Jumat, 15 Mei 2026

The Fed Mengaku Khawatir Inflasi AS Tak Cepat Turun

Penulis : Grace El Dora
12 Apr 2024 | 04:41 WIB
BAGIKAN
Gubernur Federal Reserve Amerika Serikat (AS) Jerome Powell mengadakan konferensi pers setelah pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengenai kebijakan suku bunga di Washington, AS pada 20 Maret 2024. (Foto: Elizabeth Frantz / Reuters)
Gubernur Federal Reserve Amerika Serikat (AS) Jerome Powell mengadakan konferensi pers setelah pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengenai kebijakan suku bunga di Washington, AS pada 20 Maret 2024. (Foto: Elizabeth Frantz / Reuters)

WASHINGTON, investor.id – Pejabat The Federal Reserve (The Fed) khawatir inflasi tidak bergerak turun dengan cukup cepat, meskipun mereka masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini.

Sebelumnya, pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman jangka pendek tetap stabil.

Para pembuat kebijakan menunjukkan kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat (AS) menurun, namun tidak memberikan hasil yang cukup meyakinkan untuk penurunan suku bunga. The Fed saat ini menargetkan suku bunga acuan antara 5,25%-5,5%.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, anggota FOMC memilih untuk tetap mempertahankan pernyataan pasca pertemuan. Mereka tidak akan menurunkan suku bunga sampai “mendapatkan keyakinan yang lebih besar” inflasi berada pada jalur yang stabil kembali ke target tahunan bank sentral sebesar 2%.

“Peserta secara umum menyatakan ketidakpastian mereka mengenai masih tingginya inflasi. Dan menyatakan pandangan data terbaru tidak meningkatkan keyakinan mereka bahwa inflasi bergerak turun secara berkelanjutan hingga 2%,” demikian isi risalah tersebut, seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (12/4).

Dalam diskusi panjang mengenai inflasi pada pertemuan tersebut, para pejabat mengatakan gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi tetap menjadi risiko yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Mereka juga menyebutkan potensi kebijakan yang lebih longgar dapat menambah tekanan harga.

Pada sisi negatifnya, mereka menyebutkan pasar tenaga kerja yang lebih seimbang, peningkatan teknologi seiring dengan lemahnya perekonomian di China, serta memburuknya pasar real estat komersial.

Mereka juga membahas angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada Januari dan Februari 2024.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan kemungkinan pembacaan dua bulan tersebut disebabkan oleh masalah musiman, meskipun ia menambahkan sulit untuk memastikannya pada saat ini. Ada anggota rapat yang tidak setuju pada poin ini.

“Beberapa peserta mencatat kenaikan inflasi baru-baru ini terjadi secara relatif luas dan oleh karena itu tidak boleh diabaikan hanya sebagai penyimpangan statistik,” bunyinya.

Bagian dari diskusi tersebut sebagian relevan, mengingat rilis tersebut disampaikan pada hari yang sama ketika The Fed menerima lebih banyak berita buruk mengenai inflasi.

Angka CPI Membenarkan Kekhawatiran Itu

Indeks harga konsumen (CPI), yang merupakan ukuran inflasi yang populer meskipun bukan yang paling menjadi fokus The Fed, menunjukkan tingkat inflasi 12 bulan sebesar 3,5% pada Maret 2024.

Angka tersebut berada di atas ekspektasi pasar dan mewakili peningkatan sebesar 0,3 poin persentase dari bulan sebelumnya, sehingga memunculkan gagasan angka-angka panas di awal tahun mungkin bukanlah suatu penyimpangan.

Setelah rilis data CPI, para trader di pasar berjangka dana fed fund (fed fund future) mengkalibrasi ulang ekspektasi mereka. Perkiraan pasar saat ini menyiratkan penurunan suku bunga pertama yang akan dilakukan pada September 2024, dengan total penurunan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini.

Sebelum rilis tersebut, kemungkinannya mendukung pengurangan pertama yang terjadi pada Juni 2024 dengan total tiga pengurangan, sejalan dengan proyeksi “dot plot” yang dirilis setelah pertemuan Maret 2024.

“Hampir semua peserta menilai akan tepat untuk memindahkan kebijakan ke posisi yang tidak terlalu ketat pada tahun ini jika perekonomian berkembang sesuai perkiraan mereka. Untuk mendukung pandangan ini, mereka mencatat proses disinflasi terus berlanjut dalam jalur yang secara umum diperkirakan tidak merata,” demikian isi diskusi dalam pertemuan tersebut.

Dalam aksi lainnya dalam pertemuan yang sama, para pejabat membahas kemungkinan diakhirinya pengurangan neraca.

The Fed telah memangkas sekitar US$ 1,5 triliun kepemilikan obligasi pemerintah AS alias US Treasury dan surat berharga berbasis hipotek. Ini dilakukan dengan mengizinkan hingga US$ 95 miliar dana dari obligasi yang jatuh tempo untuk diterbitkan setiap bulannya, tidak menginvestasikannya kembali.

Tidak ada keputusan yang dibuat atau indikasi tentang bagaimana pelonggaran yang dikenal sebagai “pengetatan kuantitatif” akan terjadi, meskipun risalah tersebut mengatakan pelonggaran kebijakan moneter akan dipotong “kira-kira setengah” dari kecepatan saat ini dan prosesnya harus dimulai dalam waktu dekat.

Mayoritas ekonom pasar memperkirakan proses ini akan dimulai dalam satu atau dua bulan ke depan.

Risalah tersebut juga mencatat para anggota percaya pendekatan “hati-hati” harus diambil.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 10 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 20 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia