Steve Forbes: The Fed Tidak Turunkan Suku Bunga dalam Waktu Dekat
WASHINGTON, investor.id – Steve Forbes memperkirakan Federal Reserve (Fed) tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Namun, ketua Forbes Media ini juga tidak memperkirakan adanya penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
“Saya pikir Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Saya pikir mereka akan berhenti sejenak,” kata Forbes, mengutip data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kontradiktif, menurut laporan CNBC internasional pada Selasa (12/9).
“Beberapa hal melemah, pasar tenaga kerja biasanya merupakan indikator yang tertinggal. Tapi laporan (sektor) jasa cukup bagus,” katanya, di sela-sela Konferensi CEO Global Forbes yang diadakan di Singapura. Dengan demikian, gambaran yang beragam ini akhirnya memberi bank sentral alasan untuk tidak berbuat apa-apa.
Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berikutnya dijadwalkan pada 19-20 September 2023. Ada 92% kemungkinan bank sentral akan mempertahankan suku bunga setelah pertemuan September, menurut alat FedWatch CME. Namun probabilitas tersebut bergeser ke peluang kenaikan suku bunga sebesar 38,4% setelah pertemuan November.
The Fed memulai kampanye kenaikan suku bunganya secara agresif pada Maret 2022, ketika inflasi naik ke level tertinggi dalam 40 tahun.
Tentang Shutdown Pemerintahan dan Pemilu AS
Ketika ditanya apakah AS menghadapi potensi penutupan (shutdown) pemerintahan, Forbes mengatakan dirinya memperkirakan hal tersebut mungkin akan terjadi.
Pendanaan untuk pemerintah federal akan habis pada akhir bulan ini kecuali Kongres mengambil tindakan. Kegagalan untuk meloloskan undang-undang pengeluaran akan mengakibatkan penutupan pada 30 September.
Forbes mengatakan pemerintah AS akan “menepati tenggat waktu” sebelum mencapai kesepakatan.
“Tetapi bahayanya, (Ketika) kita terus mendekati tebing, Anda mungkin terpeleset dan melewati tebing. Anda mungkin akan mengalami shutdown pemerintahan,” tukasnya.
Forbes juga memperkirakan pemilu 2024 akan menjadi semacam buku saku dan kondisi perekonomian akan menjadi “masalah nomor satu”.
Isu-isu lainnya akan mencakup kejahatan dan kebijakan luar negeri, seperti posisi pemerintah AS di panggung global serta pendekatannya terhadap Ukraina.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






