Jumat, 15 Mei 2026

El Nino Bisa Rugikan Ekonomi Global Hingga US$ 3 Triliun

Penulis : Grace El Dora
22 Mei 2023 | 13:45 WIB
BAGIKAN
Warga berjalan menerjang banjir yang mengisolasi sebagian besar wilayah "El Indio", Piura, Peru Utara pada 23 Maret 2017. (Foto: AFP/Ernesto Benavides)
Warga berjalan menerjang banjir yang mengisolasi sebagian besar wilayah "El Indio", Piura, Peru Utara pada 23 Maret 2017. (Foto: AFP/Ernesto Benavides)

JAKARTA, investor.id – Penelitian terbaru menyatakan fenomena cuaca El Nino dapat menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar US$ 3 triliun atau sekitar Rp 44.700 triliun. Angka perkiraan tersebut didasarkan pada kerusakan yang ditimbulkan oleh El Nino pada tahun-tahun sebelumnya, ditambah dengan perkiraan adanya potensi El Nino yang sangat kuat tahun ini.

El Nino mempengaruhi cuaca di seluruh dunia saat terbentuk, yang dapat memicu banjir lebih parah di beberapa tempat sementara memperburuk kekeringan di tempat lain. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, El Nino dapat memicu musim dingin yang lebih basah di bagian selatan tetapi cuaca lebih panas dan kering di bagian utara.

Pada studi yang diliris World Meteorological Organization (Organisasi Meteorologi Dunia) pihaknya memperingatkan El Nino 2023 dikombinasikan dengan perubahan iklim. “(Bisa) Mendorong suhu global ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya, awal pekan ini.

ADVERTISEMENT

Biasanya berulang setiap dua hingga tujuh tahun, diperkirakan El Nino akan terjadi antara Mei dan Juli 2023. Jika perkiraan terwujud, El Nino tahun ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi global hingga US$ 3 triliun hingga 2029 dibandingkan dengan skenario tanpa terbentuknya pola cuaca tersebut, menurut studi yang diterbitkan dalam Science Journal.

Penulis studi dari Dartmouth, AS menemukan El Nino cenderung menghambat pertumbuhan ekonomi negara-negara selama bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut berlalu.

Mereka menganalisis dampak ekonomi dari El Nino yang terjadi pada 1982-1983 dan menemukan peristiwa tersebut menyebabkan kerugian pendapatan global sebesar US$ 4,1 triliun selama lima tahun. El Nino lainnya yang terjadi antara 1997 dan 1998 menyebabkan kerugian pendapatan dunia sebesar US$ 5,7 triliun.

Dampak peristiwa ini dirasakan secara tidak merata di seluruh dunia. Amerika mengalami penurunan produk domestik bruto (PDB) sebesar 3% bahkan lima tahun setelah setiap El Nino, dibandingkan dengan skenario tanpa terbentuknya pola cuaca tersebut.

Negara-negara tropis seperti Peru dan Indonesia yang lebih rentan terhadap dampak El Nino mengalami penurunan PDB lebih dari 10%.

“Kita dapat dengan pasti mengatakan masyarakat dan ekonomi tidak dapat pulih dari dampak El Nino dengan cepat,” kata mahasiswa doktoral Dartmouth dan penulis utama penelitian Christopher Callahan dalam siaran pers

Sudah ada sinyal El Nino berikutnya dapat menjadi sangat intens. El Nino hanyalah bagian dari pola iklim berulang yang merupakan kebalikannya La Nina.

Dunia baru saja keluar dari La Nina yang langka selama tiga tahun, yang dapat mempengaruhi El Nino dan membuatnya lebih kuat tahun ini. Selain itu El Nino mengubah aliran air hangat di Samudra Pasifik dan suhu permukaan laut mencapai rekor tertinggi.

“Kondisinya sangat mendukung untuk El Nino yang sangat besar. Hasil penelitian kami menunjukkan kemungkinan besar akan ada kerugian ekonomi signifikan yang menekan pertumbuhan ekonomi di negara-negara tropis selama beberapa tahun,” kata Callahan.

Menteri Perdagangan (Mendag) RI Zulkifli Hasan telah meminta semua pihak untuk mengantisipasi dampak El Nino, terutama pada ketersediaan dan harga pangan.

“Kita harus bersiap-siap atas adanya ancaman El Nino yang membuat udara menjadi panas luar biasa. Ini (El Nino, Red) juga bisa mengakibatkan kenaikan harga pangan,” ujar Zulkifli Hasan saat kunjungan kerja di Lampung Tengah, dikutip Antara, Kamis (18/5).

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi mengungkapkan fenomena el nino menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam memutuskan kebijakan impor beras sebanyak 2 juta ton hingga akhir 2023.

Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebesar 50% hingga 60% fenomena el nino berpeluang terjadi pada semester II-2023.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia