Jumat, 15 Mei 2026

Jreng! 186 Bank AS Berisiko Gagal seperti Silicon Valley Bank

Penulis : Jauhari Mahardhika
19 Mar 2023 | 23:20 WIB
BAGIKAN
Nasabah Silicon Valley Bank (SVB) mendengarkan keterangan dari perwakilan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC). (Foto: Noah Berger/AFP)
Nasabah Silicon Valley Bank (SVB) mendengarkan keterangan dari perwakilan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC). (Foto: Noah Berger/AFP)

JAKARTA, investor.id – Sebuah laporan baru menemukan bahwa 186 bank di Amerika Serikat (AS) berisiko gagal karena kenaikan suku bunga dan tingginya proporsi simpanan yang tidak diasuransikan.

Penelitian yang diunggah di Social Science Research Network berjudul “Monetary Tightening and US Bank Fragility in 2023: Mark-to-Market Losses and Uninsured Depositor Runs?” memperkirakan hilangnya nilai pasar aset masing-masing bank selama tren kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Nilai aset seperti treasury notes dan pinjaman hipotek dapat menurun ketika obligasi baru memiliki bunga yang lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

Studi ini juga meneliti proporsi pendanaan bank yang berasal dari deposan yang tidak diasuransikan dengan rekening senilai lebih dari US$ 250.000.

Jika setengah dari deposan yang tidak diasuransikan itu seketika menarik dananya dari 186 bank tadi, bahkan deposan yang diasuransikan akan menghadapi penurunan nilai, karena bank tidak akan memiliki aset yang cukup. Kondisi ini akan memaksa Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk turun tangan, menurut penelitian tersebut, seperti dilansir Business Today, Sabtu (18/3/2023).

Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut tidak mempertimbangkan lindung nilai, yang dapat melindungi banyak bank dari kenaikan suku bunga acuan.

“Bahkan jika hanya setengah dari deposan yang tidak diasuransikan menarik diri, hampir 190 bank memiliki potensi risiko penurunan nilai deposan yang diasuransikan, dengan potensi US$ 300 miliar simpanan yang diasuransikan dalam risiko,” bunyi penelitian tersebut.

Kegagalan Silicon Valley Bank (SVB) adalah contoh risiko yang ditimbulkan oleh kenaikan suku bunga dan simpanan yang tidak diasuransikan. Aset bank kehilangan nilainya karena kenaikan suku bunga, dan nasabah yang khawatir menarik simpanan mereka yang tidak diasuransikan. Akibatnya, bank tersebut gagal memenuhi kewajibannya kepada deposan dan terpaksa ditutup.

Para ekonom yang melakukan studi tersebut memperingatkan bahwa 186 bank ini berisiko mengalami nasib serupa tanpa intervensi atau rekapitalisasi pemerintah. Studi itu menggarisbawahi pentingnya manajemen risiko yang berhati-hati dan diversifikasi sumber pendanaan bagi bank untuk memastikan stabilitas mereka dalam menghadapi fluktuasi pasar.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia