Rupiah Melemah Dipicu Sentimen Suku Bunga Kebijakan AS
JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah pada Selasa (26/3) dibuka melemah, dipicu sentimen suku bunga kebijakan Amerika Serikat (AS). Suku bunga diperkirakan belum akan turun dalam waktu dekat, seperti disampaikan pengamat pasar uang Ariston Tjendra.
Pada awal perdagangan pagi, rupiah turun tiga poin atau 0,02% ke level Rp 15.803 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp 15.800 per dolar AS.
"Pelaku pasar masih mencermati sikap (The Federal Reserve) The Fed yang tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga acuannya," ujar Ariston, Selasa. Hal itu dikarenakan data inflasi yang masih bertahan di atas level target 2% dan beberapa data ekonomi AS masih cukup bagus.
Data perumahan AS yang dirilis semalam yaitu data jumlah izin membangun masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan perekonomian AS masih cukup solid dan bisa menahan inflasi AS di level tinggi.
Di sisi lain, bank sentral China kembali menyuntikkan likuiditas via 7 day reverse repo pagi ini sebesar 150 miliar yuan setelah kemarin juga melakukan hal yang sama dengan besaran 50 miliar yuan.
Suntikan itu seharusnya memberikan sentimen positif untuk aset berisiko seperti rupiah. Pagi ini indeks saham Asia juga bergerak positif.
Rupiah pun mungkin bisa bergerak positif atau menguat terhadap dolar AS setelah sebelumnya melemah menyentuh kisaran resisten Rp 15.800 per dolar AS.
Ariston memprediksi potensi penguatan rupiah ke posisi Rp 15.750 dibandingkan potensi pelemahan ke arah Rp 15.830 hingga Rp 15.850 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






