Bank Sentral Eropa dan Inggris Kompak Pertahankan Suku Bunga Acuan
LONDON, investor.id – Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Inggris (BoE) kompak mempertahankan suku bunga acuan pada Kamis (14/12/2023). Dengan demikian, ECB mempertahankan suku bunga acuan pada rekor tertinggi sebesar rentang 4,5 - 4,75% dalam dua pertemuan beruntun. Sedangkan BoE mempertahankan suku bunga berada di 5,25% untuk pertemuan ketiga berturut-turut.
Dikutip dari CNBC internasional, tidak hanya mempertahankan suku bunga, ECB juga merevisi perkiraan pertumbuhannya lebih rendah dan mengumumkan rencana untuk mempercepat penyusutan neraca keuangannya.
“Dalam keputusannya nanti, Dewan akan memastikan bahwa tingkat suku bunga yang akan ditetapkan pada tingkat yang cukup restriktif selama yang diperlukan,” demikian pernyataan ECB. Namun, ECB mengubah Bahasa seputar inflasi dari ‘diperkirakan akan tetap terlalu tinggi dalam jangka waktu yang terlalu lama’ menjadi ‘menurun secara perlahan selama tahun depan’.
Proyeksi makro ekonomi terbaru menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil rata-rata meningkat 0,6% pada 2023, dari perkiraan sebelumnya 0,7%. Mereka memperkirakan PDB akan meningkat sebesar 0,8% pada 2024, dari sebelumnya 1%. Perkiraan untuk 2025 tidak berubah, yaitu 1,5%.
Sementara itu, inflasi umum diperkirakan rata-rata sebesar 5,4% pada 2023, 2,7% pada 2024, dan 2,1% pada 2025. Sebelumnya ECB memperkirakan angka inflasi sebesar 5,6% pada tahun ini, 3,2% pada 2024, dan 2,1% pada 2025. ECB kini juga merilis perkiraan baru untuk 2026 sebesar 1,9%.
ECB mengingatkan, tekanan harga dalam kawasan tersebut masih tinggi, terutama karena pertumbuhan biaya tenaga kerja. Para anggota memperkirakan inflasi inti, tidak termasuk energi dan pangan, rata-rata sebesar 5% tahun ini dan 2,7% pada 2024, 2,3% pada 2025, dan 2,1% pada 2026.
Sementara itu, BoE menegaskan, meski mempertahankan suku bunganya, kebijakan moneter ‘kemungkinan perlu dilakukan pembatasan untuk jangka waktu yang lama’.
Inflasi utama Inggris turun menjadi 4,6% tahunan pada Oktober, titik terendah dalam dua tahun, sementara pertumbuhan upah juga tidak sesuai dengan harapan belakangan ini tetapi dengan lebih dari 7%, masih tetap tinggi bagi bank sentral, karena mencari cara membawa inflasi kembali ke targetnya sebesar 2% secara berkelanjutan.
Dalam catatannya, Monetary Policy Committee (MPC) menyebut ‘indikator utama persistensi inflasi Inggris tetap tinggi’, meskipun kebijakan moneter yang lebih ketat menyebabkan pasar tenaga kerja lebih longgar dan membebani aktivitas ekonomi riil.
PDB riil Inggris stagnan pada kuartal ketiga, sejalan dengan proyeksi Dewan Kebijakan Moneter, namun perekonomian secara tak terduga menyusut sebesar 0,3% secara bulanan di Oktober.
Bank sentral Inggris mengakhiri kenaikan 14 kali berturut-turut pada September, setelah menaikkan suku bunga acuan dari 0,1% ke level tertinggi 15 tahun sebesar 5,25% antara Desember 2021 dan Agustus 2023.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






