The Fed Akan Hati-hati Menyeimbangkan Inflasi dan Pertumbuhan
WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell secara terang-terangan menggunakan kata "hati-hati". Hal ini diungkapkan dalam konferensi pers ketika menjelaskan upaya bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk menyeimbangkan risiko inflasi yang masih tinggi dan lonjakan pertumbuhan ekonomi mengejutkan, dengan pengetatan kondisi kredit dan keyakinan The Fed bahwa ekonomi sedang berada di titik puncak perlambatan.
Sementara risalah pertemuan 31 Oktober-1 November 2023, yang dirilis pada Selasa (21/11/2023) pukul 19.00 waktu setempat atau Rabu (22/11/2023) dini hari, diperkirakan menekankan bahwa para pembuat kebijakan moneter AS telah bersatu. Mereka tampaknya tidak mungkin menaikkan target suku bunga lebih lanjut, namun tidak ingin mengatakannya, sedangkan inflasi masih jauh di atas target 2% bank sentral.
"Inflasi telah membuat kita sedikit bingung. Jika memang perlu mengetatkan kebijakan lebih lanjut, kami tidak akan ragu-ragu untuk melakukannya. Bagaimana pun juga, kami bakal terus bergerak dengan hati-hati, yang memungkinkan kami mengatasi risiko disesatkan oleh beberapa bulan data yang bagus, dan risiko pengetatan yang berlebihan,” ujar Powell dalam konferensi riset Dana Moneter Internasional (IMF) awal bulan ini, yang dilansir Reuters pada Selasa.
Di sisi lain, ada perasaan bahwa The Fed mungkin melakukan hal yang tidak terduga dengan mengarah keluar dari lonjakan inflasi terburuk dalam 40 tahun terakhir tanpa menyebabkan kerusakan besar pada perekonomian.
Menurut studi staf Fed New York yang dirilis pada Selasa – sebagai hasil dari model umum ekonomi yang besar – keterlambatan bank sentral AS dalam menaikkan suku bunga, dengan kenaikan pertama terjadi setahun setelah harga-harga mulai meningkat tajam, telah memungkinkan ekonomi mencatatkan lebih banyak pertumbuhan dengan progres yang sama dalam menurunkan inflasi dibandingkan dengan yang terjadi jika kenaikan suku bunga dimulai lebih cepat.
Awal yang tertunda telah memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih tinggi dari yang seharusnya. Tetapi dampak bersihnya positif, karena dorongan awal yang terkait dengan mempertahankan federal funds rate (FFR) mendekati nol pada 2021.
Tingkat inflasi tidak berbeda secara signifikan dengan apa yang akan dicapai melalui awal kenaikan suku bunga yang lebih awal. Namun, hanya sedikit keinginan di antara para pembuat kebijakan untuk menyatakan kemenangan pada saat ini, atau memberikan petunjuk langsung kepada para investor tentang apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Alhasil, dikatakan oleh analis Citi, risalah tersebut kemungkinan mencakup retorika hawkish dangkal bahwa suku bunga masih mungkin bergerak lebih tinggi.
“Namun, kami terus berpikir bahwa para pejabat Fed kemungkinan besar sudah selesai menaikkan suku bunga dalam siklus ini,” demikian isi pratinjau rilis pada Minggu (19/11/2023).
Demikian halnya dengan pemikiran sebagian besar investor, kontrak-kontrak yang terkait dengan FFR semalam menunjukkan probabilitas mendekati nol bahwa The Fed akan bergerak di luar kisaran 5,25%-5,50% saat ini. Sementara itu, FedWatch Tool dari CME Group menempatkan peluang penurunan suku bunga sekitar 57% di pertemuan kebijakan The Fed pada 30 April-1 Mei 2024.
Isi risalah, seperti halnya para pembuat kebijakan The Fed saat ini, tidak akan membahas hal tersebut. Pasalnya, para pejabat berkeras masih belum yakin bahwa suku bunga kebijakan cukup ketat untuk menyelesaikan perang melawan inflasi.
Tetapi, pernyataan terbuka mereka sudah mulai lebih fokus soal berapa lama kemungkinan suku bunga perlu bertahan pada level saat ini dan kurang tentang seberapa tinggi mereka mungkin perlu naik.
“Inflasi tampaknya mulai mereda. Tapi saya juga merasa inflasi akan tetap ‘keras kepala,’ dan hal ini membuat saya yakin bahwa suku bunga akan naik lebih lama lagi,” kata Presiden Fed Richmond Thomas Barkin kepada Fox Business, Senin.
Fokus Inflasi
Sebagai informasi, The Fed telah mempertahankan suku bunga sejak Juli, sekitar empat bulan. Kemudian dalam dua putaran pengetatan kebijakan terakhir, The Fed menurunkan suku bunga acuan pada Juli 2019, tujuh bulan setelah mencapai puncaknya, dan pada September 2007, 15 bulan setelah mencapai tingkat tertinggi untuk siklus tersebut.
Namun, The Fed tidak menangani lonjakan inflasi pada saat itu. Para pembuat kebijakan juga telah mengatakan, keputusan mereka tentang berapa lama mempertahankan suku bunga saat ini akan bergantung pada bagaimana inflasi berperilaku, dengan kemajuan berkelanjutan menuju target 2% sebagai syarat yang diperlukan untuk setiap perubahan.
“Apa yang saya cari adalah bukti yang berkelanjutan mengenai inflasi yang terus menurun. Data saat ini sangat beragam. Saat ini, dengan bersabar adalah keseimbangan yang tepat,” tutur Presiden Fed Boston Susan Collins minggu lalu.
Namun, jika semboyan pada pertemuan terakhir adalah "hati-hati" - Powell menggunakan semboyan tersebut sebanyak delapan kali dalam konferensi pers 1 November – dukungan untuk pendekatan tersebut kemungkinan besar telah meningkat, sejak saat itu.
Data Oktober menunjukkan harga konsumen datar pada basis month-to-month, penjualan ritel sedikit menurun, dan perusahaan-perusahaan hanya menambah 150.000 lapangan pekerjaan. Ini jumlah yang lebih sesuai dengan kinerja ekonomi sebelum pandemi virus corona.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






