Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi Turun, Bank-bank Sentral Global Kini Berbalik Arah

Penulis : Happy Amanda Amalia
31 Jul 2023 | 13:02 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda saat tiba di kantor pusat bank sentral Jepang itu di Tokyo pada 28 Juli 2023. (Foto: Investor Daily/Kyodo News via AP)
Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda saat tiba di kantor pusat bank sentral Jepang itu di Tokyo pada 28 Juli 2023. (Foto: Investor Daily/Kyodo News via AP)

WASHINGTON, investor.id Bank-bank sentral utama dunia masih melanjutkan penaikan suku bunga acuan pada minggu ini, kendati laju inflasi mereda. Tapi pergeseran kebijakan moneter mulai terbaca. Mereka sekarang memilih berhati-hati daripada terus agresif.

Hal itu dilihat sebagai pertanda pengetatan moneter global selama setahun terakhir kemungkinan telah berakhir.

Semisal The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang minggu ini menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps). Namun, kedua bank sentral ini juga dilaporkan tetap membuka opsi untuk kenaikan lebih lanjut. Jika tingkat inflasi tidak melanjutkan penurunan yang sudah mulai terjadi dan lebih cepat dari perkiraan.

ADVERTISEMENT

Sementara bank sentral Inggris (BoE) juga diprediksi menaikkan suku bunga acuan kembali pekan ini, menyusul berita inflasi Inggris yang positif.

Di tempat lain, bank sentral Jepang (BoJ) pada Jumat (28/07/2023) membuat kejutan dengan mengubah kebijakan pengendalian imbal hasil (yield curve control/ YCC). BoJ membiarkan biaya pinjaman jangka panjang naik lebih banyak, yang mencerminkan prospek inflasi meningkat.

Seperti diketahui, bank sentral Jepang itu dikenal memiliki sikap dovish dengan mempertahankan suku bunga sangat rendah. Padahal, sebagian besar bank sentral seperti The Fed dan ECB telah menaikkan tajam suku bunga acuan selama setahun terakhir guna memerangi inflasi.

Di sisi lain, pasar global melihat aksi BoJ sebagai langkah kecil supaya sejalan dengan bank-bank sentral utama lainnya setelah puluhan tahun menggelontorkan stimulus besar-besaran. Tapi, Gubernur BoJ Kazuo Ueda menepis pandangan dianggap langkah menuju normalisasi kebijakan.

Menurut Ueda, BoJ dapat mengubah kebijakan lebih lanjut jika kemungkinan mencapai target inflasi 2% mengalami peningkatan.

“Ini adalah langkah penting menuju pembubaran YCC,” ujar Tom Nash, manajer portofolio UBS Asset Management di Sydney, mengacu pada kebijakan kontrol imbal hasil (yield) obligasi BoJ, dilansir Reuters.

Sebagai informasi, dalam pertemuan dua hari yang berakhir pada Jumat, BoJ mempertahankan target suku bunga jangka pendeknya di -0,1% dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun di kisaran 0%.

BoJ juga mempertahankan panduan yang memungkinkan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun bergerak 0,5% ke kisaran target 0%. Hanya saja, untuk sekarang, panduan ini masih sebagai referensi dan bukan batas yang kaku.

Di samping itu, pihaknya juga mengatakan bakal menawarkan membeli obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun (Japan Government Bond/ JGB) dengan suku bunga tetap sebesar 1,0%, daripada suku bunga sebelumnya sebesar 0,5%. Ini menandakan BoJ akan mentoleransi kenaikan imbal hasil obligasi 10 tahun hingga mencapai 1,0%.

Retorika Menaikkan Suku Bunga

Di Eropa dan Amerika Serikat (AS), retorika mendahulukan kenaikan suku bunga sudah umum di antara para pembuat kebijakan sejak tahun lalu. Namun, kini diiringi pandangan lebih luas harga-harga berevolusi dengan kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Pendekatan yang lebih komprehensif ini dapat mendorong perlambatan pertumbuhan pasar tenaga kerja dan ekonomi, yang nantinya akan menjadi bukti laju inflasi akan terus turun.

Hal tersebut mencerminkan peralihan dari sikap para pembuat kebijakan selama setahun terakhir. Regulator mempersyaratkan penurunan tajam dalam kenaikan harga-harga guna memastikan adanya kemajuan dalam perang melawan inflasi. Bank sentral dapat menyuntikkan apa yang digambarkan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell sebagai ‘dosis kesabaran’ sebelum memutuskan perlu tidaknya melanjutkan penaikan suku bunga.

Suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 5,25%-5,50%, sementara suku bunga utama ECB adalah 3,75%.

"Mengingat seberapa jauh kita telah melangkah, kita bisa sedikit bersabar dan juga tegas. Kami ingin pertumbuhan ekonomi yang moderat untuk membantu meringankan tekanan inflasi. Kami ingin penawaran dan permintaan terus seimbang, khususnya di pasar tenaga kerja. Potongan teka-teki itu mulai menyatu,” tutur Powell dalam konferensi pers pada Rabu (26/07/2023), setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk yang ke-11 kalinya dalam 12 pertemuan terakhir.

Pikiran Terbuka

Di ECB, Presiden Christine Lagarde mengatakan bahwa sedikit perubahan dalam pernyataan kebijakan terbaru tidak sekadar acak atau tidak relevan. Tetapi untuk menyampaikan bahwa setelah sembilan kali kenaikan suku bunga secara beruntun, bakal ada jeda pada September, seperti yang dilakukan bank sentral AS pada Juni.

“Kami memiliki pikiran terbuka tentang keputusan apa yang akan diambil pada September dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kami mungkin akan menaikkan atau mungkin mempertahankan. Saya harap sangat jelas kami tidak berada dalam domain panduan ke depan,” tutur Lagarde.

Sebagai informasi, data produk domestik bruto (PDB) AS yang baru pada Kamis menunjukkan jalan menuju jeda global masih jauh dari kepastian mengingat kondisi ekonomi yang terus membingungkan.

Ekonomi AS dilaporkan tumbuh pada 2,4% pada kuartal II-2023. Jauh di atas level ekspansi tahunan 1,8% yang dianggap oleh para pejabat The Fed sebagai tren yang konsisten dengan target inflasi 2%. Namun, data inflasi triwulanan lebih lemah dari perkiraan.

“Meskipun ada risiko material inflasi yang mungkin masih memerlukan kenaikan lebih lanjut. Dalam kasus dasar, ECB seperti halnya The Fed telah selesai menaikkan suku bunga,” demikian tulis Wakil Chairman Evercore ISI Krishna Guha.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 47 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 49 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia