Jumat, 15 Mei 2026

Risalah The Fed: Potensi Kenaikan Suku Bunga Lebih Banyak dengan Kecepatan Melambat

Penulis : Indah Handayani
6 Jul 2023 | 04:20 WIB
BAGIKAN
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles terlihat di Washington, DC (Foto: Jim WATSON / AFP)
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles terlihat di Washington, DC (Foto: Jim WATSON / AFP)

WASHINGTON, investor.id – Federal Reserve (The Fed) melihat adanya potensi kenaikan suku bunga lebih banyak di masa depan, namun pada tingkat kecepatan melambat. Hal ini terungkap dalam risalah rapat yang dirilis pada Rabu (5/7/2023).

Dikutip dari CNBC internasional, risalah tersebut menyebutkan hampir semua pejabat Federal Reserve pada pertemuan bulan Juni menunjukkan kemungkinan adanya pengetatan lebih lanjut. Namun, dengan kecepatan lebih lambat dibandingkan dengan cepatnya kenaikan suku bunga yang telah terjadi sejak awal 2022.

Para pembuat kebijakan tersebut memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga karena kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi, meskipun sebagian besar anggota berpikir kenaikan lebih lanjut sedang berlangsung. Mengutip dampak lambat dari kebijakan dan kekhawatiran lainnya, mereka melihat ruang untuk melewatkan pertemuan Juni setelah memberlakukan 10 kali kenaikan suku bunga secara berturut-turut

Pejabat The Fed tersebut merasa dengan mempertahankan kisaran target pada pertemuan Juni akan memberi mereka lebih banyak waktu untuk mengevaluasi kemajuan ekonomi menuju tujuan Komite, yaitu lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga.

ADVERTISEMENT

Anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menyuarakan keraguan atas banyak faktor.

Mereka mengatakan bahwa jeda singkat akan memberi waktu untuk menilai dampak kenaikan, yang telah mencapai 5 poin persentase, langkah paling agresif sejak awal 1980-an.

"Ekonomi menghadapi hambatan dari kondisi kredit yang lebih ketat, termasuk suku bunga yang lebih tinggi, untuk rumah tangga dan bisnis, yang kemungkinan akan membebani aktivitas ekonomi, perekrutan, dan inflasi, meskipun sejauh mana efek ini tetap tidak pasti," kata risalah tersebut.

Keputusan bulat untuk tidak menaikkan suku datang dalam pertimbangan pengetatan kumulatif yang signifikan dalam sikap kebijakan moneter dan kelambatan yang mempengaruhi kebijakan kegiatan ekonomi dan inflasi.

Pasar menunjukkan sedikit reaksi terhadap rilis tersebut. Dow Jones Industrial Average turun sekitar 120 poin mendekati jam terakhir perdagangan sementara imbal hasil obligasi AS naik tajam. 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia