Jumat, 15 Mei 2026

Pejabat Fed Ragu Kenaikan Suku Bunga Lebih Lanjut

Penulis : Indah Handayani
25 Mei 2023 | 04:00 WIB
BAGIKAN
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, DC, Amerika Serikat. (Foto: Stefani Reynolds / Bloomberg Creative Photos / Getty Images)
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, DC, Amerika Serikat. (Foto: Stefani Reynolds / Bloomberg Creative Photos / Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Pejabat Fed masih ragu tentang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Hal itu ditunjukan dalam risalah yang dirilis Rabu (24/5/2023). Dalam risalah tersebut disebutkan bahwa para pejabat Federal Reserve terpecah pada pertemuan terakhir mereka tentang arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Sebab, beberapa anggota melihat perlunya kenaikan lebih banyak. Sementara yang lain mengharapkan perlambatan kenaikan untuk menghentikan pengetatan lebih lanjut.

Dikutip dari CNBC internasional, meskipun keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan Fed sebesar seperempat poin persentase adalah bulat, ringkasan pertemuan tersebut mencerminkan ketidaksepakatan mengenai langkah selanjutnya, dengan kecenderungan ke arah kebijakan yang kurang agresif.

Pada akhirnya, Federal Open Market Committee (FOMC) memilih menetapkan tarif untuk menghapus frase kunci dari pernyataan pasca-pertemuan yang mengindikasikan ‘penguatan kebijakan tambahan mungkin tepat’.

ADVERTISEMENT

The Fed sekarang tampaknya bergerak menuju pendekatan yang lebih bergantung pada data di mana banyak sekali faktor yang akan menentukan apakah siklus kenaikan suku bunga berlanjut.

Pejabat Fed Ragu Kenaikan Suku Bunga Lebih Lanjut
Pekerja konstruksi di luar Gedung Marriner S. Eccles Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat pada 27 Juli 2022. (FOTO: KENT NISHIMURA/LOS ANGELES TIMES/GETTY IMAGES)

“Peserta umumnya menyatakan ketidakpastian tentang berapa banyak lagi pengetatan kebijakan yang mungkin tepat. Banyak peserta berfokus pada kebutuhan untuk mempertahankan opsionalitas setelah pertemuan ini,” bunyi risalah tersebut.

Pada dasarnya, perdebatan itu bermuara pada dua skenario. Pertama, diadvokasi oleh ‘beberapa’ anggota menilai bahwa kemajuan dalam mengurangi inflasi ‘sangat lambat’ dan akan memerlukan kenaikan lebih lanjut. Kedua, didukung oleh ‘beberapa’ anggota FOMC, melihat perlambatan pertumbuhan ekonomi di mana ‘penguatan kebijakan lebih lanjut setelah pertemuan ini mungkin tidak diperlukan’.

Risalah tidak mengidentifikasi anggota secara perorangan, serta tidak menyebut jumlah ‘beberapa’ atau ‘beberapa’ dengan angka tertentu. Namun, dalam bahasa Fed, ‘beberapa’ dianggap lebih dari ‘beberapa’. Risalah tersebut mencatat bahwa para anggota setuju bahwa inflasi ‘secara substansial meningkat’ dibandingkan dengan tujuan bank sentral.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 17 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia