Jumat, 15 Mei 2026

Suhu Makin Panas Saat Pola Cuaca El Nino Kembali

Penulis : Grace El Dora
4 Jul 2023 | 20:34 WIB
BAGIKAN
Retakan mengalir melalui dasar sungai Gan River yang sebagian mengering, anak sungai ke Danau Poyang selama kekeringan regional di Nanchang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok pada 28 Agustus 2022. (Foto: Reuters/Thomas Peter)
Retakan mengalir melalui dasar sungai Gan River yang sebagian mengering, anak sungai ke Danau Poyang selama kekeringan regional di Nanchang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok pada 28 Agustus 2022. (Foto: Reuters/Thomas Peter)

JENEWA, investor.id – Suhu diperkirakan akan meningkat lebih jauh di sebagian besar dunia setelah pola cuaca atau weather pattern El Nino muncul di Pasifik tropis untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, kata Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/ WMO) pada Selasa (4/7).

El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan air di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah. Fenomena ini terkait dengan kondisi cuaca ekstrem, mulai dari siklon tropis hingga hujan lebat hingga kekeringan parah.

Rekor tahun terpanas di dunia, 2016, bertepatan dengan El Nino yang kuat meskipun para ahli mengatakan perubahan iklim telah memicu suhu ekstrem, bahkan di tahun-tahun tanpa fenomena tersebut.

ADVERTISEMENT

Tapi rekor itu bisa segera dipecahkan, menurut WMO.

Organisasi tersebut pada Mei 2023 mengatakan ada kemungkinan kuat setidaknya satu dari lima tahun ke depan, dan periode lima tahun secara keseluruhan, akan menjadi rekor terpanas akibat El Nino dan pemanasan global antropogenik.

“Untuk memberi tahu Anda apakah tahun ini atau tahun depan sulit,” kata Wilfran Moufouma Okia, Kepala Layanan Prediksi Iklim Regional di WMO, dilansir Reuters di Jenewa.

“Apa yang kita ketahui adalah selama lima tahun ke depan, kita kemungkinan besar akan mengalami salah satu tahun terhangat dalam catatan,” sambungnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bulan lalu mengatakan sedang mempersiapkan peningkatan penyebaran penyakit virus seperti demam berdarah, Zika, dan chikungunya terkait dengan El Nino.

“Kita dapat memperkirakan bahkan peningkatan penyakit menular karena suhu,” tutur Maria Neira, Direktur Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kesehatan WHO.

Selama El Nino, angin bertiup ke barat di sepanjang ekuator melambat dan air hangat didorong ke timur sehingga menciptakan suhu permukaan laut yang lebih hangat.

Fenomena tersebut terjadi rata-rata setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan, menurut WMO.

Hal ini biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di beberapa bagian selatan Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.

Di masa lalu, fenomena ini telah menyebabkan kekeringan parah di Australia, Indonesia, sebagian Asia selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan bagian utara.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia