Jumat, 15 Mei 2026

SVB Runtuh, Investor AS Bisa Fokus ke Perusahaan dengan Neraca Kuat

Penulis : Grace El Dora
13 Mar 2023 | 11:30 WIB
BAGIKAN
Pemberitahuan yang menginformasikan penutupan Silicon Valley Bank (SVB) tergantung di kantor pusat bank di Santa Clara, California, Amerika Serikat (AS) pada 10 Maret 2023. (FOTO: NOAH BERGER / AFP)
Pemberitahuan yang menginformasikan penutupan Silicon Valley Bank (SVB) tergantung di kantor pusat bank di Santa Clara, California, Amerika Serikat (AS) pada 10 Maret 2023. (FOTO: NOAH BERGER / AFP)

NEW YORK, investor.id – Investor harus lebih selektif ke depan, terutama setelah keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB) Financial di Amerika Serikat (AS), kata investor Ann Miletti.

Ia menyarankan agar pelaku pasar fokus pada perusahaan dengan neraca yang kuat dan arus kas bebas. “Dan tim manajemen yang memiliki kontrol risiko dan pengalaman yang hebat melalui masa-masa sulit,” kata Miletti, kepala ekuitas aktif di Allspring Global Investments, Senin (13/3).

Komentarnya muncul setelah regulator mengumumkan rencana untuk mendukung deposan Silicon Valley Bank, setelah bank tersebut bangkrut minggu lalu.

ADVERTISEMENT

“(Regulator) tidak akan tersedia untuk membantu semua perusahaan,” katanya.

“Kita memiliki banyak (dana talangan) bailout beberapa tahun terakhir, dan saya pikir investor sudah terbiasa dengan mereka. Yang harus kita sadari adalah kita berada dalam rezim baru,” ujar Miletti, dilansir dari CNBC.

“Ada suku bunga yang lebih tinggi, inflasi yang lebih tinggi, dan kita akan melihat kebangkrutan terjadi. Tidak akan ada bailout untuk semua orang,” tambahnya.

Situasi SVB Hasil Kebijakan Moneter yang Longgar

Kebangkrutan Silicon Valley Bank pada Jumat (10/3) dinilai investor Leon Cooperman sebagai situasi yang adalah produk sampingan dari suku bunga rendah dari Federal Reserve (Fed).

“Ini adalah hasil dari kebijakan moneter bodoh dari tingkat nol ke negatif selama satu dekade,” kata Cooperman, kepala Omega Advisors.

Bank sentral AS tersebut memangkas suku bunga menjadi nol untuk menstabilkan ekonomi setelah krisis keuangan 2008. Suku bunga tetap rendah selama bertahun-tahun sampai Fed mulai menaikkan pada akhir 2010-an. Namun, pada 2020, bank sentral menurunkan suku bunga ke nol karena Covid-19 menyebar ke seluruh dunia.

Adapun selama setahun terakhir, bank sentral telah menaikkan suku bunga untuk membendung tekanan inflasi.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia