Asean Indo-Pacific Forum Usung Isu Pembiayaan Berkelanjutan
JAKARTA, investor.id – Asean Indo-Pacific Forum (AIPF) yang akan digelar di Jakarta pada 5-6 September 2023 akan mengangkat isu pembiayaan berkelanjutan (sustainable financing). Forum yang digelar dalam rangka keketuaan Asean Indonesia juga akan dihadiri oleh para kepala negara, serta perwakilan dari lembaga keuangan dunia.
Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Pahala Mansury kepada wartawan secara daring, Jumat (18/8/2023).
Lembaga keuangan Uni Eropa (UE) European Investment Bank dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) juga akan mengirimkan para petingginya ke AIPF. Selain sustainable financing, AIPF juga akan turut membahas infrastruktur hijau, transformasi digital, dan ekonomi kreatif.
Wamenlu menilai ada banyak hal yang dapat dikerjasamakan di bidang pembiayaan berkelanjutan.
"Asosiasi bank di Asean sudah menyampaikan bahwa carbon avoidance (pencegahan karbon) adalah salah satu yang bisa dikategorikan sebagai sustainable financing. Kami berharap bank dan lembaga keuangan di Asean bisa (menjelaskan) kepada lembaga lainnya bagaimana sustainable financing bisa dilakukan lewat carbon avoidance," jelas Pahala.
"Serta adanya kesepakatan norma mengenai hal tersebut (sustainable finance dan carbon avoidance)," tambahnya.
Sebagai informasi, carbon avoidance mengacu pada langkah-langkah atau proyek yang fokus pada mengurangi emisi yang dikeluarkan di antaranya lewat penggunaan energi baru terbarukan.
Pahala menambahkan Indonesia saat ini masih menunggu konfirmasi kehadiran dari perwakilan dari gabungan institusi keuangan internasional Glasgow Financial Alliance for Net Zero (Gfanz).
Sebagaimana diketahui, Gfanz bersama International Partners Group (IPG) tahun lalu berkomitmen akan mengucurkan pendanaan iklim senilai US$ 20 miliar untuk mendukung transisi energi Indonesia. Mekanisme pendanaan iklim ini dinamai Just Energy Transition Partnership (JETP).
Gfanz akan memberikan pendanaan senilai US$ 10 miliar. Sedangkan US$ 10 miliar sisanya akan berasal dari IPG yang terdiri dari AS, Jepang, Kanada, Denmark, UE, Prancis, Jerman, Italia, Norwegia, dan Inggris.
Vietnam, yang merupakan negara anggota Asean, juga mendapatkan pendanaan iklim serupa. Namun, nominal pendanaan JETP Vietnam lebih sedikit, yakni senilai US$ 15,5 miliar.
"Kita berharap Indonesia dan Vietnam ini bisa memimpin sebuah diskusi di mana JETP memang mungkin untuk dilaksanakan, khususnya melalui kawasan Asean," ujar Pahala.
Sebagai informasi, Indonesia berencana akan meluncurkan comprehensive investment and policy plan (CIPP) untuk pendanaan JETP pada 16 Agustus 2023 lalu. Dokumen CIPP ini akan menjelaskan terkait detail-detail teknis mengenai JETP. Namun, Indonesia memutuskan untuk menunda peluncuran CIPP ke akhir tahun 2023.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






