Jumat, 15 Mei 2026

Mantan Senior The Fed Didakwa Jadi Mata-mata Ekonomi untuk China

Penulis : Grace El Dora
3 Feb 2025 | 23:25 WIB
BAGIKAN
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, Amerika Serikat (AS) pada Minggu (12/1/2025). (Foto: Samuel Corum/ Bloomberg/ Getty Images)
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, Amerika Serikat (AS) pada Minggu (12/1/2025). (Foto: Samuel Corum/ Bloomberg/ Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Seorang mantan penasihat senior The Federal Reserve (The Fed) ditangkap pada akhir pekan lalu atas tuduhan ia berkonspirasi untuk mencuri rahasia dagang The Fed demi keuntungan China.

Data yang diduga dibagikan penasihat John Harold Rogers dengan rekan-rekan konspiratornya dapat memungkinkan China untuk memanipulasi pasar AS dengan cara yang mirip dengan perdagangan orang dalam, menurut Kantor Kejaksaan AS di Washington, Amerika Serikat (AS) seperti dikutip CNBC internasional, Senin (3/2/2025).

"Memperoleh pengetahuan awal tentang kebijakan ekonomi AS, termasuk pengetahuan awal tentang perubahan suku bunga dana federal, dapat memberi China keuntungan saat menjual atau membeli obligasi atau surat berharga AS," kata kantor tersebut, dikutip Senin. Jaksa mencatat China memegang sekitar US$ 816 miliar utang pemerintah AS.

ADVERTISEMENT

Dua orang yang diduga rekan konspirator Rogers adalah anggota aparat intelijen dan keamanan China yang menyamar sebagai mahasiswa pascasarjana di sebuah universitas di negara itu, kata jaksa.

Para konspirator itu diduga memberinya hadiah, mengatur dan membayar liburan pantai untuk Rogers, serta mengatur dan membayar tiket pesawat, penginapan, dan makanannya selama kunjungannya ke China tempat ia bekerja sebagai profesor paruh waktu di Universitas Fudan di Shanghai setelah pensiun dari The Fed.

Rogers adalah warga Vienna, Virginia berusia 63 tahun yang memiliki gelar Ph.D di bidang ekonomi. Ia didakwa di pengadilan federal Washington atas tuduhan konspirasi untuk melakukan spionase ekonomi dan membuat pernyataan palsu. Ia menghadapi hukuman maksimum 15 tahun penjara jika terbukti bersalah atas tuduhan spionase.

Rogers hadir di pengadilan Jumat (31/1/2025), di mana hakim pengadilan atas permintaan jaksa memerintahkannya ditahan sementara tanpa jaminan sambil menunggu sidang dakwaan dan penahanan yang dijadwalkan pada Selasa (4/2/2023).

Seorang juru bicara The Fed menolak berkomentar tentang penangkapan Rogers.

Jonathan Gitlen, pengacara Rogers, mengatakan bantahan kliennya. “Dr. Rogers membantah tuduhan sebagaimana tercantum dalam dakwaan. Dr. Rogers akan memberikan komentar lebih lanjut di lain waktu,” ujarnya.

Kasus tersebut diumumkan pada hari yang sama ketika Gedung Putih mengatakan Presiden AS Donald Trump akan mengenakan tarif pada China, serta pada Kanada dan Meksiko, pada Sabtu (1/2/2023).

Rogers bekerja sebagai penasihat senior di divisi keuangan internasional Dewan Gubernur Federal Reserve dari 2010 hingga 2021, kata Kantor Kejaksaan AS. Sebagai bagian dari pekerjaan tersebut, ia dipercayakan dengan informasi rahasia FRB, menurut jaksa penuntut.

Rogers sejak 2018 diduga mengeksploitasi pekerjaannya, kata jaksa.

“Dengan meminta informasi rahasia dagang mengenai kumpulan data ekonomi milik sendiri, pertimbangan tentang tarif yang menargetkan China, buku pengarahan untuk gubernur yang ditunjuk, dan informasi sensitif tentang Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ... pertimbangan dan pengumuman yang akan datang,” kata Kantor Kejaksaan AS.

FOMC bertanggung jawab untuk menetapkan suku bunga dana federal, suku bunga yang dibebankan bank satu sama lain untuk pinjaman jangka pendek. Keputusan FOMC tentang suku bunga tersebut dapat secara signifikan memengaruhi pasar keuangan AS.

Surat dakwaan tersebut menuduhnya menyebarkan informasi tersebut secara elektronik dari surel pribadinya, yang melanggar kebijakan Fed, atau mencetaknya sebelum bepergian ke China untuk bertemu dengan para konspirator.

“Dengan kedok mengajar ‘kelas,’ Rogers bertemu dengan para konspiratornya di kamar hotel di Tiongkok tempat ia menyampaikan informasi rahasia dagang yang sensitif milik FRB dan FOMC,” ungkap Kantor Kejaksaan AS.

Pada 2023 Rogers dibayar sekitar US$ 450.000 sebagai profesor paruh waktu di sebuah universitas China, menurut catatan surat dakwaan tersebut.

Asisten Direktur FBI yang Bertanggung Jawab atas kantor Washington David Sundberg melontarkan sebuah pernyataan.

"Partai Komunis China telah memperluas kampanye spionase ekonominya untuk menargetkan kebijakan keuangan dan rahasia dagang pemerintah AS dalam upaya untuk melemahkan AS dan menjadi satu-satunya negara adikuasa," ucapnya.

Sundberg diberitahu ia dipaksa keluar dari FBI, lapor NBC News pada Jumat, mengutip dua sumber penegak hukum senior. Kepergiannya merupakan bagian dari pembersihan eksekutif puncak FBI dan pimpinan kantor lapangan biro oleh pemerintahan Trump yang baru.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia