Perang Dagang II Meletus?
JAKARTA, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif baru terhadap barang impor dari Meksiko, Kanada, dan China. Tindakan Trump kemudian mendapat perlawanan keras dari Kanada, Meksiko, dan China.
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengumumkan penerapan tarif 25% untuk barang-barang Amerika Serikat (AS) senilai 155 miliar dolar Kanada atau setara Rp 1.736 triliun. “C$ 30 miliar mulai berlaku Selasa dan C$ 125 miliar dalam 21 hari,” tegas Justin Trudeau dalam konferensi pers, Sabtu (1/2/2025), seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan tarif sebesar 25% untuk produk dari Meksiko dan Kanada, serta tarif 10% untuk barang-barang asal China.
Namun, Trump menyebutkan kemungkinan pengecualian untuk minyak dari Kanada yang hanya dikenakan tarif 10%, sementara tarif lebih luas untuk minyak dan gas alam akan diberlakukan pertengahan Februari. Adapun pemberlakuan tarif 25% untuk semua barang dari Kanada dan Meksiko mulai Selasa (4/2/2025).
Kebijakan tarif Trump tersebut juga menuai reaksi keras dari Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum. Dia pun memerintahkan tarif pembalasan. Meksiko, menurut Claudia, sebenarnya lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi. Namun, Meksiko terpaksa merespons dengan cara serupa.
“Saya telah menginstruksikan menteri ekonomi untuk menerapkan rencana B yang telah kami kerjakan, yang mencakup tindakan tarif dan non-tarif untuk membela kepentingan Meksiko,” tulis Claudia Sheinbaum melalui unggahan di X, Sabtu (1/2/2025).
Meski demikian, sejauh ini, dia belum merinci barang-barang AS yang bakal menjadi target tarif balasan. Sebagai informasi, ekspor AS ke Meksiko mencapai lebih dari US$ 322 miliar pada 2023. Sedangkan AS mengimpor produk Meksiko senilai lebih dari US$ 475 miliar.
Sementara itu, Pemerintah China mengecam pengenaan tarif impor 10% oleh AS. Namun, seperti dilaporkan Reuters, China tetap membuka peluang untuk berunding dengan AS untuk menghindari konflik dalam perang dagang yang makin sengit.
Kementerian Keuangan dan Perdagangan China pada Minggu (2/2) menyatakan bakal menentang pengenaan tarif impor oleh AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). China juga siap melakukan tindakan balasan, namun belum ditentukan, sebagai respons atas tindakan AS. Tarif impor 10% terhadap China berlaku mulai Selasa (4/2).
Perang Dagang II
Kebijakan Donald Trump terkait tarif bea masuk (BM) impor ini bisa menyulut perang dagang II. Perang dagang bahkan bisa meluas, jika Trump menaikkan tarif BM impor dari negara-negara Uni Eropa.
Ketika itu terjadi, dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun bakal menguat. Dana-dana panas di pasar negara berkembang bakal kembali ke AS, yang dapat mengakibatkan pasar saham, obligasi, hingga mata uang negara yang terkait menjadi terpuruk.
Tingginya ketidakpastian global tersebut membuat rupiah sulit menguat. Pun, dengan pasar saham yang diprediksi masih berfluktuasi kencang selama semester I tahun ini. Para investor besar cenderung berhati-hati.
Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri mengatakan, AS akan berusaha mengejar kepentingan dengan berbagai cara yang perlu dilakukan, seperti menaikkan tarif BM impor atau melakukan sanksi ekonomi serta berbagai kebijakan ekonomi.
“Kita akan melihat bahwa kebijakan ekonomi sebagai senjata atau weaponisasi. Posisi geopolitik AS akan menjadi lebih penting lagi,” kata dia kepada Investor Daily.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa kebijakan proteksionis Trump dapat memicu perang dagang II. Hal itu berpotensi memperburuk fragmentasi perdagangan global.
IMF dan Bank Dunia, kata dia, memprediksi pertumbuhan ekonomi global jatuh hingga di bawah rata-rata, yaitu berkisar 2,7-3,1% selama 2025-2026. Selain itu, dinamika geopolitik dan tantangan perubahan iklim juga menjadi perhatian.
Eskalasi ketegangan geopolitik serta tekanan inflasi yang terus meningkat, menurut Nafan, dapat memicu stagnasi ekonomi, bahkan resesi jika tidak diatasi dengan kebijakan yang tepat. Dalam hal ini, solusi melalui forum multilateral untuk meredakan ketegangan perdagangan dan geopolitik menjadi sangat penting.
Meskipun dampak kebijakan Trump cenderung negatif di tingkat global, dia menilai bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjaga stabilitas atau bahkan memanfaatkan situasi tersebut.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






