Kebakaran Los Angeles Picu Krisis Perusahaan Asuransi California
WASHINGTON, investor.id – Kebakaran hutan mematikan di Los Angeles (LA) memicu krisis yang semakin dalam di sektor asuransi California, Amerika Serikat (AS). Bencana kebakaran yang telah berlangsung selama delapan hari ini telah menghancurkan ribuan bangunan.
Lebih dari 37.000 hektare (Ha) lahan terbakar sejak Selasa (7/1/2025) malam waktu setempat di berbagai wilayah Los Angeles. Api dari kebakaran hutan dilaporkan menyebar dengan cepat karena tiupan angin kencang. Hingga Selasa (14/1/2025), diperkirakan lebih dari 12.000 bangunan rusak atau tidak dapat digunakan akibat kebakaran hutan tersebut.
Kerugian ekonomi yang diperkirakan dapat mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2,4 kuadriliun. Tak hanya itu, jumlah korban tewas telah mencapai 24 orang hingga berita ini ditayangkan.
Para ahli memperingatkan perusahaan asuransi mungkin kesulitan untuk menanggung kerusakan yang luas akibat kebakaran hutan ini. Adapun perubahan iklim telah menyebabkan banjir, badai, dan kebakaran hutan di California. Negara bagian dengan populasi terbesar di AS ini merupakan rumah dari jutaan orang, membuat semakin sulit bagi pemilik rumah di daerah berisiko tinggi untuk mendapatkan atau membayar asuransi.
Perusahaan-perusahaan asuransi telah mengurangi penerbitan polis baru di daerah berisiko tinggi. Dalam beberapa kasus, pihaknya malahan tidak memperbarui polis yang sudah ada dan meninggalkan banyak pemilik properti tanpa perlindungan setelah bencana ini terjadi.
Tingginya jumlah pembatalan polis dan kelalaian perusahaan asuransi telah menarik perhatian luas.
Pemilik properti di daerah terdampak melaporkan perusahaan asuransi besar telah menarik perlindungan kebakaran sebelum kebakaran dimulai.
Wakil Presiden AS Kamala Harris juga menyoroti banyak perusahaan asuransi yang membatalkan polis, memperburuk kesulitan bagi keluarga-keluarga yang terdampak. Laporan menunjukkan sebanyak tujuh dari 12 perusahaan asuransi terbesar berdasarkan pangsa pasar telah menghentikan atau membatasi penerbitan polis baru di California.
Sebelum kebakaran hutan, sekitar satu dari setiap tujuh rumah di negara bagian itu memiliki polis asuransi kebakaran minimum. Namun, perusahaan asuransi membatalkan puluhan ribu polis untuk memastikan keberlanjutan keuangan mereka.
State Farm General, salah satu perusahaan asuransi rumah terbesar di California, pada Maret 2024 mengumumkan pihaknya tidak akan memperbarui polis asuransi untuk 30.000 pemilik rumah. Perusahaan asuransi seperti Chubb, anak perusahaannya, dan Allstate juga menghentikan penerbitan polis baru untuk rumah bernilai tinggi di daerah berisiko tinggi.
Akibatnya, banyak korban kebakaran hutan yang tidak memiliki perlindungan untuk kerugian mereka karena perusahaan asuransi gagal memperbarui polis sebelum bencana terjadi.
State Farm General pada 10 Januari melaporkan mereka mulai memproses sekitar 4.400 klaim asuransi rumah dan kendaraan, bahkan telah mengganti kerugian sebesar jutaan dolar kepada pelanggan mereka. Kerusakan properti yang luas akibat kebakaran hutan, ditambah dengan harga properti yang tinggi di California dan lingkungan asuransi yang tidak menentu, membuat penduduk sulit mengakses asuransi di masa depan.
Jumlah kerugian finansial akibat kebakaran hutan di kawasan LA masih dalam perhitungan. Namun para ahli menyarankan, bencana ini bisa menjadi yang termahal dalam sejarah AS, berpotensi mencapai miliaran dolar. Kerusakan terus meningkat karena kebakaran belum sepenuhnya dapat dipadamkan.
Total Kerugian
AccuWeather telah merevisi perkiraan awalnya mengenai total kerugian menjadi US$ 150 miliar, meningkat dari perkiraan sebelumnya yang lebih dari US$ 57 miliar atau sekitar Rp 927,3 triliun pekan lalu. Jonathan Porter selaku wakil presiden senior AccuWeather menyatakan total kerusakan dan kerugian ekonomi bisa mencakup hampir 4% dari produk domestik bruto (PDB) tahunan California.
Perkiraan tersebut mencakup penilaian menyeluruh tentang kerusakan, termasuk penghancuran rumah, infrastruktur, layanan, biaya evakuasi, biaya pembangunan kembali dan relokasi, pembersihan, pemulihan, kebutuhan tempat penampungan darurat, dan biaya medis.
Analisis JPMorgan memperkirakan kerugian yang diasuransikan akibat kebakaran hutan bisa melebihi US$ 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 325,38 triliun, dengan total kerugian yang diperkirakan akan terus meningkat selama kebakaran masih berlangsung. Perusahaan pemeringkat kredit Morningstar DBRS memperkirakan kerugian yang diasuransikan dapat melebihi US$ 8 miliar atau sekitar Rp 130,15 triliun, tergantung pada jumlah akhir properti yang terdampak.
Presiden AS Joe Biden pekan lalu mengumumkan pemerintah federal akan menanggung biaya selama enam bulan, dengan menggerakkan semua sumber daya yang tersedia untuk memerangi kebakaran hutan. Ia juga menyatakan pemerintah federal akan menanggung 100% dari biaya bencana ini.
Sementara itu, harga saham perusahaan asuransi mengalami penurunan karena reputasi mereka terdampak.
Saham Allstate turun 5,6%, Chubb turun 3,4%, Travelers turun 4,3%, American International Group turun 1,3%, dan Mercury General mengalami penurunan hampir 20% pada perdagangan Jumat (10/1/2025).
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

