The Fed Terjebak di Posisi Netral, Tunggu Arah Kebijakan Trump
WASHINGTON, investor.id – Para pembuat kebijakan The Federal Reserve (The Fed) akhir-akhir ini mengatakan kebijakan "diposisikan dengan baik" untuk menyesuaikan diri dengan risiko naik atau turun arah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di masa mendatang. Namun, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menilai lebih akurat untuk mengatakan kebijakan The Fed terjebak dalam posisi tersebut.
Dengan banyaknya ketidakpastian yang beredar di ekonomi AS, satu-satunya hal yang benar-benar dapat dilakukan bank sentral saat ini adalah bersikap netral. Pihaknya memulai penantian yang mungkin lama untuk kepastian tentang apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Dalam beberapa minggu terakhir, kami tidak hanya mendengar antusiasme terutama dari bank, tentang kemungkinan perubahan dalam kebijakan pajak dan peraturan. Tetapi juga kekhawatiran yang meluas tentang kebijakan perdagangan dan imigrasi di masa mendatang," ucap Bostic dalam sebuah unggahan blog.
"Arus silang ini menyuntikkan lebih banyak kompleksitas ke dalam pembuatan kebijakan," tambahnya.
Komentar Bostic muncul selama minggu yang aktif untuk apa yang dikenal di Wall Street sebagai "Fedspeak", atau obrolan yang terjadi di antara pertemuan kebijakan dari Gubernur The Fed Jerome Powell, gubernur bank sentral, dan presiden The Fed regional.
Pejabat yang sering berbicara menggambarkan kebijakan sebagai posisi yang baik. Bahasa tersebut kini menjadi pokok pernyataan pascapertemuan. Namun, mereka semakin menunjukkan kehati-hatian tentang volatilitas yang berasal dari agenda perdagangan dan ekonomi agresif Presiden Trump, serta faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kebijakan.
Ketidakpastian kini menjadi tema yang semakin umum. Faktanya, Bostic memberi judul unggahan di blognya pada Kamis (20/2/2025) "Ketidakpastian Meminta Kehati-hatian, Kerendahan Hati dalam Pembuatan Kebijakan". Sehari sebelumnya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan suku bunga merilis risalah dari pertemuan 28-29 Januari 2025, dengan belasan referensi ke iklim ketidakpastian dalam dokumen tersebut.
Risalah itu secara khusus membahas tentang peningkatan ketidakpastian mengenai ruang lingkup, waktu, dan potensi dampak ekonomi dari kemungkinan perubahan pada kebijakan perdagangan, imigrasi, fiskal, dan peraturan.
Ketidakpastian memengaruhi pengambilan keputusan The Fed dalam dua cara. Antara lain dampaknya terhadap gambaran ketenagakerjaan, yang relatif stabil, dan inflasi, yang telah mereda tetapi dapat meningkat lagi karena konsumen dan pemimpin bisnis merasa khawatir tentang dampak tarif terhadap harga.
Tidak Mencapai Target
The Fed menargetkan inflasi sebesar 2%, sebuah tujuan yang masih sulit dicapai selama empat tahun terakhir.
"Saat ini, saya melihat risiko inflasi yang tetap berada di atas target cenderung meningkat," kata Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem kepada wartawan pada Kamis.
"Skenario dasar saya adalah inflasi terus mendekati 2%, dengan ketentuan kebijakan moneter tetap cukup ketat, dan itu akan membutuhkan waktu. Saya pikir ada potensi inflasi akan tetap tinggi dan aktivitas melambat. ... Itu skenario alternatif, bukan skenario dasar, tetapi saya memperhatikannya," ucapnya.
Hal yang penting dalam komentar Musalem adalah bahwa kebijakan berlaku pada sedikit restriktif, yang mana ia menganggap tingkat suku bunga dana federal saat ini antara 4,25%-4,5%. Bostic tidak terlalu eksplisit dalam merasakan perlunya mempertahankan suku bunga, tetapi menekankan ini bukan saatnya untuk berpuas diri. Ia mencatat, ancaman tambahan terhadap stabilitas harga mungkin muncul.
Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee, yang dianggap sebagai salah satu anggota FOMC yang paling tidak agresif dalam hal inflasi, lebih terukur dalam penilaiannya terhadap tarif dan tidak memberikan komentar dalam penampilan terpisah, termasuk satu di CNBC, tentang ke mana menurutnya tarif harus bergerak.
"Jika Anda hanya berpikir tentang tarif, itu tergantung pada berapa banyak negara yang akan dikenakan tarif, dan seberapa besar tarifnya, dan semakin terlihat seperti guncangan seukuran Covid, semakin Anda harus gugup," kata Goolsbee.
Banyak Risiko
Namun, secara lebih luas, risalah rapat Januari 2025 mengindikasikan The Fed sangat peka terhadap potensi guncangan dan tidak tertarik menguji kondisi dengan pergerakan suku bunga lebih lanjut.
Ringkasan rapat tersebut secara tegas mencatat anggota komite menginginkan kemajuan lebih lanjut terkait inflasi sebelum melakukan penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga dana federal.
Ada lebih dari sekadar tarif dan inflasi yang perlu dikhawatirkan.
Risalah tersebut menggolongkan risiko terhadap stabilitas keuangan sebagai penting, khususnya di bidang leverage dan tingkat utang jangka panjang yang dipegang bank.
Ekonom terkemuka Mark Zandi, yang biasanya bukan orang yang suka membesar-besarkan masalah, mengatakan dalam diskusi panel yang dipresentasikan oleh Peter G. Peterson Foundation. Ia khawatir tentang bahaya terhadap pasar obligasi AS senilai US$ 46,2 triliun.
"Menurut saya, risiko terbesar adalah kita melihat aksi jual besar-besaran di pasar obligasi. Pasar obligasi terasa sangat rapuh. Dealer utama tidak mampu mengimbangi jumlah utang yang belum dibayar," kata Zandi, kepala ekonom di Moody's Analytics.
Ada begitu banyak hal yang terjadi bersamaan sehingga menurut saya ada ancaman yang sangat signifikan pada suatu saat selama 12 bulan ke depan, kita akan melihat aksi jual besar-besaran di pasar obligasi, tambahnya.
Kecil Kemungkinan Pangkas Suku Bunga
Dalam iklim ini, katanya, kecil kemungkinan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga, meskipun pasar memperkirakan potensi penurunan setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps) pada akhir tahun. Itu hanya angan-angan mengingat tarif dan hal-hal tidak berwujud lainnya yang menghantui Fed, kata Zandi.
"Saya tidak melihat Fed memangkas suku bunga di sini sampai Anda merasakan inflasi kembali ke target. Perekonomian memasuki 2025 dalam posisi yang cukup baik. Rasanya performanya bagus. Seharusnya bisa bertahan menghadapi banyak badai. Namun, rasanya akan ada banyak badai yang datang," pungkasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






