Jumat, 15 Mei 2026

Data Ekonomi Eropa Kini Makin Buruk

Penulis : Grace El Dora
24 Aug 2023 | 14:38 WIB
BAGIKAN
Seorang karyawan sedang mengerjakan perakitan kaliper rem untuk kendaraan listrik di Dueren, Jerman bagian barat. (Foto: Ina Fassbender / AFP / Getty Images)
Seorang karyawan sedang mengerjakan perakitan kaliper rem untuk kendaraan listrik di Dueren, Jerman bagian barat. (Foto: Ina Fassbender / AFP / Getty Images)

JAKARTA, investor.id – Aktivitas bisnis Eropa kembali mengalami kontraksi selama Agustus, ke level terendah sejak November 2020. Data terbaru menunjukkan ekonomi Eropa saat ini makin buruk.

Indeks manajer pembelian (PMI) komposit awal zona euro yang dirilis pada Rabu (23/8) turun menjadi 47,0 pada Agustus dari 48,6 pada Juli 2023. Angka ini meleset dari ekspektasi para ekonom yang memperkirakan angka 48,8, menurut Dow Jones.

Angka di atas 50 menandai perluasan aktivitas, sedangkan angka di bawah 50 menandai kontraksi ekonoi. Jika bulan-bulan pandemi Covid-19 tidak diikutsertakan, angka-angka terbaru menunjukkan angka terendah sejak April 2013.

ADVERTISEMENT

Kepala ekonom di Hamburg Commercial Bank Cyrus de la Rubia mengatakan sektor jasa di zona euro “sayangnya menunjukkan tanda-tanda penurunan untuk mengimbangi buruknya kinerja manufaktur”.

Dalam hal rincian antara sektor jasa dan manufaktur, sektor jasa turun ke level terendah dalam 30 bulan di level 48,3 dan PMI manufaktur naik sedikit dari 42,7 pada Juli menjadi 43,7 di bulan ini.

“Mempertimbangkan angka PMI dalam (pertumbuhan) produk domestik bruto (PDB) kami, saat ini membawa kami pada kesimpulan zona euro akan menyusut sebesar 0,2% pada kuartal ketiga,” tambah Rubia.

Zona euro, wilayah yang terdiri dari 20 negara yang menggunakan mata uang yang sama, tumbuh sebesar 0,3% pada kuartal II-2023 setelah meningkat sebesar 0,1% pada kuartal I-2023. Pertumbuhan yang lesu ini menunjukkan dampak dari kenaikan suku bunga dan harga energi serta lemahnya permintaan eksternal.

Namun hal ini juga menutupi perbedaan-perbedaan tajam di wilayah tersebut. Jerman, misalnya, melaporkan kontraksi aktivitas bisnis terdalam pada Agustus 2023.

“Tekanan terhadap perekonomian zona euro pada Agustus terutama berasal dari sektor jasa Jerman yang beralih dari pertumbuhan ke kontraksi dengan kecepatan yang tidak biasa,” kata Rubia. Ia menambahkan, penurunan output di bidang manufaktur juga menambah argumen bahwa Jerman sedang jadi “orang sakit di Eropa”.

Apa Pengaruhnya Bagi ECB

Data ekonomi terkini memimpin diskusi seputar apa yang mungkin dilakukan Bank Sentral Eropa (ECB) pada pertemuan bulan depan.

Setelah pertemuan Juli, Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bank sentral dapat menaikkan suku bunga atau menghentikan kenaikan suku bunga. Pada akhirnya, keputusan akan bergantung pada data baru ekonomi.

“Kami terus memperkirakan inflasi jasa akan cukup mereda dalam beberapa bulan mendatang untuk meyakinkan ECB agar tidak menaikkan suku bunga pada September,” ujar Melanie Debono, ekonom senior Eropa di Pantheon Macroeconomics, dalam sebuah catatan kepada kliennya menurut laporan CNBC internasional. Namun, yang lain tidak setuju.

“Stagnasi lapangan kerja disertai dengan penurunan produksi sehingga menghasilkan output per kapita yang lebih rendah. Akibatnya, ECB mungkin lebih enggan untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga pada September,” kata Rubia.

Analis yang disurvei oleh Refinitiv menunjukkan bank sentral itu kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan depan dengan suku bunga utama saat ini sebesar 3,75%.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia