Jumat, 15 Mei 2026

Persaingan Trump-Harris Makin Tajam di Debat Kedua Pilpres AS

Penulis : Grace El Dora
11 Sep 2024 | 13:24 WIB
BAGIKAN
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) dan calon presiden dari Partai Republik Donald Trump berbicara selama debat presiden dengan Wakil Presiden AS dan calon presiden dari Partai Demokrat Kamala Harris di National Constitution Center di Philadelphia, Pennsylvania, AS pada 10 September 2024. (Foto: Saul Loeb/ AFP/ Getty Images)
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) dan calon presiden dari Partai Republik Donald Trump berbicara selama debat presiden dengan Wakil Presiden AS dan calon presiden dari Partai Demokrat Kamala Harris di National Constitution Center di Philadelphia, Pennsylvania, AS pada 10 September 2024. (Foto: Saul Loeb/ AFP/ Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Persaingan Donald Trump dan Kamala Harris makin tajam setelah debat kedua Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS). Kedua kandidat presiden itu berselisih tentang kebijakan China, menjadi topik utama selama debat presiden yang diselenggarakan oleh ABC News pada Selasa malam (Rabu pagi WIB).

Harris dalam pernyataan terbuka mengkritik kebijakan tarif Trump, yang mencakup janji memberlakukan bea masuk menyeluruh sebesar 10% hingga 20% pada semua impor.

"Lawan saya memiliki rencana yang saya sebut 'pajak penjualan Trump', yang akan menjadi pajak sebesar 20% atas barang-barang sehari-hari yang Anda andalkan untuk bertahan hidup selama sebulan," ujar Harris seperti dikutip CNBC internasional, Rabu (11/9/2024). Ia menambahkan, kebijakan tersebut akan memukul keluarga kelas menengah.

ADVERTISEMENT

Trump membela usulan tarifnya, yang mencakup bea masuk tambahan sebesar 60% hingga 100% terhadap China yang akan memperparah perang dagang yang dimulainya pada pemerintahan pertamanya.

“Akhirnya, setelah 75 tahun, negara-negara lain akan membayar kita kembali atas semua yang telah kita lakukan untuk dunia, dan tarifnya akan sangat besar,” kata mantan presiden itu. Menurutnya, pemerintahannya telah menerima miliaran dolar dari China.

Para ekonom memperkirakan bisnis dan konsumen akhir AS menanggung beban tarif yang dikenakan Trump pada 2018 dan 2019 terhadap Uni Eropa (UE) dan China.

Trump juga menunjukkan pemerintahan Biden-Harris mempertahankan sebagian besar tarif pemerintahan Trump terhadap China.

Poin Debat Pilpres AS

Trump memulai debat dengan relatif tenang dibandingkan dengan persona kampanye rapat umum yang hingar bingar. Namun, sikapnya berubah menjadi marah saat Harris menyindirnya tentang beberapa masalah, termasuk masalah hukumnya, jumlah massa rapat umum, dan perubahan kebijakan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia