Jumat, 15 Mei 2026

Ekonomi Korsel Melaju, PDB Per Kapitanya Menyalip Jepang

Penulis : Grace El Dora
3 Feb 2025 | 14:09 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi bisnis Korsel. (Foto: Yonhap/ Gettyimagesbank)
Ilustrasi bisnis Korsel. (Foto: Yonhap/ Gettyimagesbank)

SEOUL, investor.id – Ekonomi Korea Selatan (Korsel) kian melaju, kini menyalip produk domestik bruto (PDB) Jepang. Negara itu mencatat estimasi PDB per kapita sebesar US$ 36.024 untuk 2024 yang melampaui Jepang dan Taiwan, menurut data dari kementerian keuangan dan bank sentral Korsel (BoK) pada Minggu (2/2/2025).

Seperti dikutip kantor berita Yonhap, dasar kinerja yang tampaknya kuat tersebut adalah perbaikan dalam persyaratan perdagangan. Harga ekspor semikonduktor lebih tinggi, ditambah dengan harga impor bahan baku yang lebih rendah seperti minyak mentah sehingga mendorong produksi negara tersebut.

Hal ini menyebabkan kenaikan deflator PDB sebesar 3,8% tahun lalu, menjadi indikator inflasi yang lebih luas dibandingkan dengan indeks harga konsumen (CPI).

ADVERTISEMENT

Semakin tinggi angkanya, maka akan semakin besarlah PDB. Namun, kenaikan deflator PDB tidak selalu menunjukkan pertumbuhan aktual dalam jumlah barang dan jasa yang diproduksi, melainkan cerminan dari harga yang lebih tinggi.

Para ahli mengatakan peningkatan produksi sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga, faktor yang sangat diperburuk oleh kemerosotan ekonomi yang berkepanjangan pada tahun-tahun pascapandemi akibat pengetatan moneter yang cepat dan biaya pinjaman yang tinggi yang diakibatkannya.

Menurut Kementerian Ekonomi dan BoK, PDB per kapita Korsel untuk 2024 diproyeksikan sebesar US$ 36.024 dengan kenaikan US$ 454 atau 1,28%, dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.

Angka untuk Jepang dan Taiwan, menurut perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF), masing-masing adalah US$ 32.859 dan US$ 33.234.

Produksi yang tadinya solid diimbangi oleh penurunan mata uang Korea terhadap dolar AS sebesar hampir 60 won secara tahunan (YoY). Jika mata uang tersebut tetap pada 1.305 won per dolar pada 2023, angka tersebut akan naik menjadi US$ 37.641.

Pemerintah memperkirakan PDB Korsel untuk 2025 akan naik sedikit lagi menjadi US$ 37.441. Pihaknya memperkirakan estimasi tingkat pertumbuhan nominal tahun ini sebesar 3,8% dengan asumsi nilai tukar tetap pada level yang sama seperti tahun lalu.

Angka Korea pertama kali melampaui US$ 30.000 pada 2016. Sejak itu, angka tersebut naik menjadi US$ 35.359 pada 2018, sebelum merosot ke US$ 33.594 pada 2020 karena pandemi Covid-19.

Angka tersebut meningkat ke puncaknya di US$ 37.503 pada 2021. Laju ini didukung oleh berbagai langkah pemerintah untuk meningkatkan konsumsi sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi, pelonggaran mandat pembatasan sosial, dan pertumbuhan ekspor yang kuat, menurut pemerintah.

Mantan ekonom di Citibank Korea dan KB Securities Chang Jae-chul mengatakan harga ekspor yang lebih tinggi dapat membantu meningkatkan PDB nominal. Tetapi ini terjadi hanya jika pendapatan tambahan dari ekspor tersebut didistribusikan ke seluruh perekonomian, yang jelas bukan masalahnya.

“Pendapatan ekspor yang lebih tinggi dapat menghasilkan ekonomi yang lebih kuat secara keseluruhan, yang pada gilirannya dapat memperkuat pasar kerja dan pertumbuhan upah yang sehat. Namun, hal itu membutuhkan waktu,” kata Chang.

Menurutnya, diperlukan anggaran tambahan hingga 30 triliun won (US$ 20 miliar) untuk meningkatkan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dan diperkirakan hanya akan mencapai potensi pertumbuhan sebesar 2%. Anggaran tambahan untuk sektor-sektor yang menjadi target dapat membantu meningkatkan ekonomi,” kata dia, lapor Yonhap.

Pemangkasan suku bunga utama oleh bank sentral sama pentingnya dengan itu, menurut Joo Won dari Hyundai Research Institute.

“Perlambatan ekonomi yang berkepanjangan harus diatasi dengan pelonggaran moneter, dinamika suku bunga yang diperumit oleh The Federal Reserve (The Fed Amerika Serikat) AS yang bersikap dengan bias pengetatan yang kuat. BoK akan menghadapi tugas yang berat untuk menyeimbangkan faktor-faktor dari dalam negeri dan luar negeri,” tambah Joo.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia