Jumat, 15 Mei 2026

Pertumbuhan Ekonomi AS Diperkirakan Turun 

Penulis : Grace El Dora
30 Nov 2023 | 18:38 WIB
BAGIKAN
Seseorang berbelanja di dekat botol saus Chamoy yang dipajang untuk dijual pada 13 Februari di supermarket Los Angeles, Amerika Serikat. (Foto: Getty Images)
Seseorang berbelanja di dekat botol saus Chamoy yang dipajang untuk dijual pada 13 Februari di supermarket Los Angeles, Amerika Serikat. (Foto: Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Para ekonom mengatakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal IV-2023 kemungkinan akan melambat tajam. Ini akan menjadi akibat dampak kumulatif dari tingginya suku bunga pinjaman terhadap belanja konsumen dan dunia usaha.

TD Economics, misalnya, memperkirakan pertumbuhan pada periode Oktober-Desember akan mencapai tingkat tahunan 1,8%.

Mengabaikan suku bunga yang lebih tinggi, konsumen AS mengeluarkan cukup uang untuk membantu mendorong perekonomian ke laju tahunan sebesar 5,2% dari Juli hingga September, menurut laporan pemerintah, dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Pemerintah AS sebelumnya memperkirakan perekonomian tumbuh pada tingkat tahunan 4,9% pada kuartal terakhir.

ADVERTISEMENT

Estimasi kedua pertumbuhan pada Rabu (29/11) untuk kuartal Juli-September menegaskan perekonomian meningkat tajam dari tingkat 2,1% pada April hingga Juni. Laporan tersebut menunjukkan produk domestik bruto (PDB) AS, yakni total output barang dan jasa, tumbuh pada tingkat kuartalan tercepat dalam hampir dua tahun.

Belanja konsumen, yang merupakan sumber kehidupan perekonomian, meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3,6% dari Juli hingga September. Angka ini tergolong masih sehat, namun turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4%.

Investasi swasta melonjak dengan kecepatan tahunan sebesar 10,5%, termasuk peningkatan investasi perumahan sebesar 6,2% yang berlawanan dengan kenaikan suku bunga hipotek.

Perekonomian juga mendapat dorongan dari perusahaan-perusahaan yang membangun persediaan untuk mengantisipasi penjualan di masa depan, menambah 1,4 poin persentase terhadap pertumbuhan triwulanan.

Pertumbuhan pada kuartal III-2023 AS juga didorong peningkatan belanja dan investasi pemerintah di semua tingkatan, antara lain federal, negara bagian, dan lokal.

Perekonomian AS, ekonomi terbesar di dunia, telah terbukti tangguh bahkan ketika The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 11 kali sejak Maret 2022 untuk melawan serangan inflasi terburuk dalam empat dekade.

Suku bunga yang lebih tinggi tersebut telah meningkatkan biaya pinjaman konsumen dan bisnis secara signifikan.

Namun hal ini juga membantu meringankan tekanan inflasi. Indeks harga konsumen (CPI) naik 3,2% bulan lalu dibandingkan 12 bulan sebelumnya, peningkatan yang nyata dari inflasi tahun ke tahun (YoY) sebesar 9,1% yang tercatat pada Juni 2022.

Pasar kerja AS sedang mendingin dibandingkan tingkat panas yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, kondisi ini masih sehat berdasarkan standar historis, dilihat dari para pengusaha menambah rata-rata 239.000 pekerjaan per bulan pada tahun ini.

Tingkat pengangguran pun berada di bawah 4% selama 21 bulan berturut-turut, yang merupakan rekor terpanjang sejak tahun 1960-an.

Kombinasi dari meredanya inflasi dan ketahanan perekrutan tenaga kerja telah meningkatkan harapan The Fed dapat mengelola apa yang disebut soft landing. Bank sentral menaikkan suku bunga secukupnya untuk mendinginkan perekonomian dan menjinakkan kenaikan harga tanpa membawa perekonomian ke dalam resesi.

“Kami terus memperkirakan ekspansi yang sedang berlangsung dalam aktivitas ekonomi, namun lajunya akan melambat secara signifikan (pada kuartal keempat saat ini),” kata Rubeela Farooqi, kepala ekonom AS di High Frekuensi Economics, seperti dikutip AP pada Kamis (30/11).

"Kami mengantisipasi perlambatan belanja rumah tangga, tidak hanya karena pengembalian modal pada kuartal ketiga yang sangat kuat , namun juga karena dampak kumulatif pengetatan kebijakan moneter," imbuhnya.

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada Rabu memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh hanya 1,5% pada 2024, turun dari 2,4% pada 2023. Ini karena pertimbangan kenaikan suku bunga The Fed, 11 di antaranya sejak Maret 2022, terus menghambat pertumbuhan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 45 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 55 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia