Jumat, 15 Mei 2026

Swedia Hentikan Pendekatan Digital untuk Sistem Pendidikan, Ada Alasannya

Penulis : Grace El Dora
17 Jan 2025 | 18:29 WIB
BAGIKAN
Pada 2009 Swedia memilih untuk mengganti buku dengan komputer. Namun 15 tahun kemudian, negara itu mengalokasikan 104 juta euro untuk membalikkan arah. (Foto: Indian Defence Review)
Pada 2009 Swedia memilih untuk mengganti buku dengan komputer. Namun 15 tahun kemudian, negara itu mengalokasikan 104 juta euro untuk membalikkan arah. (Foto: Indian Defence Review)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah Swedia menghentikan pendekatan digital untuk sistem pendidikan di negaranya. Ternyata keputusan ini ada alasannya.

Pada 2009, Swedia memilih untuk mengganti buku dengan komputer. Setelah 15 tahun, negara itu mengalokasikan 104 juta euro untuk membalikkan arah kebijakannya. Di dunia di mana teknologi tampaknya menjadi pusat perhatian, sistem pendidikan Swedia mulai menghentikan pendekatan serba digitalnya.

Mereka membawa kembali buku teks cetak ke ruang kelas, menandai perubahan besar dalam cara mereka berpikir tentang pengajaran dan pembelajaran. Perubahan ini menyoroti kekhawatiran tentang bagaimana perangkat digital dapat memengaruhi pembelajaran dan pertumbuhan siswa.

ADVERTISEMENT

Sempat Beralih ke Digital

Pemerintah Swedia pada 2009 memodernisasi sekolah dengan mengganti buku teks lama dengan komputer dan perlengkapan digital lainnya. Idenya adalah untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang digerakkan oleh teknologi.

Pemerintah Swedia memperkirakan menggunakan komputer dan tablet akan membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah diakses. Secara bertahap, buku teks kertas menghilang karena versi digital tampak lebih murah dan lebih mudah beradaptasi untuk masa depan.

Tujuannya sangat jelas, yaitu membekali siswa dengan keterampilan yang mereka butuhkan di era teknologi tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, menjadi jelas perubahan ini bukannya tanpa kendala.

Masalah Mulai Menumpuk

Maju cepat lima belas tahun dan pemerintah Swedia berubah pikiran karena beberapa masalah besar muncul. Penelitian menunjukkan membaca di layar, terutama yang memiliki cahaya terang, dapat menyebabkan lebih banyak ketegangan mata dan kurang fokus dibandingkan dengan buku kertas.

Ditambah lagi, memahami apa yang Anda baca dan mengingatnya menjadi sulit saat Anda menatap layar.

Salah satu keluhan besar adalah betapa perangkat digital dapat mengganggu. Banyak siswa teralihkan oleh permainan atau menjelajahi web selama kelas alih-alih fokus pada pelajaran mereka.

Obsesi layar ini juga menimbulkan tanda bahaya tentang keterampilan sosial dan rentang perhatian di lingkungan sekolah. Orang tua dan guru cukup vokal tentang masalah ini. Mereka mengatakan, banyak orang tua khawatir tentang anak-anak mereka yang menggunakan komputer untuk hal-hal selain belajar.

Berinvestasi dalam Metode Lama

Demi mengatasi masalah ini, pemerintah Swedia menggelontorkan 104 juta euro atau lebih dari Rp 17,7 triliun untuk mengembalikan buku ke ruang kelas mulai 2022 hingga 2025.

Itu adalah sejumlah besar uang yang ditujukan untuk memastikan setiap siswa akhirnya mendapatkan buku teks kertas untuk setiap mata pelajaran. Uang tersebut juga akan digunakan untuk kampanye yang membantu sekolah beralih kembali ke cara belajar tradisional.

Ini bukan tentang membuang perangkat digital sama sekali, tetapi lebih kepada menemukan titik yang tepat di mana teknologi mendukung teknik belajar dasar, bukan mengambil alih sepenuhnya.

Mengambil Pelajaran

Pejabat Swedia telah memperhatikan penurunan keterampilan utama seperti membaca dan menulis di kalangan siswa, terutama karena mereka telah terpaku pada layar sejak mereka masih kecil. Pemerintah sekarang melihat ini sebagai langkah yang salah, karena menyingkirkan metode tradisional terlalu cepat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Mengembalikan buku tidak berarti mereka membuang teknologi ke luar jendela. Itu hanya berarti mereka akan menggunakan perangkat digital dengan lebih bijak mulai sekarang. Mereka masih bagus untuk memadukan gaya mengajar atau mendapatkan sumber daya daring, tetapi akan jarang digunakan untuk ke depannya.

Pilihan Swedia menyoroti betapa pentingnya menemukan keseimbangan dalam pendidikan, menjadi suatu hal yang relevan di seluruh dunia karena sekolah di mana pun mencoba memadukan teknologi dengan fondasi pendidikan yang kokoh.

Setelah negara Nordik ini kembali ke metode tradisional, hal ini merupakan tanda peringatan sekaligus contoh bagi negara lain yang mencari keselarasan antara inovasi dan tradisi dalam sistem pendidikan di seluruh dunia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 47 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 49 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia