Xi Jinping Kini “Big Brother” Bagi Putin, Perubahan Hubungan 2 Negara
LONDON, investor.id – Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini ke China menyoroti semakin dalamnya ikatan antara kedua negara, di tengah serangan Rusia ke Ukraina. Perubahan dalam beberapa tahun terakhir seakan membuat hubungan dua pemimpin ini mendekat seperti hubungan saudara.
Namun, peran “kakak tertua” tampaknya kini berbalik. Transformasi relasi kedua negara membuat pemerintah Rusia semakin bergantung pada China di tengah sanksi Barat atas konflik dengan Ukraina.
Putin (71) disambut oleh pengawal kehormatan Tentara Pembebasan Rakyat setibanya di Beijing, ibu kota China. Pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping (70) di Beijing menandai perjalanan pertama Putin ke luar negeri sejak terpilih kembali menjadi presiden pada Maret 2024.
“China bersedia... bersama mencapai pembangunan dan peremajaan negara kita masing-masing, dan bekerja sama untuk menegakkan keadilan dan keadilan di dunia,” ungkap Xi.
Poin Penting Kemitraan China dan Rusia
Kemitraan Strategis: Kunjungan Putin merupakan wujud persatuan strategis melawan tekanan Barat, dan menekankan hubungan erat antara Rusia dan China.
Kolaborasi Militer: Kunjungan ini menyoroti peningkatan kerja sama militer antara kedua negara, termasuk latihan angkatan laut bersama dan latihan militer.
Saling Ketergantungan Ekonomi: Peran China sebagai pemasok penting bagi sektor pertahanan Rusia menunjukkan saling ketergantungan ekonomi antara kedua negara.
Implikasi Global: Penguatan aliansi antara Rusia dan China mempunyai implikasi signifikan terhadap dinamika kekuatan global, sehingga menantang tatanan internasional saat ini.
Mengapa Poin-Poin Ini Penting
Pembangkangan Terhadap Barat: Aliansi antara Rusia dan China berfungsi sebagai penyeimbang dominasi negara-negara Barat di panggung global.
Dukungan Ekonomi: Dukungan China memperkuat perekonomian Rusia dan meningkatkan kemampuan militernya melalui transfer teknologi dan latihan bersama.
Baca Juga:
Rusia dan China Kecam Agresivitas ASKekhawatiran dari Barat: Aliran teknologi China ke sektor pertahanan Rusia telah menimbulkan kekhawatiran di Barat. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kekhawatiran mengenai peran China dalam mendukung operasi militer Rusia.
Pembalikan Peran “Kakak”
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Rusia dan China telah mengalami transformasi yang signifikan. Perubahan ini membuat pemerintah Rusia semakin bergantung pada China di tengah sanksi Barat atas konflik Ukraina.
Apa yang tadinya dipandang sebagai kemitraan setara kini menjadi semakin asimetris, dengan China yang lebih unggul.
Menurut laporan BBC pada Jumat (17/5/2024), China telah muncul sebagai sumber penting barang-barang penting bagi Rusia, mulai dari barang elektronik, mesin cuci, hingga traktor.
Ekspor senjata Rusia ke China telah menurun tajam, sementara China telah menjadi penyedia utama optik, mikroelektronik, mesin pesawat nirawak (drone), dan bahan-bahan lain yang penting untuk produksi senjata Rusia.
Disparitas Perdagangan
Data dari CEIC Data menunjukkan China menyumbang sekitar 33% dari keseluruhan perdagangan Rusia, sementara Rusia hanya menyumbang 4% dari perdagangan China. Kesenjangan perdagangan ini menyoroti semakin besarnya pengaruh ekonomi China terhadap Rusia.
Perdagangan Energi
Perdagangan energi antara kedua negara juga bergeser ke arah China. Ketika negara-negara Eropa menghindari minyak dan gas Rusia, Rusia harus menjual sumber dayanya ke China dengan diskon besar.
Kemitraan Strategis
Direktur Carnegie Russia Eurasia Center Alexander Gabuev di Berlin menggambarkan hubungan Rusia-China sebagai kemitraan strategis di mana kedua belah pihak saling membutuhkan. Namun kini relasi tersebut semakin menguntungkan China.
Pengaruh China terhadap Rusia terlihat jelas dalam negosiasi proyek-proyek seperti pipa gas Power-of-Siberia 2. Keengganan pemerintah China untuk menyelesaikan persyaratan menunjukkan dominasinya atas Rusia.
Penghormatan Putin kepada Xi
Terlepas dari reputasinya yang angkuh dalam menunjukkan kekuasaan, Putin bersikap sangat hormat terhadap Xi Jinping. Pergeseran sikap ini mencerminkan peran penting China dalam kemitraan ini.
Berikut ini sejumlah pernyataan yang menggambarkan arah kerja sama kedua negara tetangga tersebut.
“Kemitraan strategis tingkat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara negara-negara kita itulah yang menentukan pilihan saya terhadap China sebagai negara pertama yang akan saya kunjungi setelah resmi menjabat sebagai presiden Federasi Rusia,” ujar Putin.
“Kami akan mencoba menjalin kerja sama yang lebih erat di bidang industri dan teknologi tinggi, ruang angkasa dan energi nuklir untuk tujuan damai, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), sumber energi terbarukan, dan sektor inovatif lainnya,” sebut Putin.
“Ini adalah kunjungan pertama Putin setelah pelantikannya, dan karena itu dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan Sino-Rusia semakin meningkat,” tutur analis politik independen Rusia Konstantin Kalachev seperti dikutip AFP.
“Hubungan China-Rusia saat ini diperoleh dengan susah payah, dan kedua belah pihak perlu menghargai dan memeliharanya,” kata Xi kepada Putin.
“China bersedia... bersama mencapai pembangunan dan peremajaan negara kita masing-masing, dan bekerja sama untuk menegakkan keadilan dan keadilan di dunia,” sebut Xi.
“Amerika Serikat masih berpikir dalam konteks Perang Dingin dan berpedoman pada logika konfrontasi blok, menempatkan keamanan ‘kelompok sempit’ di atas keamanan dan stabilitas regional, yang menciptakan ancaman keamanan bagi semua negara di kawasan,” demikian bunyi pernyataan bersama kedua pemimpin.
“AS harus meninggalkan perilaku ini,” imbuhnya.
Kunjungan Putin ke China menandakan aliansi yang semakin erat antara kedua negara, ketika China muncul sebagai pendukung utama Rusia di tengah konfliknya dengan Ukraina.
Penguatan hubungan antara Rusia dan China jelas memiliki implikasi yang lebih luas terhadap dinamika kekuatan global, menantang tatanan internasional yang ada. Ini juga menyoroti perkembangan hubungan antara dua “presiden seumur hidup” yakni Putin dan Xi Jinping.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






