Jumat, 15 Mei 2026

Korut Ancam Akan Kirim Drone ke Ibu Kota Korsel

Penulis : Grace El Dora
31 Okt 2024 | 13:32 WIB
BAGIKAN
Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, tiba di Kosmodrom Vostochny di wilayah Amur, Rusia, untuk menghadiri pertemuan puncak antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara pada 13 September 2023. Dua negara semenanjung Korea meningkatkan ketegangan akibat selebaran propaganda. (Foto: Reuters)
Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, tiba di Kosmodrom Vostochny di wilayah Amur, Rusia, untuk menghadiri pertemuan puncak antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara pada 13 September 2023. Dua negara semenanjung Korea meningkatkan ketegangan akibat selebaran propaganda. (Foto: Reuters)

SEOUL, investor.id – Dua negara semenanjung Korea meningkatkan ketegangan akibat selebaran propaganda. Korea Utara (Korut) mengancam akan mengerahkan kendaraan udara tak berawak (UAV/ drone) untuk menyebarkan selebaran di atas ibu kota Korea Selatan (Korsel), Seoul.

Pemerintah Korut juga menegaskan kembali klaim militer Korsel baru-baru ini mengirim pesawat nirawak penyebar selebaran ke wilayahnya.

“Akan menarik untuk melihat bagaimana mereka akan menggonggong jika sebuah pesawat nirawak muncul di Seoul dan menyebarkan selebaran," ucap Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Rabu (30/10/2024). Pernyataan ini disampaikan lewat kantor berita Korean Central News Agency (KCNA) milik pemerintah.

ADVERTISEMENT

Mencatat situasi hipotetis, Kim Yo-jong melontarkan komentar lainnya.

“Sebuah pesawat nirawak tak dikenal muncul di atas Seoul dan menyebarkan selebaran yang mengecam ‘boneka Yoon (tampaknya merujuk pada Presiden Korsel Yoon Suk Yeol, red). Militer kami, organisasi individu, atau individu mana pun yang belum menerbangkan pesawat nirawak, tidak dapat mengonfirmasi tindakan tersebut, dan tidak menganggapnya layak untuk ditanggapi,” lanjutnya.

Pernyataannya tampaknya mengkritik tanggapan militer Korsel atas klaim Korut bahwa Korsel mengirim drone yang membawa selebaran anti-rezim ke Pyongyang awal bulan ini. Kritikan ini juga soal Korut menemukan serpihan dari UAV jenis yang sama yang dioperasikan oleh militer Korsel.

"Kami tidak dapat verifikasi (klaim tersebut), dan klaim tersebut tidak layak dibalas," kata Kepala Staf Gabungan (JCS), merespons klaim dari Korut.

Selanjutnya, menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan serangan drone Korut, juru bicara JCS Kolonel Lee Sung-joon menyampaikan pendapatnya dalam sebuah pengarahan.

"Jika pesawat nirawak dari Korea Utara menyusup (ke wilayah Korea Selatan), kami akan mengambil tindakan yang sesuai serta langkah-langkah yang tepat untuk melindungi keselamatan dan properti rakyat kami," sambungnya.

Sementara itu, KCNA memuat analisis dari Kementerian Pertahanan Nasional Korut mengenai catatan penerbangan UAV Korsel yang diklaimnya telah menyusup ke Pyongyang.

Menurut analisis tersebut, drone itu lepas landas dari Pulau Baengnyeong di Laut Barat pada 11:25 malam pada 8 Oktober 2024.

Korut Ancam Akan Kirim Drone ke Ibu Kota Korsel
Gambar ini yang dimuat oleh Kantor Berita Pusat Korea milik pemerintah Korea Utara pada Senin (28/10/2024) menunjukkan jalur penerbangan pesawat nirawak (drone) yang diklaim Korea Utara (Korut) dikirim oleh militer Korea Selatan (Korsel) pada 8 Oktober 2024. (Foto: Yonhap)

Alat tersebut menyebarkan "sampah bermotif politik" di Pyongyang antara gedung kementerian luar negeri Korut dan stasiun metro Sungri pada pukul 01:32 pagi pada 9 Oktober 2024, serta di dekat kementerian pertahanan pada pukul 1:35 pagi.

Pemerintah Korut menggambarkan ini sebagai "provokasi tak tahu malu oleh gangster militer Korea Selatan".

JCS Korsel menolak berkomentar langsung tentang analisis Korut lagi, dengan menyatakan klaim tersebut tidak layak dikonfirmasi atau disangkal.

"Korea Utara telah mengirim pesawat nirawak ke wilayah udara kami lebih dari selusin kali dalam dekade terakhir, mengancam keselamatan rakyat kami. Mereka seharusnya malu dengan klaim mereka," kata juru bicara JCS.

Analis yakin Korut mungkin mencoba mengubah skenario hipotetis yang disebutkan oleh Kim menjadi kenyataan.

"Komentar Kim Yo-jong tentang skenario hipotetis cukup tidak biasa. Komentar itu tampaknya mengejek respons Korea Selatan terhadap dugaan insiden pesawat nirawak Pyongyang dan menjadikan masalah ini sebagai sumber ketegangan antar-Korea," tutur Yang Moo-jin, presiden Universitas Studi Korea Utara.

Ia menambahkan, analisis Korut yang menyimpulkan militer Korsel berada di balik dugaan serangan drone tersebut dapat menjadi persiapan untuk upaya potensial untuk menyebarkan selebaran anti-Korea Selatan di lokasi-lokasi penting, seperti kantor kepresidenan atau markas besar JCS di Seoul.

"Mereka kemudian akan mengklaimnya sebagai tindakan balasan," imbuh Yang.

Pekan lalu, selebaran propaganda anti-Korea Selatan yang dibawa oleh balon sampah Korut ditemukan di kompleks kepresidenan di Distrik Yongsan, Seoul. Tidak jelas apakah Yoon berada di kantor pada saat itu. Presiden mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden Polandia Andrzej Duda di kantornya pada hari yang sama.

Korut Ancam Akan Kirim Drone ke Ibu Kota Korsel
Seseorang mengumpulkan selebaran anti-Korea Selatan yang tersebar di dekat kantor kepresidenan di Distrik Yongsan, Seoul, Korsel pada 24 Oktober 2024. (Foto: Yonhap)

Selebaran tersebut berisi pesan-pesan kritis yang ditujukan kepada Yoon dan ibu negara Kim Keon Hee. Beberapa bahkan membandingkannya dengan "Marie Antoinette modern" karena gaya hidupnya yang tampaknya mewah.

Insiden ini menandai kasus pertama yang diketahui tentang Korut yang menggunakan balon pembawa sampah untuk menyebarkan selebaran propaganda.

Sejak Mei 2024, pemerintah Korut telah meluncurkan ribuan balon berisi sampah pada 30 kesempatan berbeda terutama untuk membawa kertas bekas atau kantong plastik. Beberapa kritikus telah menyuarakan kekhawatiran Korut mungkin mengalihkan fungsi balon dari sekadar menyebarkan sampah menjadi menggunakannya sebagai alat untuk kampanye propaganda, atau bahkan untuk mengirimkan bahan-bahan berbahaya.

Selama pengarahan pada Senin (28/10/2024), juru bicara JCS menggambarkan selebaran Korut di kompleks kepresidenan sangat kasar dengan tidak ada dampak atau signifikansi nyata.

Pemerintah Korsel tetap waspada terhadap potensi serangan drone Korut setelah sebuah insiden pada Desember 2022, ketika lima UAV Korut melintasi perbatasan. Sebagai tanggapan, militer membentuk komando operasi drone pada September 2023 untuk mengatasi ancaman tersebut.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia