Trump Ancam Hancurkan Gaza Bila Sandera Tak Dibebaskan
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan Gaza lebih lanjut, jika semua sandera yang tersisa tidak dibebaskan. Trump mengeluarkan ultimatum kepada para pemimpin Hamas untuk melarikan diri.
Dengan sangat mendukung Israel saat gencatan senjata hampir tercapai, Trump mengatakan dirinya "mengirimkan semua yang dibutuhkan Israel untuk menyelesaikan tugasnya". Sedangkan pemerintahannya mempercepat pengiriman senjata senilai miliaran dolar ke Israel.
"Bebaskan semua sandera sekarang, jangan nanti, dan segera kembalikan semua mayat orang-orang yang Anda bunuh, atau semuanya akan BERAKHIR bagi Anda," tulisnya di platform Truth Social miliknya, setelah bertemu dengan para sandera yang dibebaskan seperti dikutip AFP pada Kamis (6/3/2025).
"Ini peringatan terakhir Anda! Bagi para pemimpin, sekaranglah saatnya untuk meninggalkan Gaza, selagi Anda masih punya kesempatan," unggahnya.
Trump juga menegaskan akan ada dampak buruk bagi Gaza secara keseluruhan. Hampir seluruh penduduk telah mengungsi dari Jalur Gaza akibat kampanye militer Israel yang gencar sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
"Untuk Rakyat Gaza: Masa Depan yang indah menanti, tetapi tidak jika Anda menyandera. Jika Anda melakukannya, Anda MATI!" tulis Trump.
Komentarnya mengikuti peringatan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tentang "konsekuensi yang tidak dapat Anda bayangkan", jika Hamas tidak menyerahkan sandera yang tersisa yang disita dalam serangan 7 Oktober 2023.
Fase pertama gencatan senjata berakhir selama akhir pekan, setelah enam minggu relatif tenang yang mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Sementara Israel mengatakan ingin memperpanjang fase pertama hingga pertengahan April, Hamas bersikeras pada transisi ke fase kedua, yang seharusnya mengarah pada akhir perang secara permanen.
Namun, Israel telah meningkatkan tekanan tidak hanya dengan ancaman dengan menghentikan semua masuknya barang dan pasokan ke Gaza. Ia memperbarui pendekatan garis keras yang sebelumnya ditentang oleh pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Joe Biden.
"Hamas memang telah mengalami pukulan berat, tetapi belum dikalahkan. Misinya belum tercapai," kata kepala militer baru Israel Eyal Zamir pada Rabu (5/3/2025).
Pemerintah Prancis, Inggris, dan Jerman pada Rabu bersama-sama menyebut situasi kemanusiaan di Gaza sebagai bencana besar. Pihaknya mendesak Israel untuk memastikan pengiriman bantuan tanpa hambatan.
Sementara otoritas Afrika Selatan mengatakan, pembatasan bantuan Israel ke Gaza sejak akhir pekan sama saja dengan menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.
Pembicaraan dengan Hamas
Bahasa agresif Trump muncul setelah pihak berwenang AS mengonfirmasi pembicaraan langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Hamas. Utusan AS untuk urusan penyanderaan, Adam Boehler, membahas sandera Amerika.
"Lihat, dialog dan berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia untuk melakukan apa yang menjadi kepentingan terbaik rakyat Amerika adalah sesuatu yang menurut Presiden" benar, kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Pemerintah AS telah menolak kontak langsung dengan militan Palestina sejak melarang mereka sebagai organisasi teroris pada 1997. Namun Leavitt mengatakan, utusan sandera dalam perannya memiliki wewenang untuk berbicara dengan siapa pun.
Baik perwakilan kepresidenan AS dari Gedung Putih maupun perwakilan PM Netanyahu mengonfirmasi Israel telah diajak berkonsultasi terlebih dahulu mengenai pembicaraan tersebut.
Lima warga Amerika diyakini masih berada di antara para sandera. Empat dari mereka telah dipastikan tewas dan yang lainnya, Edan Alexander, diyakini masih hidup.
Serangan Hamas mengakibatkan kematian 1.218 orang, sebagian besar warga sipil. Sementara itu pembalasan militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 48.440 orang, sebagian besar juga warga sipil, menurut data dari kedua belah pihak.
Dari 251 tawanan yang ditawan selama serangan Hamas, sebanyak 58 orang masih berada di Gaza, termasuk 34 orang yang telah dikonfirmasi tewas oleh militer Israel.
Keraguan Terhadap Rencana Arab
Trump telah mengajukan usulan untuk mengambil alih Jalur Gaza dan menggusur penduduknya, sebuah gagasan yang telah menuai kecaman luas di seluruh dunia. Para pemimpin Arab telah mencari dukungan untuk rencana alternatif yang mereka ajukan yang akan membiayai rekonstruksi Gaza melalui dana perwalian.
Sebuah draf rencana yang dilihat oleh AFP menguraikan peta jalan lima tahun dengan banderol harga US$ 53 miliar, kira-kira jumlah yang diperkirakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk rekonstruksi Gaza. Tetapi angka tersebut tidak disertakan dalam pernyataan akhir pertemuan puncak tersebut.
Pertemuan puncak tersebut juga menyerukan perwakilan terpadu di bawah Organisasi Pembebasan Palestina untuk menyingkirkan Hamas.
Peneliti kebijakan senior di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri bernama Hugh Lovatt mengatakan rencana baru itu jauh lebih realistis daripada apa yang diusulkan pemerintahan Trump dalam hal dapat dioperasionalkan.
Namun, analis politik Palestina dan mantan menteri Otoritas Palestina Ghassan Khatib skeptis hal itu dapat terjadi secara realistis, mengingat kurangnya rincian tentang pendanaan dan rintangan politik yang akan dihadapinya.
"Tidak masuk akal untuk mengharapkan Israel membatalkan rencana Trump dan mengadopsi rencana orang-orang Arab. Tidak mungkin," tukasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






