Jumat, 15 Mei 2026

Ekonomi China Tumbuh pada Kuartal IV-2024, namun Ada Perlambatan

Penulis : Grace El Dora
18 Jan 2025 | 22:00 WIB
BAGIKAN
Pembeli melewati toko Huawei Technologies Co. di Nanjing East Road di Shanghai, China, pada Rabu (2/10/2024). (Foto: Qilai Shen/ Bloomberg/ Getty Images)
Pembeli melewati toko Huawei Technologies Co. di Nanjing East Road di Shanghai, China, pada Rabu (2/10/2024). (Foto: Qilai Shen/ Bloomberg/ Getty Images)

Kang Yi mengatakan, sektor properti China juga sedang pulih yang ditunjukkan dengan kenaikan harga jual properti baru di 23 dari 70 kota besar pada Desember 2024. Sementara itu, peran pendorong pertumbuhan baru seperti dalam teknologi digital terus berkembang.

Pengenalan paket kebijakan yang tepat waktu, menurut Kang Yi, efektif meningkatkan kepercayaan masyarakat. Khususnya untuk mendorong "rebound" ekonomi yang nyata meski tidak mudah, karena pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II-2024 dan kuartal III-2024.

Sejak akhir September 2024, pemerintah China telah memangkas suku bunga dan mengumumkan paket fiskal lima tahun senilai 10 triliun yuan (US$ 1,4 triliun sekitar Rp 22 kuadriliun) untuk meredakan krisis pembiayaan pemerintah daerah.

ADVERTISEMENT

Pemerintah China juga telah memperluas program bagi konsumen untuk menukar mobil bekas dan peralatan rumah tangga, serta membeli barang rumah tangga baru dengan harga diskon.

Total PDB yang mencapai lebih dari 134 triliun yuan (sekitar US$ 17 triliun atau sekitar Rp 270 kuadriliun) itu, ungkap Kang Yi, menunjukkan fondasi ekonomi China lebih kokoh, kondisinya lebih baik, motivasi lebih memadai, dan kemampuan untuk menahan risiko lebih kuat.

Kang Yi menyebut pemerintah memprioritaskan untuk meningkatkan konsumsi mengingat kemampuan konsumen untuk berbelanja masih lemah.

Namun, tingkat pertumbuhan populasi China ada di posisi negatif yaitu -0,99 per seribu orang atau berkurang sebesar 1,39 juta orang di 31 provinsi dan daerah otonom di luar Hong Kong, Makau, dan Taiwan sehingga total penduduk China adalah 1,408 miliar orang.

Angka kematian di China pun meningkat menjadi 7,76% dari 7,1% sebelum pandemi. Dari jumlah tersebut, sebesar 310,31 juta (22%) adalah penduduk usia 60 tahun ke atas.

China juga menghadapi sejumlah ancaman dari luar untuk perekonomiannya. Khususnya tekanan dari presiden terpilih AS Donald Trump. Trump mengatakan, ia berencana untuk mengenakan tarif tambahan setidaknya 60% pada barang-barang China segera setelah menjabat.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia