Kamis, 14 Mei 2026

FBI Tuduh Peretas Korut Curi Aset Kripto US$ 1,5 Miliar

Penulis : Grace El Dora
3 Mar 2025 | 23:36 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi peretas. (Foto: Getty Images)
Ilustrasi peretas. (Foto: Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – FBI menuduh peretas yang terkait dengan Korea Utara (Korut) melakukan salah satu pencurian mata uang kripto terbesar yang diketahui publik. Peretas Korut itu mencuri aset kripto dilakukan dengan menyita ethereum senilai sekitar US$ 1,5 miliar dari sebuah perusahaan yang berbasis di Dubai.

Pencurian awal bulan ini yang menargetkan Bybit, salah satu bursa kripto terbesar di dunia. Ini adalah pencurian lain yang melibatkan tim peretas yang diidentifikasi oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan nama TraderTraitor dan Lazarus Group.

“(Para peretas mencuri mata uang kripto) melalui penyebaran aplikasi perdagangan mata uang kripto yang dimodifikasi untuk menyertakan malware yang memfasilitasi pencurian mata uang kripto,” ungkap FBI seperti dikutip Associated Press, Senin (3/3/2025).

ADVERTISEMENT
FBI Tuduh Peretas Korut Curi Aset Kripto US$ 1,5 Miliar
Ilustrasi peretas. (Foto: Getty Images)

Dalam pengumuman layanan publik daring pada pekan lalu, FBI mengatakan mereka yakin para peretas yang didukung Korut bertanggung jawab atas pencurian tersebut.

“Para pelaku TraderTraitor bertindak cepat dan telah mengubah beberapa aset yang dicuri menjadi Bitcoin dan aset virtual lainnya yang tersebar di ribuan alamat di beberapa blockchain. Diperkirakan aset-aset ini akan dicuci lebih lanjut dan akhirnya diubah menjadi mata uang fiat,” demikian tertulis dalam keterangan resminya, pekan lalu.

Media pemerintah Korut belum mengakui pencurian atau tuduhan FBI tersebut. Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa belum menanggapi.

Namun, peretas Korut telah mencuri sekitar US$ 1,2 miliar dalam mata uang kripto dan aset virtual lainnya dalam lima tahun terakhir, menurut badan mata-mata Korea Selatan (Korsel).

Hal ini merupakan sumber mata uang asing yang langka dan sangat dibutuhkan untuk mendukung ekonominya yang rapuh dan mendanai program nuklirnya dalam menghadapi sanksi PBB yang ketat dan penutupan perbatasan yang ketat oleh Korut selama pandemi virus corona.

Panel ahli PBB secara terpisah mengatakan sedang menyelidiki 58 dugaan serangan siber oleh Korut antara 2017-2023. Aksi kriminal ini mengakibatkan sekitar US$ 3 miliar dicuri. "Dilaporkan (untuk) membantu mendanai pengembangan senjata pemusnah massal negara itu," demikian jelas panel ahli tersebut.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 14 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 31 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia