar udara ini menunjukkan kendaraan lapis baja Rusia yang terbakar di pinggiran Kyiv, Ukraina pada 1 April 2022, di tengah serangan Rusia ke Ukraina. (Foto: Ronaldo SCHEMIDT / AFP)

Budi Hikmat juga menyebut bahwa pengetatan yang ditempuh oleh Bank Sentral AS (The Fed) akibat lonjakan inflasi telah mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS. Hal itu telah mendorong kenaikan yield obligasi di seluruh dunia.

Alhasil, kata Budi, hal itu membuat banyak negara terperosok ke krisis utang karena biaya utang yang melambung. “Banyak yang terjebak dalam sovereign debt crisis. Inggris misalnya, biaya utang melonjak hingga tiga kali lipat,” kata Budi.

Itulah sebabnya, dengan ketidakjelasan kapan perang berakhir, Pemerintah Indonesia harus piawai dalam mengendalikan dan mengelola manajemen makro, baik itu fiskal dan moneter sebagai anchor, juga kebijakan strategis lain seperti hilirisasi.

Indonesia Diuntungkan

Sedangkan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro berpendapat, dampak perang Rusia-Ukraina menyulut kenaikan inflasi tinggi di berbagai negara terutama yang tidak memiliki sumber daya alam (SDA) atau energi. Selain itu, kombinasi antara kenaikan harga energi dan pemulihan belanja pascapandemi membuat bank sentral merespons dengan kenaikan suku bunga yang agresif.

“Dampak berikutnya adalah turunnya perekonomian global akibat kenaikan suku bunga acuan yang agresif, dan beberapa negara akan mengalami resesi,” kata Andry.

Bagi negara yang memiliki SDA, termasuk batu bara dan CPO, akan diuntungkan karena kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi. Contohnya Indonesia yang ekonominya sangat tergantung pada sektor komoditas. Harga batu bara sempat di atas US$ 400 per ton.

“Harga komoditas yang meningkat mendorong peningkatan neraca perdagangan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,3% di 2022,” tuturnya.

Jika perang berlanjut, lanjut Andry, dampak lanjutannya adalah harga pangan dunia akan sangat tinggi dan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga lebih agresif. “Kabar buruk bagi Indonesia, karena krn daya beli bisa terganggu,” kata Andry.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Sanksi Eropa untuk mengurangi pendapatan minyak Rusia mengingat perangnya di Ukraina. (Foto: Andrey Rudakov / Bloomberg / Getty Images)

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus mengungkapkan, memasuki tahun kedua, dampak perang Rusia-Ukraina terhadap pasar tidak akan sedahsyat tahun pertama. “Soalnya, pasar sudah beradaptasi dan meng-adjust dampak yang ditimbulkannya,” kata Nico.

Itu sebabnya, menurut Nico, inflasi di Uni Eropa dan AS mulai jinak, meski masih tinggi. Inflasi di AS mencapai 6,4% pada Januari 2023, melandai dari puncak tertingginya di level 9,1% pada Juni 2022. Sedangkan inflasi di Zona Euro pada Januari mencapai 8,6% dibanding level tertinggi pada Oktober 2022 di posisi 10,6%.

Nico menjelaskan, terlepas dari berbagai dampak buruknya, invasi Rusia ke Ukraina mendatangkan sejumlah sisi positif bagi negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.

“Contohnya harga komoditas, terutama batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan nikel tahun lalu melambung tinggi, sehingga ekspornya melonjak,” ujar dia.

Agar tak terkena dampak rambatan (spillover effect) gejolak ekonomi global, kata Nico, Indonesia harus menempuh sejumlah langkah, salah satunya melakukan diversifikasi pasar ekspor dan diversifikasi komoditas ekspor.

“Kita jangan bergantung pada pasar ekspor tradisional, seperti AS, UE, dan Tiongkok. Kita harus menyasar pasar lain, seperti Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Komoditas yang diekspor pun harus lebkih beragam, terutama komoditas produk industri manufaktur,” papar dia.

Nico Demus mengemukakan, gejolak di pasar finansial global akan mereda jika terjadi keseimbangan baru antara inflasi dan suku bunga di AS. “Kami perkirakan kesimbangan itu tercipta pada Juli dan Agustus 2023 ketika terjadi titik temu antara inflasi dan Fed funds rate (FFR), dengan asumsi inflasi terus turun setiap bulan untuk mencapai spread minimal 1% dengan FFR,” tutur dia.

Nico menambahkan, jika keseimbangan itu tercipta, ruang kenaikan FFR menjadi terbatas, sehingga pertumbuhan ekonomi AS bisa dipacu melalui kenaikan konsumsi, penambahan investasi, dan peningkatan perusahaan. Jika ekonomi AS bangkit, ekonomi global ikut bangkit.

“Dalam hitungan kami, perkonomian global mulai stabil pada semester II tahun ini,” ucap dia.

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 T atau Rp 24.330 T
Warga mengeluarkan barang berharga dari sebuah rumah yang terbakar setelah terhantam pengeboman yang menghajar kota Irpin, di luar kota Kyiv, Ukraina, 4 Maret 2022. (Foto: AFP)

Sedangkan Ryan Kiryanto, Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED) dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) menilai, Indonesia relatif ‘terisolasi’ dari transmisi gelombang dampak kondisi geopolitik global. Ia yakin, optimisme outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih kuat karena ditopang konsumsi rumah tangga domestik yang masih tinggi.

Faktor penopang optimisme kedua, lanjut Ryan, perang Rusia vs Ukraina memicu krisis energi bersih di Eropa. Hal itu membuat negara-negara maju di Eropa, seperti Jerman, kembali menggunakan energi yang tidak ramah lingkungan, yakni batu bara. Indonesia mendapat ‘anugerah’ dari perang, karena Indonesia merupakan negara eksportir batu bara.

Perang membuat Eropa yang sebelumnya menolak komoditas CPO dari Indonesia, kini terpaksa membeli CPO dari Indonesia.

“Tetapi saya punya catatan kritis, kalau kita ingin menjadi negara maju, kita harus juga bermain di kancah global supply chain atau global value chain. Sehingga Indonesia akan naik kelas,” ujarnya.

Jadi, kembali Ryan menekankan, dalam kondisi ketidakpastian global saat ini, Indonesia ‘diuntungkan’. Tetapi untuk jangka panjang, ketika kondisi dunia stabil, ia menekankan bahwa Indonesia harus masuk ke kancah global, salah satunya kita harus masuk ke rantai pasok global.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia