Jumat, 15 Mei 2026

Putin Akan Kerahkan Rudal Jika AS Provokasi Rusia

Penulis : Grace El Dora
18 Des 2024 | 12:17 WIB
BAGIKAN
Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh pemerintah Amerika Serikat (AS) mencoba mendorong Rusia melewati garis merahnya. Putin seraya memperingatkan Kremlin akan mencabut pembatasan pengerahan rudal jarak pendek dan menengah jika AS terlebih dahulu mengerahkan senjata serupa. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)
Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh pemerintah Amerika Serikat (AS) mencoba mendorong Rusia melewati garis merahnya. Putin seraya memperingatkan Kremlin akan mencabut pembatasan pengerahan rudal jarak pendek dan menengah jika AS terlebih dahulu mengerahkan senjata serupa. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)

ISTANBUL, investor.id – Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengerahkan rudal apabila pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan provokasi terhadap Rusia. Putin mengatakan AS mencoba mendorong Kremlin melewati "garis merahnya".

Putin juga memperingatkan Rusia akan mencabut pembatasan pengerahan rudal jarak pendek dan menengah, jika AS terlebih dahulu mengerahkan senjata serupa.

Presiden Rusia itu berbicara dalam pertemuan dewan Kementerian Pertahanan Rusia di Moskow, seperti dilaporkan Anadolu pada Selasa (17/12/2024). Putin mengatakan, negara-negara aliansi Pakta Pertahana Atlantik Utara (NATO) meningkatkan pengeluaran militer dan membentuk kelompok pasukan NATO di dekat perbatasan Rusia.

ADVERTISEMENT

Presiden Rusia itu mengeklaim jumlah personel militer AS di Eropa kini telah melampaui 100.000 orang.

"Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah aktivitas AS dalam menciptakan dan mempersiapkan pengerahan senjata serangan presisi tinggi berbasis darat dengan jangkauan tembak hingga 5.500 kilometer (3.417 mil)," kata dia, Selasa.

Putin menegaskan, pemindahan dan pengerahan sistem rudal semacam itu di Eropa dan kawasan Asia Pasifik sedang direncanakan secara bersamaan.

Ia menambahkan, langkah-langkah seperti itu sebelumnya dilarang oleh Perjanjian Angkatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty). Perjanjian Angkatan Nuklir Jarak Menengah (INF), yang ditandatangani AS dan Rusia pada 1987, melarang penggunaan rudal nuklir dan konvensional berbasis darat.

Namun, pemerintah AS menarik diri dari perjanjian pengendalian senjata tersebut pada 2019 dengan alasan pelanggaran yang dilakukan Rusia.

"Kami telah berulang kali menyatakan penghentian perjanjian ini akan membawa konsekuensi negatif bagi keamanan global. Tetapi kami juga menekankan, kami tidak akan mengerahkan rudal jarak menengah dan pendek hingga senjata semacam itu dari Amerika muncul di wilayah mana pun di dunia. Faktanya, Rusia secara sepihak telah mengambil kewajiban ini. Namun, seperti yang telah saya katakan, jika AS mulai mengerahkan sistem semacam itu, maka semua pembatasan sukarela kami akan dicabut," katanya dengan nada memperingatkan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia