Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi AS Melandai, Akan Jadi Alasan The Fed Pangkas Suku Bunga

Penulis : Grace El Dora
14 Aug 2024 | 20:46 WIB
BAGIKAN
Pelanggan sedang berbelanja di toko bahan makanan di Chicago, Illinois, Amerika Serikat (AS) pada 13 Oktober 2022. (Foto: SCOTT OLSON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Pelanggan sedang berbelanja di toko bahan makanan di Chicago, Illinois, Amerika Serikat (AS) pada 13 Oktober 2022. (Foto: SCOTT OLSON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

WASHINGTON, investor.id – Inflasi Amerika Serikat (AS) melandai sesuai perkiraan pada Juli 2024. Pendinginan ini yang kemungkinan akan menjadi alasan utama The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga pada September 2024.

Indeks harga konsumen (CPI), sebagai ukuran harga barang dan jasa secara luas, meningkat hanya 0,2% untuk Juli 2024 sehingga tingkat inflasi 12 bulan kini bertengger di level 2,9%. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones telah mengincar angka masing-masing sebesar 0,2% dan 3% untuk memberikan kepastian The Fed mengubah arah kebijakannya.

Inflasi yang naik 0,2% pada Juli 2024 didorong oleh biaya terkait perumahan, kata laporan Departemen Tenaga Kerja negara itu yang dirilis Rabu (14/8/2024). Tidak termasuk makanan dan energi, CPI inti naik 0,2% per bulan (MoM) dan 3,2% per tahun (YoY) yang sesuai ekspektasi ekonom.

ADVERTISEMENT

Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja, tingkat tahunan tersebut adalah yang terendah sejak Maret 2021, sedangkan inti adalah yang terendah sejak April 2021. Inflasi utama adalah 3% pada Juni 2024.

Kenaikan biaya tempat tinggal sebesar 0,4% bertanggung jawab atas 90% kenaikan inflasi semua barang. Harga makanan naik 0,2%, sedangkan harga energi tetap datar.

Kontrak berjangka pasar saham sedikit negatif setelah laporan tersebut sementara imbal hasil (yield) pemerintah AS alias US Treasury sebagian besar lebih tinggi.

Meskipun inflasi makanan lemah pada bulan tersebut, beberapa kategori mengalami kenaikan yang cukup besar, terutama harga telur yang naik 5,5%. Harga serealia dan roti turun 0,5%, sementara susu dan produk terkait turun 0,2%.

Inflasi secara bertahap kembali ke target bank sentral sebesar 2%. Laporan dari Departemen Tenaga Kerja pada Selasa (13/8/2024) menunjukkan indeks harga produsen (PPI), proksi untuk inflasi grosir, naik hanya 0,1% pada Juli 2024 dan naik 2,2% dari tahun ke tahun (YoY).

Pejabat The Fed telah mengindikasikan keinginan untuk melakukan pelonggaran, meskipun mereka berhati-hati untuk tidak berkomitmen pada jadwal tertentu atau berspekulasi tentang kecepatan pemotongan yang mungkin terjadi.

Harga pasar berjangka saat ini menunjukkan peluang yang hampir sama untuk pengurangan seperempat atau setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps) pada pertemuan 17-18 September 2024.

Ekonom bahkan memperkirakan rentang penurunan suku bunga bisa mencapai setidaknya satu poin persentase penuh atau 100 bps dalam pergerakan pada akhir 2024.

Ketika inflasi mereda, kekhawatiran yang muncul tentang pasar tenaga kerja yang melambat tampaknya telah meningkatkan kemungkinan bank sentral akan mulai memangkas untuk pertama kalinya sejak hari-hari awal krisis pandemi Covid-19.

"Turun tetapi area yang sulit terus menjadi sulit," kata Liz Ann Sonders, kepala strategi investasi di Charles Schwab, dalam menjelaskan laporan CPI.

"Kita harus mencermati data inflasi dan juga data ketenagakerjaan," sambungnya. Menurutnya, ada beberapa arus silang dalam laporan tersebut yang memang menunjukkan inflasi membandel di beberapa area.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia