China Sebut Politikus AS Putar Balikkan Fakta Peredaran Narkoba
BEIJING, investor.id – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan beberapa politikus Amerika Serikat (AS) hanya memutarbalikan fakta terkait masalah peredaran narkoba. Fakta tersebut ditutupi hingga harus mengusulkan Rancangan Undang-undang (RUU) yang ditujukan ke China.
"China tentu tidak akan menerimanya ketika beberapa politikus AS memutarbalikkan fakta dan menggunakan disinformasi untuk mencoreng upaya antinarkotika China," papar Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (18/12/2024).
Sehari sebelumnya, sejumlah anggota parlemen AS dari dua partai mengusulkan tiga RUU yang bertujuan untuk menindak tegas peran China dalam krisis fentanil AS.
Ketiga RUU tersebut diharapkan dapat membantu menyelamatkan nyawa, sekaligus membantu memastikan perusahaan-perusahaan di China yang memproduksi dan mengekspor bahan kimia mematikan dimintai pertanggungjawaban.
"China memiliki tekad dan hukuman terberat terhadap narkoba dan kami memiliki salah satu rekam jejak antinarkotika terbaik di dunia. China telah memasukkan jumlah zat terlarang terbanyak dan memiliki pengendalian narkoba paling ketat di dunia," tutur Lin Jian.
Setiap hari, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China itu, otoritas antinarkotika Negara Tirai Bambu tersebut memberantas peredaran bahan kimia prekursor secara ilegal sesuai dengan hukum. Ia juga mengklaim pemerintah memastikan perusahaan terkait menjalankan bisnis mereka sesuai dengan hukum dan peraturan.
"AS perlu mencari akar penyebab masalah penyalahgunaan narkoba. Kami menyerukan kepada para politikus AS untuk mengatasi masalah-masalah i AS secara langsung dan mengambil langkah-langkah yang lebih praktis untuk memperkuat pengendalian narkoba dan mengurangi permintaan di dalam negeri, dibanding menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam," tekannya.
Adapun RUU yang diusulkan itu akan melibatkan permintaan pertanggungjawaban Partai Komunis China (PKC) yang berkuasa di China.
"(Karena) secara langsung memicu krisis fentanil melalui subsidi negara terhadap prekursor (dan) gagal secara agresif mengejar eksportir zat-zat yang mematikan atau mengawasi platform e-commerce di China untuk penjualan fentanil," demikian tertulis dalam RUU tersebut, seperti dikutip Lin Jian.
Satu RUU, yaitu RUU Sanksi Fentanil PKC yang diusulkan anggota Partai Demokrat Jake Auchincloss akan mengatur kewenangan AS untuk memutus perusahaan-perusahaan China dari sistem perbankan AS. Ini termasuk kapal, pelabuhan, dan pasar daring yang secara sadar atau tidak hati-hati memfasilitasi pengiriman narkotika sintetis ilegal.
Sedangkan dua RUU lainnya mengatur pembentukan satuan tugas dari badan-badan AS untuk melakukan operasi gabungan. Operasi ini dikatakan akan memutus jaringan perdagangan manusia dan mengenakan sanksi perdata kepada entitas-entitas di China yang gagal menerapkan transparansi dan perlindungan terkait pencegahan perdagangan narkoba.
Sebelumnya, presiden terpilih AS Donald Trump yang mengatakan dirinya sudah banyak bicara dengan China tentang sejumlah besar obat-obatan terlarang. “Khususnya fentanil, yang dikirim ke AS, tetapi tidak ada hasilnya... dan obat-obatan terlarang mengalir ke negara kita," kata Trump lewat media sosial miliknya Truth Social.
Trump pun menyebut AS akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen kepada China untuk semua impor China pada hari pertama Trump menjabat yaitu pada 20 Januari 2025.
Trump juga menuding otoritas China tidak mengambil tindakan cukup tegas untuk menghentikan aliran narkoba ke AS dari Meksiko. Jika China tak bisa menghentikan narkoba, tarif tambahan sebesar 10% akan diterapkan pada semua produk yang masuk ke AS.
Sementara itu, pemerintah China sebelumnya sudah berjanji akan membendung ekspor barang-barang yang terkait dengan produksi opioid fentanil, penyebab utama overdosis obat di AS.
Fentanil awalnya diresepkan dokter untuk meredakan rasa sakit. Namun kemudian, fetanil menyebabkan epidemi kecanduan di AS dengan kasus overdosis yang menyebabkan sekitar 100.000 kematian setiap tahunnya.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah AS menyebut China sumber utama bahan kimia prekursor (bahan dasar) yang kemudian disintesis menjadi fentanil oleh kartel narkoba di Meksiko. Namun pihak berwenang China berulang kali menyangkal tuduhan AS ini.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






