China Pertahankan Suku Bunga Demi Kerek Pertumbuhan Ekonomi
BEIJING, investor.id – Otoritas China mempertahankan suku bunga acuan pinjaman utamanya tidak berubah pada Jumat (20/12/2024). Pemerintah China menghadapi tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sambil menahan pelemahan yuan.
Bank Rakyat China (PBoC) mengatakan akan mempertahankan suku bunga acuan pinjaman satu tahun pada 3,1%, dengan LPR lima tahun pada 3,6%.
LPR tenor satu tahun memengaruhi pinjaman korporasi dan sebagian besar pinjaman rumah tangga, sementara LPR tenor lima tahun berfungsi sebagai acuan untuk suku bunga hipotek. Langkah tersebut diharapkan menurut jajak pendapat Reuters terhadap 27 ekonom, seperti dikutip CNBC internasional pada Jumat.
Keputusan suku bunga tersebut diambil setelah pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) yang diharapkan secara luas oleh The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (18/12/2024).
Bank sentral Amerika Serikat (AS) itu juga mengindikasikan akan memangkas suku bunga hanya dua kali pada 2025, lebih sedikit dari empat pemangkasan dalam proyeksi pertemuannya pada September 2024.
Para analis mengatakan prospek revisi The Fed mengenai pemangkasan suku bunga di masa mendatang tidak mungkin memiliki pengaruh besar pada lintasan pelonggaran kebijakan oleh bank sentral China, meskipun hal itu dapat memberikan tekanan pada yuan Negara Tirai Bambu tersebut.
Awal bulan ini, pejabat tinggi China berjanji pada pertemuan penetapan agenda ekonomi utama untuk meningkatkan langkah-langkah pelonggaran moneter. Ini termasuk menerapkan pemangkasan suku bunga, untuk menopang ekonomi yang sedang sakit.
PBoC mempertahankan LPR satu tahun dan lima tahun tidak berubah pada November 2024, menyusul pemangkasan 25 bps yang telah diantisipasi secara luas pada Oktober 2024. Bank sentral itu telah mengejutkan pasar dengan memangkas suku bunga pinjaman jangka pendek dan jangka panjang utama pada Juli 2024.
Bank-bank investasi besar dan perusahaan riset memperkirakan yuan China akan melemah lebih lanjut tahun depan, untuk mengantisipasi kemungkinan presiden terpilih Donald Trump menindaklanjuti ancaman tarif impor ke AS.
Meskipun ada serangkaian langkah stimulus sejak akhir September 2024, data ekonomi terbaru dari China menunjukkan negara itu masih berjuang melawan deflasi yang mengakar, di tengah permintaan konsumen yang suam-suam kuku dan kemerosotan pasar properti yang berkepanjangan.
Siklus pelonggaran The Fed ke depannya akan menciptakan "ruang bagi PBoC untuk menindaklanjutinya", kata kepala strategi pasar berkembang dan China di Alpine Macro Yan Wang. Ia juga menekankan pelonggaran fiskal akan memainkan peran yang lebih penting dalam mendorong ekonomi China tahun depan.
Wang yakin PBoC harus terus memangkas suku bunga untuk meredakan tekanan deflasi yuan terhadap mata uang lainnya.
"Sementara itu, pemerintah China memiliki fleksibilitas fiskal yang lebih besar dan kemungkinan akan lebih mengandalkan langkah-langkah fiskal untuk merangsang pertumbuhan," pungkasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






