Jumat, 15 Mei 2026

Menkeu AS: Pembatasan Kredit Bisa Gantikan Kenaikan Suku Bunga

Penulis : Grace El Dora
17 Apr 2023 | 11:25 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen di kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, AS pada 13 April 2023. (Foto: AP/Jose Luis Magana)
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen di kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, AS pada 13 April 2023. (Foto: AP/Jose Luis Magana)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan bank cenderung menjadi lebih berhati-hati dan dapat memperketat pengajuan kredit, setelah kegagalan bank baru-baru ini. Ini bisa jadi meniadakan kebutuhan untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) lebih lanjut.

Yellen mengatakan dalam wawancara CNN, tindakan kebijakan untuk membendung ancaman sistemik yang disebabkan oleh kegagalan Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank bulan lalu telah menyebabkan arus keluar simpanan menjadi stabil “dan segalanya menjadi tenang”, tulis sebuah transkrip yang dirilis akhir pekan lalu.

“Bank cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam lingkungan ini,” kata Yellen dalam wawancara yang tayang Minggu (16/4).

ADVERTISEMENT

“Kami telah melihat beberapa pengetatan standar pinjaman dalam sistem perbankan sebelum episode itu, dan mungkin akan ada lagi yang akan datang,” tambahnya.

Dia mengatakan itu akan mengarah pada pembatasan kredit dalam ekonomi yang bisa menjadi pengganti kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang perlu dilakukan Fed.

Tapi Yellen mengaku belum melihat sesuatu yang “cukup dramatis atau cukup signifikan” di bidang ini untuk mengubah prospek ekonominya.

“Jadi, saya pikir prospeknya tetap satu untuk pertumbuhan moderat dan pasar tenaga kerja yang kuat dengan inflasi yang turun,” katanya.

Yellen bukan satu-satunya pejabat keuangan yang mengharapkan pengurangan kredit bank, sebagai akibat dari pergolakan sektor keuangan bulan lalu. Beberapa pejabat Fed mengatakan bank sentral AS harus mengadopsi pijakan yang lebih hati-hati, karena mereka memperkirakan bank akan membatasi pinjaman di bulan-bulan mendatang.

Data neraca bank mingguan yang diterbitkan oleh Fed belum menunjukkan penurunan material dalam jumlah pinjaman bank. Sementara itu, terlihat aliran keluar simpanan telah stabil dalam dua minggu terakhir setelah banjir penarikan awal nasabah saat kegagalan SVB dan Signature Bank pada pertengahan Maret 2023.

Yellen ditanya, di tengah kekhawatiran tentang keamanan simpanan, apakah bijaksana untuk mengembangkan mata uang digital bank sentral yang memungkinkan konsumen AS memiliki rekening langsung dengan Fed.

“Ada pro penting ... dan ada beberapa kontra dengan keputusan seperti itu. Jadi itu salah satu yang perlu dianalisis secara serius, tetapi itu bisa menjadi sesuatu yang ada di masa depan orang Amerika,” jawab Yellen.

Dominasi Dolar

Yellen juga mengatakan penerapan sanksi yang dipimpin AS dan kontrol ekspor terhadap Rusia demi merampas bahan untuk perangnya di Ukraina, ditambah batas harga US$ 60 per barel pada minyak Rusia yang diberlakukan oleh negara-negara Barat, telah mengubah surplus anggaran yang diharapkan Rusia menjadi defisit.

Sanksi dan kontrol ekspor telah memaksa pemerintah Rusia untuk menggunakan Iran dan Korea Utara (Korut) untuk peralatan dan pasokan militer. Ini juga membuat pemerintah AS mengambil langkah-langkah untuk mengekang penghindaran sanksi, kata Yellen.

“Tapi kami pikir militernya (Presiden Rusia Vladimir Putin) benar-benar kekurangan peralatan yang mereka butuhkan untuk berperang,” tambahnya.

Ditanya apakah sanksi dapat mengikis peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia, Yellen mengakui adanya potensi risiko.

“Jadi, ada risiko ketika kita menggunakan sanksi keuangan yang dikaitkan dengan peran dolar, yang lama-kelamaan bisa merusak hegemoni dolar, seperti yang Anda katakan. Tapi ini adalah alat yang sangat penting yang kami coba gunakan dengan bijaksana,” kata Yellen, seraya menambahkan sanksi paling efektif bila digunakan dengan dukungan sekutu.

Sanksi tersebut menciptakan keinginan di pihak Tiongkok, Rusia, dan Iran untuk menemukan alternatif selain dolar. Tetapi ini dinilainya tidak mudah untuk dicapai, karena sifat uniknya yang didukung oleh aset paling aman dan paling likuid di dunia, yakni perbendaharaan AS.

“Dolar digunakan secara luas. Kami memiliki pasar modal yang sangat dalam dan supremasi hukum yang penting dalam mata uang yang akan digunakan secara global untuk transaksi. Dan kami belum melihat negara lain yang memiliki infrastruktur dasar, infrastruktur kelembagaan, yang memungkinkan mata uangnya melayani dunia seperti ini,” kata Yellen.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia