NATO Memuji Trump yang Ancam Rusia dengan Sanksi
Sementara kelelahan perang telah meningkat di antara beberapa sekutu, perang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir dengan Rusia yang ingin memperoleh keuntungan. Ukraina pun mencegah kerugian teritorial lebih lanjut, menjelang kemungkinan perundingan damai.
Ketika ditanya tentang penilaiannya saat ini tentang perang antara Ukraina dan Rusia, kepala NATO Rutte menyampaikan komentarnya.
"Saat ini, perang tidak bergerak ke arah yang benar. Saat ini, (perang) tidak bergerak ke arah yang benar, (garis depan) seharusnya bergerak ke timur dan bergerak ke barat ... Kita harus mengubahnya, kita harus mengubah lintasan perang," tuturnya.
Hubungan Trump dengan aliansi militer Barat tampak sengit selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
Pemimpin Republik itu kerap mengecam negara-negara anggota NATO, khususnya negara-negara di Eropa. Trump menilai anggota aliansi itu tidak mematuhi target yang disepakati pada 2014 untuk membelanjakan setidaknya 2% dari produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan setiap tahun.
Menjelang masa jabatan keduanya, Trump mengisyaratkan perdebatan sengit mengenai pengeluaran militer. Trump berpandangan anggota NATO terlalu bergantung pada AS untuk keamanan mereka sendiri.
Pandangan seperti ini akan kembali menjadi agendanya. Ia mengatakan, pada Januari 2025 sebanyak 32 negara anggota NATO harus membelanjakan lebih banyak lagi untuk pertahanan.
"Saya pikir NATO harus memiliki 5% (sebagai target). Mereka semua mampu melakukannya, tetapi mereka harus berada di angka 5%, bukan 2%," ucapnya. Pada konferensi pers yang sama, Trupmp menolak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk merebut Terusan Panama atau Greenland, wilayah Denmark yang juga anggota NATO.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






