Jumat, 15 Mei 2026

Bunga The Fed Diprediksi Tertinggi dalam 22 Tahun

Penulis : Happy Amanda Amalia
24 Jul 2023 | 15:24 WIB
BAGIKAN
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mendengarkan sidang Komite Jasa Keuangan DPR di Capitol Hill di Washington, Amerika Serikat pada 30 September 2021. (Foto: AL DRAGO/POOL/GETTY IMAGES)
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mendengarkan sidang Komite Jasa Keuangan DPR di Capitol Hill di Washington, Amerika Serikat pada 30 September 2021. (Foto: AL DRAGO/POOL/GETTY IMAGES)

WASHINGTON, ID – The Federal Reserve (The Fed) diprediksi luas menaikkan suku bunganya kembali pada Rabu (26/07/2023), setelah sempat jeda pada Juni 2023. Langkah tersebut mengadopsi sikap moneternya paling ketat selama 22 tahun, kendati ada isyarat perlambatan inflasi baru-baru ini.

Dalam beberapa minggu terakhir, peningkatan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan data inflasi yang lebih baik telah memperkuat kemungkinan bahwa komite penetapan suku bunga The Fed akan memilih kenaikan seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) pada 25-26 Juli 2023.

Hal itu diklaim menaikkan federal fund rate (FFR) ke kisaran antara 5,25% hingga 5,5% atau level tertinggi sejak 2001.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, setelah melakukan 10 kali penaikan berturut-turut hanya dalam waktu lebih dari satu tahun, bank sentral Amerika Serikat (AS) pun menghentikan pengetatan moneter agresifnya pada bulan lalu.

Keputusan ini bertujuan supaya para pembuat kebijakan mempunyai lebih banyak waktu untuk menilai kesehatan ekonomi AS dan dampak tekanan perbankan baru-baru ini terhadap kondisi pinjaman.

“Jika saya harus bertaruh, saya berani bertaruh mereka akan menaikkan suku bunga acuan Fed sebesar 25 bps di pertemuan berikutnya,” ujar Joseph Gagnon dari Peterson Institute for International Economics (PIIE) dilansir dari AFP pada Minggu (23/07/2023).

Sementara itu, kepala ekonom AS di Bank of America Michael Gapen mencatat pelemahan ekonomi hanya terjadi secara perlahan.

“Kami rasa sebagian besar anggota komite percaya penyeimbangan kembali penawaran dan permintaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan disinflasi akan terus berlanjut,” tambahnya, seraya menjelaskan alasannya memperkirakan kenaikan lagi pada Rabu (26/07/2023).

CME Group juga berpendapat, para trader berjangka saat ini menetapkan probabilitas lebih dari 99% The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di pertemuan berikutnya.

Meskipun kenaikan suku bunga pada Juli sudah banyak diprediksi terjadi, masih ada pertanyaan tersisa soal seberapa jauh The Fed perlu menaikkan suku bunga tahun ini guna menurunkan inflasi ke target jangka panjangnya sebesar 2%.

Risiko Resesi Mereda

Sejak keputusan The Fed untuk berhenti sejenak menaikkan suku bunga pada Juni, indeks inflasi yang disukai telah melambat menjadi kurang dari 4% year on year (YoY), sedangkan tingkat pengangguran tetap mendekati angka terendah.

Pertumbuhan ekonomi juga direvisi naik secara signifikan untuk kuartal I-2023, akibat belanja konsumen yang lebih kuat dari perkiraan.

Di samping itu, berita-berita ekonomi positif telah meningkatkan kemungkinan atas soft landing, di mana The Fed berhasil menurunkan inflasi dengan menaikkan suku bunga sambil menghindari resesi dan lonjakan pengangguran.

“Kami melihat garis antara resesi ringan dan soft landing makin tipis, dan melihat probabilitas hasil yang terakhir tidak dapat disangkal sedang meningkat,” tulis para ekonom Deutsche Bank dalam catatan baru-baru ini.

Sementara itu, Goldman Sachs baru-baru ini memangkas probabilitas ekonomi AS memasuki resesi dalam 12 bulan ke depan dari 25% menjadi 20%, meskipun masih sedikit di atas level rata-rata pasca perang.

"Data terbaru telah memperkuat keyakinan kami bahwa menurunkan inflasi ke tingkat yang dapat diterima tidak akan membutuhkan resesi,” demikian bunyi catatan Kepala Ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius.

Kenaikan pada September

Pada pertemuan Juni, para pejabat The Fed mengindikasikan kemungkinan terjadi dua kali penaikan suku bunga sebesar 1,5% tahun ini untuk mengatasi inflasi. Mengingat penaikan suku bunga pertama diperkirakan terjadi pada Rabu, para analis telah mengalihkan perhatian terhadap apa yang bakal dilakukan oleh The Fed selanjutnya.

Beberapa ekonom memprediksi kenaikan suku bunga secepatnya terjadi setelah pertemuan suku bunga The Fed berikutnya pada September, sementara lainnya berpikir The Fed bakal mempertahankan suku bunga sekali lagi.

"Perasaan saya, meskipun mereka akan bergerak lambat, 25 bps per pertemuan atau bahkan setiap pertemuan, saya tidak berpikir mereka akan berhenti," kata Joseph Gagnon dari PIIE.

Mengingat situasi yang tidak pasti pada September, konferensi pers minggu depan yang digelar Gubernur Jerome Powell dipastikan sangat dicemati secara seksama untuk mendapatkan petunjuk mengenai yang akan dilakukan oleh bank sentral AS selanjutnya.

“Dalam konferensi pers, kami mengharapkan Powell untuk memberikan kejelasan lebih lanjut tentang tanda-tanda apa yang perlu dilihat oleh Komite agar dapat dengan nyaman bergerak menuju jeda yang diperpanjang,” menurut catatan para ekonom Morgan Stanley.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia