Jumat, 15 Mei 2026

G7 akan Mengurangi Risiko Daripada Putus Hubungan dari Tiongkok

Penulis : Happy Amanda Amalia
23 Mei 2023 | 04:00 WIB
BAGIKAN
Logo Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 Hiroshima tergambar di Hiroshima, Jepang menjelang KTT Pemimpin G7 pada 16 Mei 2023. (Foto: PHILIP FONG/AFP via Getty Images)
Logo Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 Hiroshima tergambar di Hiroshima, Jepang menjelang KTT Pemimpin G7 pada 16 Mei 2023. (Foto: PHILIP FONG/AFP via Getty Images)

“Inti dari pesan yang ingin kami sampaikan di G7 ini adalah posisi Eropa bahwa Tiongkok adalah mitra, melengkapi kami dan merupakan saingan sistemik, semua disampaikan dalam bahasa G7,” kata pejabat itu.

Pelatihan Anti-Tiongkok

Di sisi lain, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, mengatakan kepada para wartawan di Hiroshima bahwa Amerika Serikat akan menjelaskan pendekatannya sendiri dalam hal kontrol investasi keluar setelah melakukan konsultasi bersama dengan mitra-mitra G7.

ADVERTISEMENT

Menanggapi komunike G7, pihak berwenang Tiongkok menegur isi pernyataan tersebut dan memanggil utusan tuan rumah Jepang sebagai bentuk protes. Sementara media corong pemerintah RRT, Global Times pada Senin menyebut G7 sebagai pelatihan anti-Tiongkok.

Secara terpisah, otoritas RRT pada Minggu menyampaikan bakal menghalangi perusahaan AS Micron Technology Inc untuk menjual chip memori ke industri-industri utama dalam negeri. Langkah ini diklaim menjadi pertanda potensial tentang adanya ketegangan yang akan datang.

“Saya kira pendekatan penurunan risiko adalah cara termudah bagi G7 untuk mencapai beberapa konsensus ke depan tentang Tiongkok,” tutur Jonathan Berkshire Miller, direktur di Macdonald Laurier Institute, sebuah wadah pemikir kebijakan publik.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Miller bahwa masalah perubahan bahasa komunike mengindikasikan, sekutu-sekutu AS memahami risiko keterlibatan ekonomi yang mendalam dengan Tiongkok, tetapi juga menyadari bahwa pemutusan hubungan ekonomi secara total tidaklah realistis.

Sebagai informasi, Jepang – sebagai satu-satunya anggota G7 dari Asia – dapat dikatakan akan mengalami kerugian yang lebih besar jika Tiongkok melakukan pembalasan. Semisal tahun lalu, ditunjukkan oleh data Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa Tiongkok daratan adalah pasar ekspor terbesar Jepang, dengan nilai mencapai US$ 145 miliar, sementara sumber impor terbesarnya bernilai US$ 189 miliar.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia