Boeing dan Airbus Kesulitan Kirim Pesawat, Masalah Rantai Pasokan Berlanjut
NEW YORK, investor.id – Produsen pesawat sudah ketinggalan mengirimkan pesanan mereka saat ini, termasuk pesawat Boeing dan Airbus. Kekurangan suku cadang dan kurangnya tenaga kerja terampil beriringan dengan pulihnya sektor perjalanan dari dampak pandemi Covid-19.
Sebuah pesawat membutuhkan jutaan suku cadang dari pemasok di seluruh dunia, mulai dari mesin dan sabuk pengaman, hingga kabel dan sekrup. Akibatnya, industri ini rentan terhadap gangguan rantai pasokan.
Di antara kesepakatan besar yang diumumkan pada pameran dirgantara terbesar di Asia, Thai Airways memesan 45 unit Boeing 787 Dreamliner, sementara Royal Brunei Airlines membeli empat model populer tersebut.
Airbus Eropa mengatakan pihaknya mendapatkan komitmen dari maskapai Vietnam Vietjet Air untuk membeli 20 unit pesawat model A330-900 miliknya. Pengiriman pertama jatuh tempo pada 2026.
Itu dinilai sebagai target optimis.
Pasalnya, analis penerbangan Shukor Yusof mengatakan Boeing dan Airbus telah mengindikasikan beberapa model populer mereka tidak akan tersedia hingga 2030.
“Pesanan baru akan kesulitan untuk dikirimkan karena terus berlanjutnya kekurangan tenaga kerja dan bahan baku, masalah logistik, serta biaya energi,” ujar Shukor, pendiri konsultan Endau Analytics menurut laporan AFP, Jumat (23/2).
“Meningkatkan tingkat produksi akan sangat sulit dicapai. Anda tidak membuat telepon genggam,” tambahnya.
Penundaan ini berarti maskapai penerbangan tidak dapat menawarkan lebih banyak kursi dan akan terjebak dengan pesawat yang lebih tua dan kurang hemat bahan bakar, sehingga dapat mengurangi keuntungan mereka, ucap Shukor.
Kemacetan Besar
Permasalahan di seluruh rantai pasokan sebagian besar disebabkan oleh pandemi ini ketika pembatasan dan penutupan perbatasan mengganggu pengiriman bahan mentah. Hal ini menyebabkan banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) pilot, pramugari, petugas bagasi, dan mekanik pesawat.
Perang di Ukraina juga mengganggu pasokan minyak dan memicu kenaikan harga barang dan jasa di seluruh dunia.
Ketika pandemi Covid-19 mereda, perjalanan udara kembali meningkat karena permintaan yang terpendam. Sempat melambat selama pandemi, perubahan singkat ini membuat produsen, maskapai penerbangan, bandara, dan pemasok kesulitan untuk mengimbangi permintaan.
“(Rantai pasokan) telah menjadi hambatan besar, masalah besar, terhambatnya kapasitas untuk kembali ke pasar, tertundanya pengiriman pesawat,” tutur Brendan Sobie, analis di konsultan independen Sobie Aviation.
Kekurangan suku cadang menyebabkan pesawat menghabiskan lebih banyak waktu menunggu perawatan, sementara masalah mesin memaksa pesawat dilarang terbang, tambahnya.
Boeing mengatakan setiap 787 Dreamliner membutuhkan sekitar 2,3 juta suku cadang. Beberapa di antaranya dibuat oleh perusahaan tersebut dan lainnya bersumber dari pemasok di seluruh dunia, menurut situs webnya.
Airbus memiliki ribuan pemasok langsung dan tidak langsung dari lebih dari 100 negara tempat mereka mendapatkan suku cadang, komponen, sistem dan layanan, kata perusahaan itu di situs web resminya.
Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional Willie Walsh mengatakan pada seminar menjelang pertunjukan udara bahwa masalah rantai pasokan "kemungkinan akan berlanjut selama beberapa tahun lagi".
Kekurangan tenaga kerja adalah masalah lainnya.
Boeing mengatakan tahun lalu, industri ini akan membutuhkan 649.000 pilot, 690.000 teknisi pemeliharaan, dan 938.000 awak kabin selama 20 tahun ke depan. “Untuk mendukung armada komersial dan memenuhi pertumbuhan jangka panjang dalam perjalanan udara,” kata perwakilan perusahaan.
Lebih lanjut Shukor mengatakan beberapa maskapai penerbangan yang melepaskan pilotnya selama pandemi merasa kesulitan untuk mempekerjakan mereka kembali. Sementara produsen pesawat kesulitan menemukan mekanik dan teknisi pesawat yang sangat terspesialisasi, yang memerlukan waktu untuk dilatih dan mendapatkan lisensi.
Banyak yang “tidak lagi tertarik untuk kembali” ke industri ini karena pandemi Covid-19 membuktikan pekerjaan mereka tidak aman, kata Shukor.
Michael Szucs, CEO maskapai Filipina Cebu Pacific, mengatakan maskapai penerbangannya terpaksa menghentikan operasi 10 unit pesawat yang mungkin bertambah menjadi 16 unit tahun ini karena masalah pada mesin Pratt & Whitney.
Maskapai ini juga terkena dampak penundaan dari Airbus.
“Kami mengalami kekurangan kapasitas karena pesawat dilarang terbang atau pesawat tidak tiba tepat waktu. Menjaga armada tetap terbang tidak pernah sesulit ini,” kata Szucs.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler


