Jumat, 15 Mei 2026

PDB China Tumbuh 5,4% Kalahkan Ekspektasi Pasar

Penulis : Grace El Dora
17 Jan 2025 | 12:35 WIB
BAGIKAN
Pembangun rel kereta api mendirikan balok kotak di lokasi proyek standar di depan bagian Huning dari jalur kereta cepat Shanghai-Nanjing-Hefei di Suzhou, Provinsi Jiangsu, China pada 10 Januari 2025. Costfoto/ Nurphoto/ Getty Images)
Pembangun rel kereta api mendirikan balok kotak di lokasi proyek standar di depan bagian Huning dari jalur kereta cepat Shanghai-Nanjing-Hefei di Suzhou, Provinsi Jiangsu, China pada 10 Januari 2025. Costfoto/ Nurphoto/ Getty Images)

BEIJING, investor.id – Aktivitas ekonomi China meningkat lebih dari yang diharapkan dalam tiga bulan terakhir pada 2024. penguatan ini seiring dengan diberlakukannya langkah-langkah stimulus, yang memungkinkan pemerintah China untuk memenuhi target pertumbuhan tahunannya.

Produk domestik bruto (PDB) China tumbuh sebesar 5,4% pada kuartal IV-2024, mengalahkan estimasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 5,0%. Angka ini juga melampaui 4,6% pada kuartal III-2024, 4,7% pada kuartal II-2024, dan 5,3% pada kuartal I-2024.

Sprint kuartal terakhir itu membantu mengangkat pertumbuhan PDB setahun penuh China menjadi 5,0% pada 2024, menurut Biro Statistik Nasional China pada Jumat (17/1/2025) yang sejalan dengan target resmi sekitar 5%.

ADVERTISEMENT

"Pergeseran sikap kebijakan pada September tahun lalu (2024, red) membantu ekonomi menjadi stabil pada kuartal IV-2024, tetapi itu membutuhkan stimulus kebijakan yang besar dan terus-menerus untuk meningkatkan momentum ekonomi dan mempertahankan pemulihan," ucap presiden dan kepala ekonom Pinpoint Asset Management Zhiwei Zhang mengatakan dalam sebuah catatan, seperti dikutip CNBC internasional, Jumat.

"Dampak buruk yang dibawa oleh lingkungan eksternal meningkat, permintaan domestik tidak mencukupi," demikian pernyataan biro statistik. Mereka menyerukan penerapan kebijakan makro yang lebih proaktif dan efektif.

Indeks unggulan China Daratan CSI 300 berbalik arah dan naik tipis 0,15%, mengikuti data yang optimis. Yuan lepas pantai China sedikit menguat menjadi 7,3398 per dolar AS, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun acuan turun 2 basis poin (bps) menjadi 1,638, menurut data LSEG.

Pertumbuhan tahun lalu lebih lambat dibandingkan dengan kenaikan 5,4% pada 2023, pascapandemi. Sebagai bagian dari revisi tahunan terhadap angka awal, biro statistik pada akhir Desember merevisi pertumbuhan PDB 2023 menjadi 7,4%, menurut perhitungan CNBC internasional dari data resmi.

Pada Desember 2024, penjualan ritel melonjak 3,7% dari tahun sebelumnya, melampaui perkiraan Reuters sebesar 3,5%. Output industri meningkat 6,2% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan ekspektasi 5,4%, yang menggarisbawahi ketidakseimbangan China antara produksi dalam negeri dan permintaan yang lemah.

Investasi aset tetap setahun penuh naik 3,2% pada 2024, lebih rendah dari proyeksi kenaikan 3,3% dalam jajak pendapat Reuters. Hambatan investasi real estat meningkat tajam hingga penurunan 10,6%, dibandingkan dengan periode Januari hingga November 2024.

Tingkat pengangguran perkotaan meningkat menjadi 5,1% pada Desember 2024 dari 5,0% pada bulan sebelumnya.

Pendapatan yang dapat dibelanjakan bagi penduduk perkotaan tumbuh sebesar 4,4%, lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, sementara pendapatan penduduk pedesaan meningkat sebesar 6,3% pada 2024.

Peningkatan Stimulus

Adapun pemerintah China telah berupaya keras untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan telah mengambil beberapa langkah untuk mencapai tujuan ini.

Sejak akhir September 2024, otoritas China telah menyerukan penghentian penurunan real estat, memangkas suku bunga. Pihaknya mengumumkan paket fiskal lima tahun senilai 10 triliun yuan (US$ 1,4 triliun) untuk meredakan krisis pembiayaan pemerintah daerah.

Para pemimpin puncak telah menjanjikan langkah-langkah fiskal yang dinilai proaktif dan sikap kebijakan moneter yang cukup longgar untuk tahun berjalan.

Beberapa analis memperkirakan stimulus mungkin mulai berlaku tahun ini, tetapi butuh waktu lebih lama untuk melihat dampak yang signifikan. Kemerosotan real estat dan ketidakpastian tentang pendapatan masa depan telah membebani belanja konsumen dan kepercayaan bisnis, menambah kekhawatiran deflasi.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 49 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia