Laporan PBB Sebut PDB Palestina Turun 4% Sebulan Setelah Perang
PBB, investor.id – Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan gambaran yang jelas tentang kehancuran akibat runtuhnya perekonomian Palestina setelah sebulan perang dan pengepungan Israel yang hampir total terhadap Gaza.
Produk domestik bruto (PDB) menyusut 4% di Tepi Barat dan Gaza pada bulan pertama perang, menyebabkan lebih dari 400.000 orang jatuh miskin. Dampak ekonomi ini tidak terlihat dalam konflik Suriah dan Ukraina atau perang Israel-Hamas sebelumnya, kata PBB.
Militan Hamas, yang menguasai Gaza, melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober yang menewaskan lebih dari 1.400 orang yang sebagian besar warga sipil dan menculik sekitar 240 lainnya.
Lebih dari dua pertiga penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa telah meninggalkan rumah mereka sejak Israel melancarkan serangan udara intensif selama berminggu-minggu, diikuti dengan operasi darat, untuk melenyapkan Hamas seperti dikutip AP, Selasa (14/11).
Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza pada pekan lalu mengatakan 10.818 warga Palestina, termasuk lebih dari 4.400 anak-anak, menjadi korban jiwa sejauh ini.
Penilaian cepat mengenai konsekuensi ekonomi dari perang Gaza yang dirilis Kamis (9/11) oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) adalah laporan pertama PBB yang menunjukkan dampak buruk dari konflik tersebut, terutama terhadap warga Palestina.
Jika perang berlanjut pada bulan kedua, PBB memproyeksikan PDB Palestina yang sebelum perang dimulai berjumlah US$ 20,4 miliar akan turun sebesar 8,4% dengan kerugian sebesar US$ 1,7 miliar.
Apabila konflik berlangsung hingga bulan ketiga, PDB Palestina akan turun sebesar 12% dengan kerugian US$ 2,5 miliar dan lebih dari 660.000 orang jatuh ke dalam kemiskinan, kata proyeksi PBB.
Asisten Sekretaris Jenderal (Sekjen) Program Pembangunan PBB Abdallah Al Dardari mengatakan hilangnya PDB sebesar 12% pada akhir tahun ini akan menjadi hal yang “besar dan belum pernah terjadi sebelumnya”.
Sebagai perbandingan, katanya, perekonomian Suriah biasanya kehilangan 1% PDB per bulan pada puncak konflik. Sementara Ukraina memerlukan waktu satu setengah tahun untuk berjuang dari serangan Rusia, hingga kehilangan 30% PDB rata-rata sekitar 1,6% sebulan.
Pada awal 2023, wilayah Palestina yakni Tepi Barat dan Gaza dianggap sebagai negara dengan perekonomian berpendapatan menengah ke bawah dengan tingkat kemiskinan US$ 6 per hari per orang, kata Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi Rola Dashti.
Pada Januari, Gaza sudah bergulat dengan tingkat pengangguran yang tinggi yaitu sekitar 46%. Ini tiga setengah kali lebih tinggi dibandingkan di Tepi Barat yang mencapai 13%, kata laporan itu. Namun perang yang terjadi hanya dalam beberapa minggu telah menghancurkan ratusan ribu lapangan kerja.
“Saat perang mencapai satu bulan, 61% lapangan kerja di Gaza setara dengan 182.000 pekerjaan diperkirakan telah hilang. Sekitar 24% lapangan kerja di Tepi Barat juga hilang, setara dengan 208.000 lapangan kerja,” jelasnya.
Al Dardari merujuk pada gangguan besar-besaran terhadap perekonomian di Tepi Barat, yang menyumbang 82% PDB Palestina. Ia menjelaskan, ini seharusnya menjadi musim bagi petani zaitun dan jeruk untuk mengumpulkan hasil panen mereka, namun mereka tidak dapat melakukannya karena adanya perang.
“Musim pariwisata praktis telah berlalu dan pertanian serta pariwisata mewakili 40% PDB di Tepi Barat,” katanya.
Selain itu, kata Al Dardari, terdapat gangguan besar pada perdagangan hingga transfer uang dari Israel ke Otoritas Palestina yang menguasai Tepi Barat dan tidak ada investasi.
Dashti dari Komisi Ekonomi mengatakan tingkat kehancuran tidak terbayangkan dan belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza.
Hingga 3 November diperkirakan 35.000 unit rumah rusak total dan sekitar 220.000 unit rusak sebagian, ujarnya. Laporan tersebut menyebutkan setidaknya 45% unit perumahan di Gaza telah hancur atau rusak.
Jika hal ini terus berlanjut, mayoritas warga Gaza tidak akan memiliki rumah. Menurut dia, bahkan jika pertempuran berakhir sekarang akan ada pengungsian besar-besaran dalam jangka panjang dengan segala konsekuensi pembangunan ekonomi kemanusiaan dan keamanannya.
Al Dardari berkata dirinya sangat sedih melihat wilayah Palestina telah menjadi negara berpendapatan menengah ke bawah.
“Karena semua pertumbuhan dan pembangunan akan mengalami kemunduran dalam 11, 16, atau bahkan 19 tahun jika pertempuran terus berlanjut. ... Kami akan pergi kembali ke tahun 2002,” tandasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




