Suhu Makin Panas Saat Pola Cuaca El Nino Kembali
JENEWA, investor.id – Suhu diperkirakan akan meningkat lebih jauh di sebagian besar dunia setelah pola cuaca atau weather pattern El Nino muncul di Pasifik tropis untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, kata Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/ WMO) pada Selasa (4/7).
El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan air di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah. Fenomena ini terkait dengan kondisi cuaca ekstrem, mulai dari siklon tropis hingga hujan lebat hingga kekeringan parah.
Rekor tahun terpanas di dunia, 2016, bertepatan dengan El Nino yang kuat meskipun para ahli mengatakan perubahan iklim telah memicu suhu ekstrem, bahkan di tahun-tahun tanpa fenomena tersebut.
Tapi rekor itu bisa segera dipecahkan, menurut WMO.
Organisasi tersebut pada Mei 2023 mengatakan ada kemungkinan kuat setidaknya satu dari lima tahun ke depan, dan periode lima tahun secara keseluruhan, akan menjadi rekor terpanas akibat El Nino dan pemanasan global antropogenik.
“Untuk memberi tahu Anda apakah tahun ini atau tahun depan sulit,” kata Wilfran Moufouma Okia, Kepala Layanan Prediksi Iklim Regional di WMO, dilansir Reuters di Jenewa.
“Apa yang kita ketahui adalah selama lima tahun ke depan, kita kemungkinan besar akan mengalami salah satu tahun terhangat dalam catatan,” sambungnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bulan lalu mengatakan sedang mempersiapkan peningkatan penyebaran penyakit virus seperti demam berdarah, Zika, dan chikungunya terkait dengan El Nino.
“Kita dapat memperkirakan bahkan peningkatan penyakit menular karena suhu,” tutur Maria Neira, Direktur Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kesehatan WHO.
Selama El Nino, angin bertiup ke barat di sepanjang ekuator melambat dan air hangat didorong ke timur sehingga menciptakan suhu permukaan laut yang lebih hangat.
Fenomena tersebut terjadi rata-rata setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan, menurut WMO.
Hal ini biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di beberapa bagian selatan Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.
Di masa lalu, fenomena ini telah menyebabkan kekeringan parah di Australia, Indonesia, sebagian Asia selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan bagian utara.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






